Teknologi

Pusat Data di Newport Menghadap Taman, Tetangga Khawatir Dampaknya

×

Pusat Data di Newport Menghadap Taman, Tetangga Khawatir Dampaknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Data centre in Newport that overlooks gardens concerns neighbours

jurnalistik.co.id – Di Newport, wilayah yang selama ini dikenal tenang, warga mulai menyoroti rencana pembangunan pusat data yang berada tepat menghadap taman dan area hunian. Seiring kebutuhan komputasi digital membesar, kekhawatiran juga menguat pada dampak lingkungan dan kenyamanan sehari-hari.

Pusat data adalah bangunan berisi komputer berdaya besar untuk menjalankan layanan digital, mulai dari perbankan daring hingga layanan streaming film. Di Inggris, jumlah pusat data disebut terus meningkat, seiring pertumbuhan kebutuhan akan daya pemrosesan yang terkait dengan AI.

Pemerintah Inggris mengklasifikasikan pusat data sebagai critical national infrastructure. Riset Senedd terbaru juga menyebut “most jobs in the UK” kini bergantung pada infrastruktur tersebut.

Namun, kekhawatiran warga tidak berhenti pada kebutuhan energi dan infrastruktur jaringan. Mereka menyoroti sumber daya yang diperlukan, termasuk listrik, kapasitas grid, dan penggunaan air, sekaligus dampaknya pada komunitas di sekitar lokasi pembangunan.

Di tingkat kebijakan, Zack Polanski dari Green Party di Inggris menyerukan “a freeze on the approval of new data centres”. Ia juga mengatakan pemerintah Inggris perlu memperketat aturan lingkungan dan memberi komunitas “more say”.

Di Newport, Amanda Young tinggal dekat salah satu bangunan besar dan menyampaikan perubahan yang ia rasakan di lingkungan rumahnya. “It used to be a nice, quiet area,” katanya, sebelum menambahkan bahwa karena semakin banyak pusat data yang datang, warga “kind of don’t know what they’re going to bring with them.”

Menurut Amanda, kekhawatiran utamanya mencakup kebisingan, dampak visual, dan kemungkinan pengaruh terhadap nilai rumah. “Whichever window you look out, you can see it,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa saat berada di ruang keluarga, bangunan tersebut “can actually see it there.”

Tetangga Amanda, Anthony, menyebut pembangunan pusat data “takes away the peace from the neighbourhood” karena suara dan meningkatnya lalu lintas. Ia menilai perubahan ini mengganggu ketenangan yang sebelumnya menjadi ciri kawasan tersebut.

Vantage Data Center menjawab kekhawatiran tersebut dengan menegaskan komitmennya pada “committed to being a good neighbour”. Dalam pernyataan mereka, perusahaan mengatakan bekerja “closely with local authorities” untuk “manage construction activity, including traffic, noise and lighting” serta memasukkan “measures designed to protect the local environment”.

Sementara itu, Newport City Council menyatakan bahwa dalam mempertimbangkan permohonan perencanaan, pihaknya berupaya memastikan dampak dapat diterima dari sisi biodiversity, light, noise, dan “construction traffic”. Pada tingkat yang sama, pemerintah daerah memandang penilaian dampak menjadi bagian dari proses perizinan.

Terkait rencana Vantage, kampus di Newport, Wales selatan, dikatakan akan mencakup tiga pusat dengan luas total 46 acres. Artinya, perubahan lingkungan bukan hanya bersifat sementara selama konstruksi, tetapi juga akan menjadi karakter permanen ketika fasilitas beroperasi.

Di Cardiff, perdebatan juga muncul dari proposal kampus pusat data di Llanrumney. Lokasinya berada di area Cardiff East Park & Ride yang mengantar penumpang menuju University Hospital of Wales, sehingga sebagian warga menilai fungsi transportasi tersebut terlalu penting untuk digantikan.

Sue Elias, pengguna layanan dan bagian dari upaya advokasi bersama serikat warga Acorn, menegaskan kekhawatirannya. Ia mengatakan “The park-and-ride is so important,” dan menyatakan ia memahami kebutuhan membangun pusat data, tetapi “there should be a pause” untuk mempertimbangkan lokasi yang paling bertanggung jawab.

Elias juga menolak penggantian yang dilakukan tanpa evaluasi memadai setelah pembangunan. “They shouldn’t just be put up and then worry about the consequences afterwards,” ujarnya.

Cardiff and Vale University Health Board (CVUHB) menyebut park and ride sebagai “essential transport link”. Mereka menambahkan bahwa pihaknya “committed to identifying a suitable and convenient alternative location.”

Kelompok lain di Cardiff turut menilai dampak lingkungan berpotensi lebih luas. Lizzie Bailey, yang tinggal di sekitar lokasi, menilai rencana tersebut sebagai “an environmental nightmare both for the wildlife and the local residents.”

Menurut Bailey, gangguan selama konstruksi bersifat sementara, tetapi dampak berikutnya dapat berlangsung lebih lama karena “the diesel generators, the noises, the cooling fans, things like that.” Ia membedakan perubahan sementara dan gangguan yang ia anggap berpotensi permanen.

Curtis Hall Ltd, perusahaan di balik rencana, menyatakan pengembangan tidak akan menekan infrastruktur energi maupun air. Mereka mengatakan proyek “not put a strain on the energy grid or water infrastructure”.

Perusahaan juga menyampaikan kebutuhan air dan drainase dikembangkan melalui konsultasi dengan Welsh Water, serta sambungan ke jaringan publik memerlukan persetujuan. Ini, kata mereka, “ensures our data centre can be accommodated without impacting the supply of water to residents’ homes.”

Terkait kebisingan, perusahaan menyebut ada “a detailed noise impact assessment” yang menyimpulkan lokasi “won’t have an adverse impact on the nearest homes in terms of noise, including at night”. Pemerintah kota Cardiff menyatakan proposal masih dalam proses pertimbangan dan “as with all planning applications” akan dinilai terhadap kebijakan perencanaan yang relevan serta pertimbangan perencanaan material.

Cardiff Council juga mengajak publik menyampaikan “comments, concerns or views” melalui proses konsultasi.

Secara nasional, jumlah pusat data di Inggris juga menjadi sorotan. Saat ini ada 568 pusat data yang terdaftar di Inggris, menurut data centre map, dan riset memprediksi jumlah itu bisa naik hampir seperlima dengan sembilan proposal di Wales.

Senedd Research menuliskan bahwa pusat data berpotensi membuka peluang, termasuk “jobs, investment, skills development and support for innovation”. Namun dokumen yang sama juga menyoroti “significant resource and policy questions” seperti permintaan listrik, kapasitas grid, penggunaan air, kebutuhan lahan, biodiversity, serta dampak pada komunitas lokal.

Ofgem melaporkan permintaan listrik dari proyek yang berupaya terhubung ke jaringan naik dari 41GW menjadi 125GW dalam setahun terakhir. Water UK memperkirakan pusat data menggunakan sekitar 6.6 million litres air setiap hari, setara dengan konsumsi 20,000 average homes.

Dalam beberapa analisis, Inggris bahkan disebut menjadi negara dengan pusat data terbesar ketiga setelah AS dan Jerman. Di tengah tren ini, Prof Alan Brown dari University of Exeter—penulis “Making AI Work for Britain”—meminta otoritas lebih terlibat dengan komunitas.

Brown mengatakan otoritas harus “a lot more engaged” dengan warga terkait pembangunan pusat data. Ia menambahkan bahwa jika keterlibatan itu “gets bypassed”, penduduk akan khawatir “they’re getting all of the pain and none of the benefit.”

Ia juga menilai komunikasi yang lebih baik bisa membuat warga lebih fleksibel. “I think right now, there’s a lack of communication around that,” ujarnya.

Sementara itu, Friends of the Earth menyerukan jeda di seluruh Inggris untuk semua pusat data baru. Kierra Box mengatakan mereka meminta “that pause until there are clear rules set out on how much energy and water data centres can use, to make sure they’re not sucking up our much-needed renewables and our clean water.”

Di sisi pemerintah, Inggris menyatakan banyak pusat data terbaru “already using advanced cooling systems that significantly reduce water consumption”. Pemerintah juga menyebut sektor pusat data beroperasi di bawah Climate Change Agreement untuk mendorong penerapan langkah efisiensi energi yang lebih luas.

Selain itu, pemerintah Inggris menyatakan aplikasi perencanaan pusat data diwajibkan mempertimbangkan dampak pada komunitas dan lingkungan. Pemerintah juga menegaskan akan mendukung pengembangan pusat data dengan membangun “unprecedented amounts of clean power”, sementara AI Growth Zones mendukung pembangunan di area yang memiliki akses energi bersih.

Pemerintah Wales mengakui bahwa pusat data bersifat “energy intensive”. Mereka mengatakan pengembangan baru perlu menggunakan teknologi untuk meminimalkan konsumsi energi dan sumber daya.

Menurut pemerintah Wales, setiap pengajuan pengembangan tetap tunduk pada sistem perencanaan dan regulasi lingkungan yang ada, dengan “robust checks and balances” agar dampak lingkungan dan komunitas dipertimbangkan dengan benar sebelum izin diberikan. Pemerintah Wales juga menyebut investasi pada pusat data berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru, mendukung pekerjaan yang terampil, dan memperkuat daya tarik Wales sebagai tujuan utama investasi digital lanjutan.