jurnalistik.co.id – Pemerintah mengumumkan lokasi pembangunan rumah sosial dan terjangkau di Inggris untuk dekade berikutnya, sebagai respons terhadap krisis perumahan yang terus memburuk. Rencana tahap awal ini menargetkan 70.000 unit dalam program senilai £39 miliar.
Dana dialokasikan untuk Greater Manchester, West Midlands, West Yorkshire, South Yorkshire, North East England, dan Liverpool. Untuk London, pemerintah menyebut pendanaan sebesar £6 miliar, tanpa memerinci jumlah unit yang akan dibangun di ibu kota.
Pengumuman pada Senin itu menjadi bagian pertama dari rencana lebih luas membangun 300.000 rumah sosial dan terjangkau di seluruh negeri. Program besar tersebut dijalankan di bawah skema rumah sosial senilai £39 miliar.
Dalam rincian yang disampaikan, 60% dari rumah baru yang diumumkan diperuntukkan bagi skema sewa sosial. Sewa sosial berarti biaya unit sekitar setengah dari tarif sewa pasar, dengan kriteria ketat bagi pihak yang dapat mengajukan.
Perdana Menteri Andy Burnham menyoroti dampak krisis perumahan terhadap keluarga yang sedang menunggu rumah. Ia menyampaikan, “No child should be raised in a hostel room and no family should wait 10 years for a front door of their own. I have said from my first day in this job that everything starts with a good home.”
Seiring rencana pembangunan, data juga menunjukkan lonjakan jumlah warga yang hidup dalam akomodasi sementara. Data yang dirilis awal bulan ini memperkirakan 177.530 anak berada dalam kondisi nontetap di tempat tinggal sementara.
Natasha (22) adalah salah satu dari mereka yang menunggu hunian permanen. Ia bersama putranya, Zayd, tinggal di sebuah hotel di Milton Keynes selama empat bulan terakhir.
Natasha mengaku menghabiskan akhir masa kehamilan serta beberapa minggu pertama kelahiran anaknya di hotel tersebut. Ia mengatakan, ia tidak mengetahui pasti berapa lama ia harus tinggal, dan diberi tahu bahwa itu hanya sementara.
“I’m just scared when he gets older, when he starts crawling around, I can’t even allow him to crawl in such a place like that because it’s so dirty,” ujar Natasha. Ia menggambarkan kekhawatiran keamanan dan kebersihan ruang bersama bagi putranya saat mulai bergerak.
Menurut Natasha, saat ia masih hamil, kamarnya dipenuhi semut. Ia menyampaikan keluhan berulang kali hingga akhirnya dipindahkan ke ruang lain.
Namun, masalah tidak berhenti di situ. Meski Natasha memiliki kamar mandi sendiri, ia harus berbagi dapur dengan sekitar 60 penghuni hotel lainnya.
Ia mengatakan penghuni hotel berasal dari beragam latar, tidak hanya ibu dan bayi. Natasha menilai ia tidak selalu merasa aman saat menggunakan ruang bersama itu bersama Zayd.
Natasha menggambarkan pengalaman tinggal di hotel sebagai sesuatu yang menekan. Ia menyebutnya terasa “like a prison”.
Ia juga menambahkan bahwa pengunjung tidak diizinkan datang, sehingga teman dan keluarga sulit membantu mengurus anaknya yang baru berusia lima minggu. “I just want somewhere peaceful for him and calm. Somewhere nice where I can bring him up,” tuturnya.
Secara nasional, jumlah keluarga yang menunggu rumah sosial juga sangat besar. Pemerintah menyebut terdapat 1,34 juta rumah tangga dalam daftar tunggu perumahan sosial per Maret 2025, berdasarkan data pemerintah terbaru.
London mendapat porsi pendanaan terbesar, tetapi pemerintah tidak memaparkan angka spesifik berapa rumah yang akan dibangun di wilayah tersebut. Di sisi lain, pemerintah menyatakan lebih dari £16 miliar masih akan dialokasikan di luar London untuk melengkapi program 10 tahun.
Dinamika pelaksanaan: peran dewan dan asosiasi perumahan
Berita Terkait
Angela Rayner, Menteri Perumahan, menyebut sebagian unit bisa dibangun oleh dewan setempat (councils). Ia mengatakan bersama perdana menteri, “doing everything we can to get councils building once again”.
Burnham sebelumnya berjanji menghadirkan “the biggest council house building programme since the post-war period”. Pemerintah juga menyebut akan memberikan jutaan dana tambahan kepada councils untuk mendukung rencana pembangunan rumah.
Namun, pengumuman tersebut belum menjelaskan secara rinci bagaimana dana akan dibagi antara rumah milik dewan dan unit yang disediakan oleh housing associations. Ketiadaan kejelasan itu menjadi salah satu sorotan dalam implementasi kebijakan.
Dalam konteks sejarah, pada era 1950-an councils membangun hampir 200.000 rumah dewan baru setiap tahun. Meski begitu, separuh councils saat ini tidak memiliki atau tidak membangun rumahnya sendiri.
Pada periode 2024-25, rumah yang dibangun untuk sewa sosial tercatat sedikit di atas 12.000 unit. Angka itu disebut sebagai yang tertinggi sejak 2013-14.
Meski ada progres, organisasi seperti National Housing Federation dan lembaga bantuan bagi tunawisma sebelumnya sepakat bahwa setidaknya 90.000 rumah sosial perlu dibangun setiap tahun untuk memenuhi permintaan.
Respon kelompok bantuan dan evaluasi target pemerintah
Charlie Berry, manajer kebijakan di charity Shelter, menyatakan pengumuman itu belum menjawab skala masalah yang ada. Ia menyebut, announcement itu “not near the level we need to truly tackle that backlog and end homelessness”.
Walau begitu, Berry menilai ada perubahan yang positif. Ia menambahkan, pengumuman tersebut “a significant improvement”, dan menyatakan ia “love” Rayner untuk berkomitmen pada target berapa banyak rumah sewa sosial yang dibangun setiap tahun.
Di luar janji pembangunan, pemerintahan Partai Buruh juga menargetkan membangun 1,5 juta rumah pada 2029. Namun, sesuai pernyataan yang muncul, target tersebut dinilai belum tercapai.
BBC Verify melacak pencapaian target melalui data pemerintah tentang jumlah Energy Performance Certificates (EPC) yang dikeluarkan oleh setiap otoritas lokal. Setiap unit hunian baru, menurut hukum, wajib memiliki EPC, sehingga indikator ini dianggap cukup cepat untuk menilai rumah yang benar-benar dibangun.
Data EPC terbaru menunjukkan sekitar 203.000 rumah baru diserahkan di Inggris dalam 12 bulan hingga Juni 2026. Untuk mencapai target 1,5 juta rumah selama lima tahun, diperlukan setidaknya 300.000 rumah per periode agar target tidak meleset.
Sorotan oposisi: skema dinilai tidak segera memberi hasil
Sir James Cleverly, juru bayangan perumahan dari kubu Konservatif, menggambarkan pengumuman itu sebagai “sleight of hand”. Ia mengatakan rincian kecilnya menunjukkan rumah tidak harus diserahkan hingga 2039.
Cleverly menambahkan, “Fewer homes will be delivered than previous programmes in this Parliament as social rent is more expensive. Labour have scaled back their affordable housing programme and expect us to thank them for it.”
Konservatif juga menyatakan akan mengakhiri pemberian perumahan sosial bagi warga negara asing di Inggris jika memenangkan pemilu berikutnya. Mereka memperkirakan kebijakan itu “free up” 228,144 rumah untuk “British families”.
Pada Senin yang sama, Reform juga mengumumkan rencana serupa. Reform menyebut akan memprioritaskan pekerja yang lahir di Inggris dan berusia di bawah 35 tahun saat mengalokasikan perumahan sosial jika mereka masuk pemerintahan.
Shelter menilai kedua rencana itu tidak menyentuh akar persoalan. Lembaga tersebut menyatakan, “already strict rules on who can access social housing” dan menegaskan tidak ada satu pun dari rencana itu yang menjawab masalah mendasar yang membuat kebutuhan rumah terus meningkat.












