jurnalistik.co.id – Keluarga-keluarga yang terdampak banjir kilat di wilayah perbatasan Nepal–Tibet masih menunggu kabar saat air bercampur lumpur menghantam permukiman mereka. Sejumlah penyintas menceritakan bagaimana orang-orang terdekat lenyap terseret arus tepat di depan mata.
Menurut laporan dari otoritas dan penuturan warga, lebih dari 160 orang meninggal dunia dan sekitar 800 lainnya hilang setelah banjir menyapu desa-desa hingga hancur pada hari Rabu. Guncangan dengan kekuatan besar membuat seismolog pada awalnya sempat mengira kejadian itu sebagai gempa.
Kamis, para penyelamat bergerak menembus lumpur tebal dan reruntuhan sambil membawa bantuan serta perlengkapan darurat ke area yang terkena dampak. Di balik upaya evakuasi itu, duka mendalam masih melekat pada mereka yang belum menemukan jejak kerabatnya.
Hanyut di depan mata, tak ada jalan untuk menyelamatkan
Kalpana Malla, warga distrik Nuwakot, mengatakan anggota keluarganya tersapu banjir di depan matanya sendiri. Ia menyebut ayah, ibu, kakak, serta anak-anak dari kakak tersebut menjadi korban bencana itu.
Kalpana menjelaskan bahwa keluarganya tidak sempat menghindar karena derasnya arus datang tanpa memberi kesempatan. Menurutnya, banjir “mengambil semuanya”, sementara ia bersama putranya berhasil bertahan dengan naik ke atap sebuah rumah.
Namun, keberlangsungan hidup mereka tidak langsung disertai penjelasan yang masuk akal. “Kami selamat, tetapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana bisa terjadi,” ujarnya.
Putranya, Sugam Malla, turut menuturkan peristiwa tersebut dari sisi yang berbeda. Ia mengatakan sempat menarik tangan ibunya agar bisa bertahan, sebelum akhirnya putus kontak dengan ponsel keluarga.
Menurut Sugam, ia sempat memberikan telepon kepada sang saudari agar tetap bisa berkomunikasi, tetapi perangkat itu kemudian tidak lagi dapat dijangkau. Dari sana, Sugam mengaku kini sangat khawatir saudari yang menunggu kabar juga akhirnya tersapu arus.
Kerugian tak berhenti pada manusia
Goma Pandit juga menceritakan kehilangan yang meluas hingga harta dan penghidupan. Ia mengatakan kerbau peliharaannya serta seluruh hewan ternak lainnya hilang terbawa banjir.
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa lahan pertaniannya ikut tersapu, termasuk hasil simpanan yang menjadi tumpuan musim berikutnya. Ia menyebut “sepuluh karung” benih mustard, serta jagung dan lahan padi yang jumlahnya disebut “ton” ikut lenyap, hingga ia merasa tidak tersisa apa pun.
Di tempat berbeda, para keluarga yang menunggu kabar berkumpul di rumah sakit. Di TU Teaching Hospital, mereka memegang ponsel dengan harapan ada pesan atau panggilan dari orang yang hilang.
Salah satunya, Ram Khumari Shrestha, yang memperlihatkan ponselnya saat diwawancarai. Ia menyebut suaminya sedang bertugas mengemudi ke arah Rasuwa dan masih bisa berkomunikasi sampai pukul 8 malam pada hari sebelumnya.
Namun, saat pagi hari tiba, ia tidak bisa lagi menghubungi suaminya. “Teleponnya dimatikan,” kata Ram, menggambarkan kondisi yang membuatnya terus menunggu tanpa kepastian.
Mani Shrestha Bishwa juga bertahan di rumah sakit pada malam Rabu, berharap mendengar kabar dari saudara yang lebih muda, sepupu, paman, serta seorang teman. Ia terakhir kali menghubungi mereka pada pukul 8.30 pagi.
Persis waktu terpisah, tetapi kehilangan tetap datang
Seorang pemandu trekking, Sonam Dorjee, mengaku lokasi tinggalnya sempat terlewat sekitar satu jam dari bencana. Ia berangkat pukul 08.00 waktu setempat, lalu saat mengemudi menuju Kathmandu, ia mendengar suara banjir deras mengalir ke arah desanya.
Dorjee mengatakan suaranya terdengar seperti gempa. Ia kemudian mengetahui rumahnya runtuh, dan bahkan telah melihat foto kondisi bangunannya.
Menurut Dorjee, kakaknya, Dechen Tamang, masih dinyatakan hilang bersama suami kakaknya dan beberapa anggota keluarga lainnya. Ia menggambarkan banjir sebagai kejadian yang “mendadak dan menghancurkan”.
Ia juga menegaskan bahwa banyak penyintas kini harus menghadapi hidup tanpa rumah. Kebutuhan mendesak meliputi penyelamatan darurat dan evakuasi, bantuan makanan, tempat tinggal sementara, serta dukungan medis.
Di tengah menunggu informasi, Dorjee mengatakan ia terus berdoa agar kakaknya ditemukan dalam keadaan hidup. Ia menyampaikan harapan meski tipis, menyebut “sekitar 10%”, sembari berharap kemungkinan itu menjadi kenyataan.
Di Kathmandu, keterlibatan proses penanganan korban juga berlangsung melalui upaya medis dan pemindahan penyintas. Situasi ini memperlihatkan bahwa waktu pencarian masih berjalan, sementara keluarga-keluarga terus menahan cemas sambil menunggu kabar yang sangat ditunggu.












