Internasional

Defisit Dagang RI dengan China Melebar ke US$21,20 Miliar, Surplus dengan AS

×

Defisit Dagang RI dengan China Melebar ke US$21,20 Miliar, Surplus dengan AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Defisit Dagang RI dengan China Makin Dalam, Untung dengan AS - Market

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia untuk periode Januari–September 2026. Dalam laporan tersebut, perdagangan Indonesia tercatat berada dalam posisi defisit pada sejumlah mitra dagang utama, terutama Tiongkok.

Untuk Tiongkok, defisit perdagangan RI mencapai US$21,20 miliar. Angka ini membesar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat US$14,27 miliar.

Dari sisi perbandingan tren, pelebaran defisit dengan Tiongkok menunjukkan perbedaan kinerja perdagangan yang semakin jauh dari tahun lalu. BPS mencatat kondisi ini menjadi yang terdalam jika dibandingkan dengan negara atau kawasan lain yang disebutkan dalam laporan.

Selain Tiongkok, Indonesia juga mengalami defisit dagang dengan Singapura sebesar US$7,03 miliar. Nilai tersebut meningkat dari defisit periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$3,51 miliar.

Defisit juga terjadi terhadap Austrasia senilai US$5,78 miliar. BPS menyebutkan defisit tersebut terus meningkat, dari US$4,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski defisit dialami pada beberapa mitra, neraca perdagangan kumulatif Januari–September 2026 tetap menunjukkan saldo positif. Hal itu disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, berdasarkan data BPS.

“Neraca perdagangan kumulatif Januari-September 2026 tercatat surplus US$10,61 miliar. Angka itu merosot dibanding periode yang sama tahun lalu US$33,54 miliar,” ujar Ateng, Senin (2/11/2026).

Dengan demikian, surplus yang tercatat pada periode Januari–September 2026 masih dapat dipahami sebagai hasil akumulasi dari komoditas yang memberikan kontribusi positif, meski secara keseluruhan angkanya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Penurunan surplus tersebut juga terlihat dari selisih besar terhadap capaian pada periode yang sama tahun lalu.

BPS mencatat surplus kumulatif terutama ditopang oleh komoditas nonmigas yang mencapai US$34,21 miliar. Namun, nilai surplus nonmigas itu mengalami penyusutan dibanding realisasi 2025, yang tercatat surplus US$47,4 miliar.

Di sisi lain, komoditas migas justru masih mencatat defisit. Periode Januari–September 2026 menunjukkan defisit migas sebesar US$23,60 miliar, lebih dalam dibanding defisit pada periode yang sama tahun lalu, yaitu US$13,86 miliar.

Rangkaian angka tersebut menegaskan bahwa perbaikan neraca tidak hanya ditentukan oleh satu jenis komoditas. Kinerja nonmigas yang tetap surplus harus berhadapan dengan tekanan dari migas yang mengalami defisit lebih besar.

Saat melihat negara penyumbang surplus terbesar, Amerika Serikat menjadi yang paling menonjol. Surplus perdagangan RI dengan AS tercatat US$14,26 miliar, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang sebesar US$13,35 miliar.

Indonesia juga mencatat surplus perdagangan dengan India senilai US$10,59 miliar. Angka ini meningkat dari surplus sebelumnya yang tercatat US$10,42 miliar.

Di posisi ketiga, surplus perdagangan juga datang dari Filipina. Nilainya tercatat US$6,48 miliar, meski mengalami penurunan dibanding surplus periode sebelumnya yang sebesar US$6,54 miliar.

Secara keseluruhan, gambaran neraca perdagangan barang Januari–September 2026 memperlihatkan pola yang berimbang namun tetap memiliki tekanan di beberapa titik. Di saat surplus kumulatif masih bertahan, pelebaran defisit dengan Tiongkok serta peningkatan defisit migas menjadi catatan penting dalam komposisi hasil perdagangan.

Dari sisi dinamika tahun ke tahun, BPS menunjukkan bahwa surplus kumulatif mengendur dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut sejalan dengan informasi bahwa nonmigas yang menyumbang surplus mengalami penyusutan, sementara migas mencatat defisit yang semakin dalam.

Meski beberapa mitra utama menunjukkan defisit, BPS menggambarkan bahwa gambaran besar neraca perdagangan tetap ditentukan oleh akumulasi lintas komoditas dan lintas negara. Dengan kata lain, tekanan dari pelebaran defisit pada sejumlah tujuan ekspor-impor tidak otomatis menghapus surplus kumulatif Januari–September 2026, selama kontribusi positif dari segmen tertentu masih mampu menopang hasil total.

Perubahan komposisi pada periode yang sama juga terlihat dari pergeseran antara nonmigas dan migas. Surplus nonmigas yang tercatat US$34,21 miliar tetap menjadi penopang, tetapi nilainya menyusut dari realisasi 2025 yang mencapai US$47,4 miliar. Pada saat yang sama, migas justru mencatat defisit yang makin dalam, yakni US$23,60 miliar, lebih besar dibanding defisit tahun sebelumnya US$13,86 miliar.

Dari sisi negara penyumbang surplus, Amerika Serikat tampil sebagai salah satu penahan penurunan, dengan surplus US$14,26 miliar yang masih lebih tinggi dibanding sebelumnya US$13,35 miliar. India juga berkontribusi melalui surplus US$10,59 miliar, naik dari US$10,42 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Filipina masih menyumbang surplus sebesar US$6,48 miliar, namun cenderung melemah dibanding surplus periode sebelumnya US$6,54 miliar, sehingga keseluruhan dinamika menegaskan adanya keseimbangan yang sekaligus menyimpan tekanan.