jurnalistik.co.id – Josh Kerr kembali menatap rekor mile dunia dengan fokus yang nyaris obsesif. Ia menargetkan balapan 18 Juli di London Diamond League untuk mematahkan penanda sejarah Hicham El Guerrouj.
Atlet asal Skotlandia berusia 28 tahun itu menegaskan ambisinya bukan sekadar mengejar hasil cepat, tetapi merombak satu pencapaian yang sudah bertahan puluhan tahun. Rekor milik El Guerrouj berdiri selama 27 tahun, dan kini Kerr ingin membuatnya menjadi masa lalu.
Project 222 dan upaya memotong “satu per sejuta”
Tim Kerr menamai rencana mereka “Project 222”. Angka 222 merujuk pada estimasi target waktu yang harus dicapainya agar bisa menggeser rekor dunia mile tersebut.
Pendekatan yang dipakai bukan jenis persiapan sederhana. Menurut pemberitaan, detailnya masuk sampai hal-hal kecil yang biasanya luput dari sorotan, karena semuanya dipandang sebagai peluang memperbesar marjin kemenangan.
Di antaranya adalah pembuatan sepatu paku khusus (bespoke spikes) yang dirancang untuk memaksimalkan biomekaniknya. Ia juga menggunakan speed suit yang dibuat secara spesifik, dengan tujuan mendukung performa saat lomba berlangsung.
Selain perlengkapan, timnya juga mengatur lingkungan pemulihan dan ritme latihan. Fisioterapisnya bahkan “having his physio move in to his Albuquerque home” agar pendampingan bisa berjalan lebih intens dari hari ke hari.
Proses pemulihan pun dibuat sangat terukur, seperti ice baths dengan durasi yang tepat seperti yang direncanakan untuk race day. Semua elemen itu, menurut Kerr dan tim, dipetakan dan dipantau menjelang hari pertandingan.
“A well-orchestrated zoo” di ruang tidur dan rutinitas harian
Komponen persiapan yang juga menjadi sorotan adalah “altitude room”. Ruangan ketinggian itu disiapkan di kamar tidur Kerr, untuk menciptakan stimulasi yang diharapkan memberi keuntungan adaptasi.
Kerr menggambarkan suasana persiapan sebagai sesuatu yang hidup, seperti sirkus versi atlet elit. “A well-orchestrated zoo” adalah ungkapan yang dipakai Kerr untuk menjelaskan betapa kompleksnya kerja bersama timnya menjelang acara puncak.
Dalam hitungan hari menjelang London, orang-orang terdekatnya ikut menjadi bagian dari orkestrasi itu. Ia menyebut ayahnya John dan ibunya Jill, yang terbang dari Skotlandia untuk menginap bersamanya.
Menurut Kerr, semua proses persiapan tersebut didokumentasikan dalam bentuk hitungan mundur menuju momen besar. Ini bukan pendekatan yang berubah-ubah dari menit ke menit, tetapi dirancang agar setiap elemen memiliki peran yang jelas.
Keyakinan Kerr: “Everything’s going extremely smoothly”
Kerr juga menyatakan bahwa persiapan berjalan sangat mulus. Ia mengatakan, “Everything’s going extremely smoothly,” dalam wawancara kepada BBC Sport.
Ia menambahkan, “You know when you call your shot this far in advance, there’s a lot of things that can happen and we’re still three weeks or so out.” Kalimat itu menunjukkan bahwa rencana sudah disiapkan jauh hari, tetapi tetap ada variabel yang bisa muncul sebelum hari pertandingan.
Bagi Kerr, tantangan utamanya adalah mengelola hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Ia menutup bagian penilaiannya dengan, “It’s definitely on, I just need to handle the variables that are going to come my way and, with a little bit of luck on my side, I’m sure I’ll be in a really good spot.”
London sebagai penghormatan sejarah rekor mile
London dipilih Kerr bukan secara kebetulan. Ia menjadikan kota itu sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah rekor mile, termasuk tradisi atlet Inggris yang memecahkan batas-batas penting dalam cabang ini.
Dari masa lalu, rekor mile pernah dipecahkan oleh enam atlet Inggris dalam periode yang tercatat. Salah satu yang paling ikonik adalah Roger Bannister, yang melahirkan “legendaris pertama sub-four-minute mile” pada 1954.
Kerr ingin menjadi atlet ketujuh yang menuliskan namanya pada halaman sejarah rekor mile. Ia memang telah menjadi pelari tercepat dari Great Britain dan menempati peringkat keenam sepanjang masa dengan catatan 3 minutes 45.34 seconds dari dua tahun lalu.
“I want to be known as best miler in history”
Dalam penuturannya, Kerr berupaya merawat narasi besar yang ingin ia bawa ke atletik. Ia ingin lebih banyak perhatian pada olahraga ini, termasuk terhadap kepribadian, prestasi, dan persaingan di dalamnya.
Ia juga membandingkan fokus saat ini dengan pengalaman rivalitasnya sebelumnya, terutama hubungan yang ia bangun dengan rival 1500m, Jakob Ingebrigtsen. Namun kini, aturannya berubah karena target yang dihadapi adalah salah satu rekor terlama di cabang tersebut.
Kerr menyampaikan harapannya dengan kalimat, “I just want to put my name up against some of the best Brits in the history of the sport and I want to be known as the best miler in history.” Ia juga menambahkan bahwa ia sedang mencari “margins” dan akan membawa hasil itu ke rangkaian berikutnya.
Bagian kalimat yang ia ucapkan menggambarkan rencana berlapis: “It’s not easy. I’m doing everything I can to find my margins, take that into London, then spread that through into the Commonwealth Games. I’m hoping to have a pretty successful couple of weeks.”
Tim Skotlandia dan momen di Glasgow
Selain rencana London, Kerr juga memiliki agenda berikutnya bersama Commonwealth Games yang akan digelar di Glasgow. Ia memastikan diri bergabung dalam “Team Scotland” pada hari Jumat, setelah proses pemilihan yang sempat tertahan karena cedera.
Di Stadion Scotstoun pada 1 Agustus, Kerr akan kembali menjalankan lomba mile. Menariknya, ia akan berlomba di lintasan yang sama ketika ia pertama kali belajar berlari sebagai atlet junior.
Ia menyebut bahwa orang tuanya berada dekat dengannya saat ini, dan mereka sempat berbincang tentang kembalinya ia ke Glasgow serta ke Scotstoun. Kerr mengatakan, “My parents are here with me at the moment and we were talking about how fun it’s going to be to go back to Glasgow and to go back to Scotstoun.”
Ia melanjutkan, “The amount of times I’ve raced there and the memories I’ve got, it’s like proper full circle stuff so that will be really fun as well.”
Dengan rentang waktu yang ketat antara London Diamond League dan Commonwealth Games, Kerr memposisikan persiapan mile ini sebagai jembatan menuju rangkaian kompetisi berikutnya. Jika semua detail yang ia sebutkan benar-benar berjalan sesuai rencana, maka 18 Juli menjadi panggung yang sangat menentukan bagi upayanya meruntuhkan rekor dunia yang telah bertahan 27 tahun.

