jurnalistik.co.id – Ketika forensik mulai menelusuri kegagalan lain tim nasional Skotlandia melewati fase grup di ajang besar, Ian Wright justru mengajak publik menilai masalah yang lebih mendasar. Ia menilai sederet potensi yang belum terwujud di Skotlandia selama bertahun-tahun tak semata soal momen di lapangan.
Wright, mantan penyerang Inggris, menolak memperdebatkan hal-hal yang bersifat permukaan seperti PlayStation, papan “no ball games”, atau kenaikan biaya sewa lapangan. Dalam komentar yang ia sampaikan, ia menyerukan visi yang lebih berani dan menyebut ada pihak yang “membiarkan” Skotlandia tertinggal pada skala besar.
“bolder, braver vision”, kata Wright. Ia juga mengutarakan, “somebody is letting down Scotland on a massive scale”. Menurut penjelasannya, akar persoalan berkaitan dengan nilai kesepakatan siaran yang dinilai kurang, dan ini bertaut dengan bagaimana potensi sepak bola Skotlandia tidak berkembang seturut harapan.
Ia lalu menguji idenya dengan perbandingan ke tim dan liga di negara lain yang punya ukuran mirip. Wright menyoroti Norwegia, sebuah negara dengan populasi sekitar lima juta jiwa seperti Skotlandia, serta melihat hasil yang berbeda dalam perjalanan mereka menuju Piala Dunia 2026.
Menurut pemaparan Wright, Norwegia tidak tampil di Piala Dunia antara 1998 dan musim panas kali ini. Norwegia hanya sekali berlaga di Euro, yaitu pada 2000, sementara Skotlandia juga memiliki jeda panjang—mereka terakhir tampil sejak 1996 dan baru menembus fase lanjutan pada dua edisi terakhir setelah absen pada turnamen sebelumnya.
Wright menyebut generasi Norwegia kini diarahkan untuk mencapai babak knockout pada Piala Dunia 2026 untuk kali ketiga dalam sejarah mereka. Ia menautkan performa itu ke sosok seperti Erling Haaland dari Manchester City yang disebutnya sebagai figur kelas dunia, serta Martin Odegaard yang berperan sebagai pengatur permainan Arsenal.
Di sisi lain, Skotlandia disebut makin mungkin tersingkir lebih cepat. Dalam konteks turnamen yang sedang berlangsung, Skotlandia baru mengumpulkan tiga poin dari tiga laga fase grup mereka, sehingga peluang untuk lanjut dinilai makin menipis.
Wright juga mengaitkan perbedaan itu dengan kondisi kompetisi domestik. Ia menyatakan klub-klub Norwegia menarik rata-rata penonton domestik sekitar 6.000 sampai 7.000 penonton per pekan, sedangkan di Skotlandia angka itu bisa melonjak hingga sekitar 16.000.
Ia menyandarkan pernyataannya pada data Transfermarkt: rata-rata lebih dari 7.000 penggemar hadir pada pertandingan liga utama Norwegia setiap pekan selama musim 2025. Untuk Skotlandia, angka rata-rata pada pertandingan Scottish Premiership pada musim terakhir disebut sekitar 16.000, dengan catatan jumlah itu “banyak dipengaruhi” oleh keramaian yang dibawa Celtic dan Rangers.
Lebih jauh, Wright menyinggung temuan dalam sebuah laporan UEFA. Laporan itu, yang terbit pada September tahun lalu, menyebut bahwa untuk tahun ketiga berturut-turut, penggemar sepak bola di Skotlandia mencatat angka kehadiran pertandingan papan atas per kapita secara signifikan lebih tinggi dibanding liga mana pun di Eropa. Dari sudut pandang Wright, kombinasi antara angka penonton, bakat, serta kisah-kisah liga yang dimiliki Skotlandia seharusnya mendorong nilai siaran televisi yang lebih menguntungkan.
Norway mendapat nilai siaran lebih besar
Dalam kaitan itu, Wright mengungkapkan perbandingan nilai kesepakatan siaran. Ia menyebut bahwa “Norway have managed to get a broadcast deal that was £25m more a year than Scotland,” sebagaimana yang ia sampaikan di ITV.
Ia kemudian mengaitkannya dengan struktur kontrak siaran yang dimiliki sepak bola Skotlandia. SPFL, kata teks yang ia rujuk, menandatangani kesepakatan siaran senilai ÂŁ150m pada 2022. Kesepakatan itu mulai berjalan pada 2024 dan berlaku hingga 2029, sementara klub-klub Premiership disebut memperoleh sekitar ÂŁ30m per musim dari perjanjian saat ini.
Menurut target yang disebutkan, skema itu mengarah agar klub-klub papan atas Skotlandia mampu meraih ÂŁ50m per tahun pada 2029. Wright juga menyampaikan bahwa di Norwegia, media setempat melaporkan nilai paket hak domestik saat ini lebih dari ÂŁ50m per musim, dan dari 2029 nilai itu dilaporkan akan naik menjadi lebih dari ÂŁ60m.
Dari sinilah Wright menarik benang merah ke tim nasional. Ia berpendapat, pendapatan tambahan bagi klub akan memberi ruang lebih luas untuk memperbaiki infrastruktur, fasilitas, serta akademi di seluruh negeri. Ia juga menekankan situasi ketika tim-tim Skotlandia kerap kehilangan talenta muda ke klub-klub dengan sumber daya lebih besar—dan proses pemindahan itu, seperti yang disebut, terjadi “regularly from south of the border”.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa uang saja tidak cukup tanpa jalur yang jelas menuju kesempatan bermain di tim utama. Ia menyebut bahwa klub-klub Skotlandia didorong untuk memperbaiki hal tersebut, merujuk pada laporan dari Scottish FA yang memuat bahwa klub-klub di Skotlandia gagal menghadirkan cukup banyak pemain muda untuk menembus level tim utama.
Wright pada akhirnya menyatakan simpati pada Skotlandia dan para pendukungnya setelah satu generasi mengalami kesempatan yang terlewat. Komentarnya ia sampaikan sebelum Skotlandia bahkan memulai pertandingan grup terakhir mereka melawan Brazil, dan menurut teks tersebut, reaksi di media sosial menunjukkan bahwa ia tidak sendirian dalam menilai persoalan ini terlalu lama dibiarkan menggantung.





