jurnalistik.co.id – Royal College of Psychiatrists menyatakan NHS gagal memberikan dukungan yang layak kepada korban pelecehan seksual anak ketika mereka mencari pertolongan saat dewasa. Dalam permintaan maaf publiknya, lembaga itu menyoroti mismanajemen dan diagnosis yang keliru selama puluhan tahun.
Permintaan maaf tersebut disampaikan para psikiater setelah evaluasi terhadap bagaimana layanan kesehatan jiwa menangani penyintas kekerasan seksual pada masa kanak-kanak. Mereka menilai, sebagian korban justru mengalami dampak yang makin buruk karena pendekatan layanan yang tidak sesuai kebutuhan trauma.
Menurut Royal College of Psychiatrists, tim kesehatan mental terlalu terfokus pada upaya mengobati gejala, tanpa menggali bagaimana pengalaman traumatis di masa lalu tetap memengaruhi kondisi pasien. Lembaga ini juga menyebut bahwa perbaikan dukungan memang terjadi, tetapi pelatihan dan investasi yang lebih baik tetap dibutuhkan.
Waktu layanan yang terbatas dan sistem yang terfragmentasi
Salah satu masalah terbesar, kata laporan tersebut, adalah layanan memiliki waktu yang terlalu sedikit untuk bertemu pasien. Akibatnya, proses yang seharusnya membantu korban membangun rasa aman dan keterhubungan terapeutik justru berlangsung singkat.
Dr Lade Smith, yang merupakan penulis dan mantan presiden langsung Royal College of Psychiatrists, menyampaikan rasa penyesalannya. Ia mengatakan “saya minta maaf” bahwa terlalu sering para korban mengalami “avoidable harm when seeking help” ketika mencari pertolongan.
Laporan itu juga menyebut bahwa perawatan yang diberikan kadang tidak tepat. Sebagian korban, menurut laporan, mengalami re-traumatisasi akibat penilaian berulang serta proses pengambilan riwayat yang berulang-ulang, dan tidak selalu dipercayai saat menceritakan pengalaman mereka.
Smith menilai kegagalan ini tidak hanya berada pada psikiater, melainkan pada keseluruhan sistem kesehatan mental. Ia menyebut layanan “services are so fragmented” dan sistem dibangun untuk memberikan episode perawatan yang singkat serta bersifat “short, discreet episodes of care”.
Dalam penilaiannya, psikiater tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun hubungan dengan pasien agar dukungan bisa diberikan secara memadai. Smith menambahkan bahwa pasien “lucky if they get eight sessions of therapy”, padahal “it could take eight sessions for a person just to disclose the abuse”.
Ia juga menekankan bahwa klaim dukungan tidak merata. Banyak orang yang akhirnya tidak sempat terlihat oleh layanan kesehatan mental karena layanan “so stretched”, sehingga korban yang membutuhkan bantuan tidak selalu mendapatkan ruang untuk ditangani.
Data dampak: tidak semua korban berani bercerita sejak dini
Laporan mengutip perkiraan bahwa hampir satu dari sepuluh orang dewasa di Inggris dan Wales pernah menjadi korban pelecehan saat masih anak. Trauma semacam itu meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan mental, termasuk penyalahgunaan alkohol dan obat, gangguan makan, self-harm, complex PTSD, kecemasan, serta depresi.
Banyak penyintas kesulitan untuk membicarakan pelecehan yang mereka alami. Royal College of Psychiatrists menyebut sekitar dua pertiga dari mereka tidak mengungkapkan pengalaman itu kepada layanan ketika sudah dewasa.
Satu dari lima orang juga tidak pernah mengungkapkan pelecehan tersebut. Bagi banyak penyintas lainnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun hingga mereka akhirnya bisa bersuara dan mencari dukungan.
Pengalaman Caroline Thompson: gejala dipahami keliru
Caroline Thompson, 65 tahun, menggambarkan bagaimana ia merasa dikecewakan oleh layanan kesehatan. Ia mengalami pelecehan psikologis dan seksual ketika masih anak, lalu kemudian membesarkan keluarga dan membangun karier yang sukses sebagai dokter spesialis THT.
Perubahan besar baru muncul ketika ia berusia 55 tahun. Ia mulai mengalami mimpi buruk yang menakutkan hingga tidak lagi mampu berfungsi karena kelelahan psikologis dan kurang tidur, sehingga akhirnya ia dirujuk ke layanan kesehatan mental.
Berita Terkait
Psikiater yang menanganinya menyatakan gejala yang ia alami tidak mungkin disebabkan oleh pelecehan karena keterlambatan ia mencari pertolongan. Dokter tersebut juga mempertimbangkan fakta bahwa Caroline tetap bisa membangun keluarga dan meraih karier yang sukses.
Caroline kemudian didiagnosis mengalami anxiety dan diberi obat antipsikotik. Ia menceritakan, “I had therapy for about a year and was then discharged. At that point I still didn’t understand what was happening to me and I still couldn’t function due to the nightmares and side-effects of the drugs. I had to give up the job I loved.”
Setelah itu, Caroline menjalani terapi privat bersama terapis yang mengkhususkan diri pada trauma masa kecil. Ia mengatakan bahwa dalam beberapa tahun berikutnya, kondisinya berangsur membaik.
Caroline juga menegaskan bahwa ia terkejut ketika pemaknaan atas ingatan traumatis tidak muncul lebih awal. Ia mengatakan, “It was astonishing to me that it was not understood that traumatic memories are buried in order for you to survive, and that those memories can surface years later. So any delay in presenting is quite normal.”
Kelompok kerja dan arah perubahan yang diminta
Permintaan maaf publik ini muncul setelah Royal College of Psychiatrists membentuk kelompok kerja yang melibatkan para ahli, dokter, serta penyintas kekerasan. Kelompok tersebut mencakup Caroline untuk meninjau perawatan NHS.
Pembentukan kelompok terjadi setelah layanan kesehatan mental melihat peningkatan jumlah orang yang datang mencari bantuan dalam satu dekade terakhir. Peningkatan itu, menurut laporan, dipicu oleh meningkatnya sorotan pada skandal pelecehan yang melibatkan sekolah, panti asuhan, dan institusi keagamaan, termasuk kasus kejahatan Jimmy Savile.
Royal College of Psychiatrists menyerukan sejumlah perubahan. Lembaga itu menyatakan akan mengembangkan materi pelatihan spesialis untuk psikiater, namun juga meminta pelatihan wajib bagi seluruh tenaga kesehatan mental mengenai pentingnya trauma-informed care untuk penyintas pelecehan seksual anak.
Mereka juga merekomendasikan adanya panduan nasional untuk mengenali dan merespons pengungkapan pelecehan seksual anak yang terjadi di masa lalu. Selain itu, laporan menuntut perombakan layanan agar mereka yang memerlukan dukungan bisa memperoleh pendampingan jangka panjang sesuai kebutuhan.
Apology yang dinilai berarti, tetapi harus berujung perubahan nyata
Gabrielle Shaw, chief executive dari National Association for People Abused in Childhood, menyebut permintaan maaf ini signifikan dan disambut baik. Namun ia menegaskan permintaan maaf harus diikuti “meaningful change”.
Menurut Shaw, “For too many adult survivors, mental health services have not felt like a route to safety or recovery.” Ia menilai layanan tersebut justru menjadi tempat lain di mana dampak trauma terlewat, atau penanganan yang diberikan “where the offered treatment was inappropriate.”
Shaw juga menyebut sebagian penyintas menghadapi ketidakpercayaan. Ia menilai sikap ini bisa “particularly damaging”, bahkan ketika trauma pada akhirnya diakui, sebagian orang lalu diberitahu bahwa kondisi mereka “too complex, unsuitable or outside the remit of available services.”
Respons dari NHS England
Seorang juru bicara NHS England menyatakan para korban dapat mengakses dukungan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu melalui sexual assault referral centres dan layanan konseling. Ia menambahkan informasi mengenai layanan tersebut tersedia melalui situs NHS.
Juru bicara itu juga menekankan urgensi dukungan yang bersifat spesialis dan peka terhadap trauma, terutama karena banyak penyintas pelecehan seksual anak mungkin tidak membicarakan pengalaman itu selama bertahun-tahun. Ia mengatakan, “It’s vital they know they can access specialist, trauma-informed support through the NHS.”
Selain itu, ia menyatakan ada langkah-langkah untuk memperkuat dukungan bagi anak-anak dan remaja. Juru bicara itu menyebut pelatihan tambahan sedang disediakan untuk tim dukungan kesehatan mental di sekolah dan perguruan tinggi.












