jurnalistik.co.id – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan maskapai penerbangan perlu menjauhi ruang udara Rusia karena eskalasi operasi drone negaranya makin meningkatkan risiko penerbangan.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada para maskapai, Zelensky menegaskan bahwa ruang udara Rusia “secara efektif akan menutup” bagi penerbangan.
Ia menyampaikan peringatan itu dengan menargetkan maskapai yang masih menggunakan ruang udara Rusia, asuransi penerbangan, serta pihak yang tetap mengoperasikan bandara-bandar kunci di Rusia.
Zelensky berkata, “We want to warn every airline that uses Russian airspace, every insurer, everyone who still uses key Russian airports: the Russian sky is becoming completely dangerous.”
Menurutnya, banyak maskapai komersial negara Barat tidak terbang melewati Rusia akibat invasi Rusia yang sedang berlangsung ke Ukraina.
Sementara itu, penerbangan dari beberapa negara seperti China disebut masih menggunakan ruang udara Rusia.
Menanggapi komentar Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pernyataan tersebut merupakan “declaration of state terrorism”, seraya menegaskan Rusia akan terus melancarkan serangannya ke Ukraina.
Zelensky menjelaskan kenaikan risiko terutama berasal dari karakter ancaman yang dinilai berbeda dari serangan sebelumnya.
Ia menyebut, “Ukraine does not threaten civilian aviation as such – not a single civilian aircraft.”
Namun, Zelensky menambahkan bahwa situasi di langit Rusia berubah karena adanya operasi drone.
Ia mengatakan, “There will simply be drones in Russia’s skies on a scale that has to be taken into account,” dalam pidato video malamnya pada Selasa.
Dalam pidato itu, Zelensky juga menyatakan, “the war started by Russia is closing its skies”.
Peringatan tersebut ia arahkan kepada maskapai yang tetap menjalankan penerbangan menuju bandara-bandara Rusia, terutama yang berada di kota-kota besar seperti St Petersburg dan Moscow.
Di sisi lain, Zelensky menyampaikan konteks operasi Ukraina di wilayah Rusia dengan menyebut adanya serangan yang menarget fasilitas energi jauh di dalam wilayah Rusia, selain menyerang ritel besar.
Penilaian risiko penerbangan juga disampaikan oleh firma advisory keselamatan penerbangan, Osprey Flight Solutions, dalam pemberitahuan kepada klien.
Firma tersebut menilai mayoritas serangan drone dan rudal Ukraina kemungkinan terjadi dalam jarak 300 km (186 miles) dari perbatasan.
Tetapi, Osprey menambahkan bahwa serangan harian ke wilayah yang lebih jauh ke dalam Rusia dinilai hampir pasti tetap berlanjut sepanjang tahun ini.
Dalam alert tersebut juga disebut adanya kemungkinan nyata frekuensi serangan Ukraina meningkat dalam jangka pendek di wilayah yang lebih dalam di Rusia.
Berita Terkait
Osprey menuliskan bahwa “It is assessed that miscalculation and/or misidentification is likely in areas related to the Ukraine conflict.”
Pada saat yang sama, Putin berbicara kepada awak media saat menghadiri Konferensi Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Co-operation Organisation) di Kyrgyzstan.
Ia menyampaikan, “They are asking us to resume negotiations… but you don’t negotiate with terrorists.”
Komentar tersebut muncul saat serangan Rusia ke Ukraina terus berlanjut.
BBC melaporkan bahwa serangan berat pada Senin menewaskan 12 orang.
Militer Ukraina juga menyatakan persiapan untuk melaksanakan serangan “massive” pada stasiun pembangkit listrik Ukraina.
Putin mengakui bahwa serangan Ukraina telah merusak infrastruktur di dalam Rusia, tetapi ia menegaskan bahwa “only 10%” kilang minyak tersisa yang perlu diperbaiki.
Di wilayah Eropa, disebutkan bahwa maskapai dari China, Turki, serta negara-negara Teluk termasuk di antara yang menggunakan ruang udara Rusia.
Alasan yang disebut adalah penghematan waktu dan bahan bakar pada rute antara Asia dan Eropa.
Sementara itu, maskapai lain sebagian besar menghindari kawasan Eropa timur sejak dimulainya invasi skala penuh Rusia pada Februari 2022.
Ukraina sendiri telah menutup ruang udaranya bagi pesawat sipil sejak awal perang.
Dalam konteks keselamatan penerbangan, Otoritas penerbangan sipil PBB (UN) melalui badan khusus penerbangan juga disebut pernah mengambil keputusan.
Pada tahun lalu, lembaga penerbangan PBB menyatakan Rusia bertanggung jawab atas jatuhnya Malaysia Airlines Flight MH17 di bagian timur Ukraina pada Juli 2014.
Dalam insiden itu, 298 orang di dalam pesawat tewas ketika ditembak jatuh oleh rudal buatan Rusia.
Kremlin selalu membantah tanggung jawab atas bencana tersebut.
Tahun 2024, Putin juga disebut pernah meminta maaf kepada presiden Azerbaijan—negara tetangga—terkait jatuhnya pesawat komersial di ruang udara Rusia yang menewaskan 38 orang.
Dalam kesempatan itu, Putin menyatakan insiden “tragic incident” terjadi ketika sistem pertahanan udara Rusia sedang menangkis drone Ukraina.
Dengan latar itu, peringatan Zelensky tentang ruang udara Rusia kembali menempatkan risiko penerbangan sebagai isu yang meluas, tidak hanya bagi rute yang melewati wilayah Rusia, tetapi juga bagi pihak asuransi dan pengelola penerbangan yang masih beroperasi menuju bandara-bandara Rusia.












