jurnalistik.co.id – Petugas pemadam kebakaran dan relawan hampir sebulan berjuang di garis depan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Hawa panas serta kabut asap yang muncul setiap hari membuat kondisi kesehatan mereka perlahan menurun.
Di Liang Anggang, para petugas dan relawan menghadapi api yang pada beberapa momen terlihat mendekati pemukiman dan jalur Trans Kalimantan. Situasi itu membuat kerja pemadaman berlangsung intens, sementara paparan asap terus terjadi selama berhari-hari.
Hendra, salah satu relawan yang bertugas memadamkan api, mengatakan kesehatannya sempat jatuh setelah beberapa hari terlibat pemadaman. Pada Rabu (19/8/2026), ia bersama petugas pemadam dan relawan lainnya sedang berjibaku memadamkan api.
Tiba-tiba, Hendra merasakan dada nyeri serta kesulitan bernapas. Menurutnya, ia kemudian harus dibantu pernapasan menggunakan tabung oksigen di lokasi.
“Sebelumnya saya sempat drop saat pemadaman, sampai harus dibantu oksigen di lokasi karena batuk dan sesak napas,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Jumat (21/8/2026).
Setelah kejadian tersebut, Hendra melanjutkan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut. Ia menuturkan, langkah pemeriksaan dilakukan karena gangguan kesehatan yang dialaminya.
Hendra baru kemudian mendapat hasil bahwa kondisinya aman. Tiga hari setelahnya, ia menyampaikan fisiknya dipastikan tidak bermasalah, meski sempat terpengaruh selama masa pemadaman.
Meski demikian, ia juga diimbau untuk sementara waktu tidak terlibat dalam pemadaman karhutla. Pemeriksaan yang dilakukan, kata Hendra, mencakup pengecekan tekanan darah serta kondisi paru-parunya.
“Setelah diperiksa tekanan darah dan kondisi paru-paru, Alhamdulillah hasilnya aman. Kami juga diberi obat dan vitamin,” kata Hendra.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Yusuf, relawan lainnya yang bertugas memadamkan karhutla di Landasan Ulin. Ia menceritakan bahwa selama beberapa hari terlibat pemadaman, tubuhnya terasa lemas.
Berita Terkait
Yusuf menyebut gangguan yang ia rasakan muncul seiring lamanya aktivitas di lokasi. Dalam penuturannya, keluhan yang muncul berkaitan dengan paparan asap yang terus menyelimuti area.
“Batuk, sesak napas hingga mata perih. Itu yang kami rasakan,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, keluhan tersebut menjadi bagian dari pengalaman selama berada di garis depan pemadaman. Ia menggambarkan kondisi yang dialami sebagai keluhan pernapasan dan ketidaknyamanan pada mata.
Untuk membantu para petugas dan relawan pemadam, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Unit Pelayanan Krisis dan Epidemi Kesehatan Kalsel menerjunkan tim medis ke wilayah karhutla. Tim tersebut hadir untuk memberikan bantuan medis bagi mereka yang bertugas di lokasi.
Ahmad Rizky Anshari dari UPTD Pelayanan Krisis dan Epidemi Kesehatan Kalsel menjelaskan bahwa tim diterjunkan untuk memberikan dukungan kesehatan langsung. Ia mengatakan kehadiran tim medis merupakan bentuk perhatian terhadap para relawan yang sedang bekerja di lapangan.
“Kami datang sebagai bentuk solidaritas terhadap kawan-kawan relawan,” ujar Rizky kepada Kompas.com, Jumat.
Di tengah upaya pemadaman yang dilakukan hampir sebulan, cerita Hendra dan Yusuf menggambarkan bagaimana paparan panas dan kabut asap dapat memengaruhi kondisi fisik relawan. Sementara itu, dukungan tim medis menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapsiagaan serta membantu penanganan awal saat keluhan muncul.
Bagi para relawan, masa bertugas di lokasi karhutla bukan sekadar menghadapi api, tetapi juga menghadapi kondisi lingkungan yang terus berubah. Karena itu, pemeriksaan kesehatan dan penanganan medis menjadi langkah penting ketika gangguan pernapasan dirasakan selama pemadaman.
Menurut penuturan Hendra, pemeriksaan lanjutan juga dilakukan setelah keluhan dada nyeri dan sesak muncul, sebagai upaya memastikan tubuh benar-benar pulih dan tidak ada masalah lanjutan yang bisa mengganggu aktivitasnya. Pada tahap pengecekan itu, tim menilai kondisi kesehatan yang berkaitan dengan pernapasan.
Gambaran serupa datang dari Yusuf yang merasakan tubuhnya makin lemas seiring meningkatnya durasi paparan asap di lokasi. Keluhan seperti batuk, sesak napas, hingga mata yang terasa perih kemudian menjadi alasan pentingnya dukungan medis. Dengan adanya tim dari UPTD, relawan memperoleh pemeriksaan, serta obat dan vitamin, sekaligus arahan agar sementara tidak langsung terjun kembali ke pemadaman.












