Internasional

Trump Ngomong Batasi Ekspor Diesel, Indonesia Siap dengan Strategi B50

×

Trump Ngomong Batasi Ekspor Diesel, Indonesia Siap dengan Strategi B50

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trump Ancam Batasi Ekspor Solar, Indonesia Aman Punya Senjata B50

jurnalistik.co.id – Amerika Serikat (AS) dan Rusia menjadi tumpuan pasokan diesel dunia, sehingga setiap sinyal kebijakan dari dua negara eksportir itu langsung dibaca pasar. Pada 2025, AS mencatat ekspor diesel terbesar dengan volume mencapai 1,26 juta barel per hari atau sekitar 15,4% dari ekspor global.

Setelah AS, Rusia berada di posisi berikutnya dengan ekspor sekitar 783.400 barel per hari atau 9,5%. Arab Saudi menyusul dengan angka sekitar 678.200 barel per hari atau 8,3%, sementara India dan Korea Selatan melengkapi lima besar dengan volume masing-masing lebih dari 500.000 barel per hari.

Jika digabungkan, lima negara eksportir terbesar menguasai sekitar 46,9% pasokan diesel global. Dominasi AS dan Rusia ikut memperlihatkan bahwa faktor produksi sekaligus kapasitas pengolahan memainkan peran penting dalam kestabilan pasokan.

AS punya daya olah besar

Besar pangsa ekspor AS ditopang oleh kapasitas pengolahan yang kuat. Per Januari 2026, AS memiliki 130 kilang yang beroperasi dengan kapasitas distilasi minyak mentah sekitar 18,2 juta barel per hari.

Diesel sendiri berperan luas dalam aktivitas ekonomi, mulai dari penggerak truk, alat berat pertanian, hingga kapal pengangkut barang. Karena itu, perubahan kebijakan ekspor dari pemasok utama berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga energi secara lebih cepat.

Trump dukung pembatasan, detail rencana berubah

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump pada 22 September 2026 menyatakan dukungan terhadap ide pembatasan ekspor diesel. Namun, sehari kemudian Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor selama 90 hari.

Rusia lebih dulu menerapkan pembatasan ekspor diesel pada Juli, lalu kebijakan tersebut diperpanjang hingga akhir September. Perpaduan sinyal dari AS dan langkah yang sudah berjalan dari Rusia membuat wacana ketatnya pasokan global menjadi semakin relevan.

Jika pembatasan diberlakukan atau diperpanjang, AS dan Rusia yang secara gabungan berkontribusi hampir seperempat ekspor diesel dunia pada 2025 dapat memperketat arus pasokan. Dampaknya bukan hanya terasa pada diesel, tetapi juga berpotensi merembet ke rantai produksi bahan bakar lain.

Eropa tetap perlu pasokan dari luar

Dalam pembagian berdasarkan kawasan, Eropa tercatat sebagai wilayah dengan ekspor diesel terbesar, yakni sekitar 2,90 juta barel per hari atau 35,3% dari total ekspor dunia. Asia-Pasifik berada di posisi kedua dengan ekspor sekitar 2,38 juta barel per hari atau 28,9%, disusul Amerika Utara sebesar 18,1% dan Timur Tengah 15,0%.

Namun, besarnya ekspor kawasan tidak selalu mencerminkan produksi domestik semata. Negara seperti Belanda, Singapura, dan Belgia disebut berfungsi sebagai pusat perdagangan serta re-export, di mana diesel impor disimpan, dicampur, lalu dikirim kembali ke negara lain.

Meski menjadi eksportir terbesar secara kawasan, Eropa masih berstatus net importir diesel secara keseluruhan. Wilayah ini tetap memerlukan pasokan dari AS, India, serta Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.

Manfaat jangka pendek dan risiko jangka panjang

Pembatasan ekspor dapat memberikan efek penahanan pasokan di pasar domestik dalam jangka pendek. Pada saat yang sama, kebijakan itu juga membawa risiko bila permintaan ekspor menurun.

Ketika permintaan ekspor berkurang, kilang-kilang AS berpotensi mengurangi tingkat pengolahan minyak mentah. Kondisi tersebut tidak hanya dapat menekan produksi diesel, tetapi juga berdampak pada bensin dan bahan bakar pesawat.

Dengan kata lain, pembatasan ekspor memang dapat menguatkan ketersediaan diesel di dalam negeri pada periode awal. Tetapi dalam jangka yang lebih panjang, pembatasan serupa dapat menekan produksi produk bahan bakar secara keseluruhan.

Indonesia mengurangi ketergantungan impor melalui biodiesel

Di sisi lain, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor solar melalui mandat biodiesel. Kementerian ESDM mencatat impor solar turun dari sekitar 8,3 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 5 juta ton pada 2025 seiring penerapan B40.

Pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter. Langkah tersebut disebut mampu menekan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.

Upaya itu kemudian dilanjutkan dengan implementasi B50 pada 2026, yaitu campuran 50% biodiesel berbasis sawit dan 50% solar. Pemerintah menargetkan kebijakan ini dapat menutup sisa kebutuhan impor solar yang sebelumnya masih berada di kisaran 3–4 juta kiloliter per tahun.

Implikasi bagi harga dan perdagangan energi

Dengan pergeseran komposisi bahan bakar, gejolak pasokan diesel global tetap punya efek terhadap Indonesia, terutama dari sisi harga energi dan dinamika perdagangan. Tetapi semakin besar porsi biodiesel domestik, semakin kecil pula paparan langsung terhadap risiko gangguan pasokan dari negara-negara eksportir utama.

Karena itu, sinyal pembatasan ekspor dari AS dan langkah yang sudah ditempuh Rusia menjadi variabel yang perlu diantisipasi, sementara kebijakan biodiesel dalam negeri berfungsi sebagai penyangga ketergantungan impor solar. Kombinasi keduanya akan menentukan seberapa rentan atau tahan Indonesia menghadapi perubahan ketersediaan diesel dan bahan bakar terkait di pasar global.