jurnalistik.co.id – Josko Gvardiol memuji Enzo Maresca sebagai manajer yang ia nilai layak disebut “perfect one” untuk Manchester City.
Menurut bek asal Kroasia itu, pilihan City menunjuk pelatih baru bukan sekadar keputusan formal, melainkan membawa alasan yang jelas.
Maresca, yang ditugaskan menggantikan Pep Guardiola, kini memikul tugas besar setelah sang legenda “step down at the end of last season” usai satu dekade penuh trofi bersama The Citizens.
Gvardiol menilai transisi yang terjadi memang penuh tantangan, tetapi kebutuhan tim terhadap perubahan sudah mengarah ke sana sejak awal.
“The level is that high and he has been chosen with reason as the manager,” kata Gvardiol.
Ia menambahkan, Maresca membawa kualitas serta sejumlah gagasan baru, sekaligus harus ditelaah bagaimana gaya permainan yang akan diterapkan.
“I think he has a quality, has some new ideas and also we need to see what we are going to do [with] the style of [play], the football we are going to play and the tactics.”
Bagi Gvardiol, pujian itu tetap menuntut waktu proses agar semua penyesuaian bisa berjalan sesuai kebutuhan.
“I think he is a perfect one, but of course, it takes time. It’s something totally new, it’s not easy to change the manager, so we will take time.”
Ia menegaskan bahwa peran pemain adalah membantu pelatih baru semaksimal mungkin, sekaligus membuka ruang komunikasi untuk mempercepat adaptasi.
“It’s our job to help him as much as possible and also to listen to try to adapt as quick as possible.”
Gvardiol juga mengungkap pernah bertemu Maresca dan berdiskusi singkat sebelum latihan.
“I met him, we spoke a little bit about my injury [and] also how we played, how I played before with Pep, and that’s it, more or less.”
Penunjukan Maresca sendiri datang setelah ia menandatangani kontrak tiga tahun untuk meneruskan langkah Guardiola.
Dalam catatan kariernya, pelatih asal Italia itu pernah meraih gelar Championship bersama Leicester dan memenangkan Club World Cup bersama Chelsea.
Maresca kemudian menjalani debut pertamanya memimpin City pada laga persahabatan di akhir pekan, saat mereka kalah melalui adu penalti dari Inter Milan di Hong Kong.
Bagi Gvardiol, momen itu menandai awal dari proses yang masih harus terus dipahami bersama oleh seluruh tim.
“Some would say he could have told us earlier, some would say not,” ujar Gvardiol ketika membahas keputusan Guardiola yang sebelumnya ramai diperbincangkan.
Gvardiol juga menyebut Guardiola mengonfirmasi keputusannya pada pekan terakhir musim, sehingga dampak psikologisnya bisa lebih terjaga.
Ia menilai timing keputusan itu “perfect timing” karena pengumuman di akhir bisa mengurangi beban mental pemain bila disampaikan terlalu jauh sebelumnya.
“I think it was perfect timing because it can affect you mentally if he would have said it earlier.”
Menurutnya, mereka tetap menyadari Guardiola suatu saat harus menyampaikan rencana tersebut, mengingat ia sudah berada di City selama 10 tahun.
“We knew at some point he has to tell us. He has been here for 10 years and it is time to rest a little bit and retire.”
Berita Terkait
Gvardiol menambahkan, tanda-tanda itu terasa sejak lama.
“We could feel it.”
Ia juga mengulas dinamika musim terakhir, termasuk fase ketika City berada dalam kondisi “in between”.
“[The 2024-25 season] he was in between, about to leave, then he stayed – great because it was another season to try to win something.”
Gvardiol menyebut periode sebelumnya ketika City sempat kesulitan, termasuk catatan “13 games without winning” dua musim lalu.
“Two seasons ago we struggled, 13 games without winning.”
Meski mengakui sudah waktunya Guardiola pergi, ia tidak menutup kemungkinan masa depan sang pelatih kelak.
“Unfortunately it was time [for him] to go but who knows with him, maybe after six months when he gets the energy back.”
Musim lalu juga tidak sepenuhnya mudah bagi Gvardiol sendiri. Ia melewatkan lima bulan karena patah tulang di kaki kanan yang dialaminya pada Januari.
Setelah masa pemulihan, ia kembali bermain sebanyak dua kali pada bulan Mei.
Di level internasional, Gvardiol tampil di semua empat laga Timnas Kroasia pada Piala Dunia.
Kroasia kemudian tersingkir melalui kekalahan tipis di babak 16 besar menghadapi Portugal.
Ia menyinggung momen penentu ketika “a late equaliser ruled out by the video assistant referee” sehingga hasil akhir bertahan untuk Portugal.
Dalam pertandingan itu, Ruben Dias tampil untuk Portugal, sementara Rodri menjadi kapten Spanyol hingga meraih gelar Piala Dunia.
Gvardiol melihat dua nama itu sebagai kandidat pengganti peran kepemimpinan di Manchester City.
Ia juga menyebut perubahan skuad setelah Bernardo Silva hengkang ke Real Madrid karena masa kontraknya berakhir, sementara John Stones bergabung dengan Inter dengan status bebas transfer.
Gvardiol sendiri memilih memperpanjang komitmennya bersama City setelah menandatangani kontrak baru berdurasi lima tahun pada pekan lalu.
Ketika ditanya mengenai kelompok pemimpin di ruang ganti, ia menjawab dengan sikap hati-hati, namun tetap menegaskan arah yang perlu dibangun ke depan.
“It’s difficult to tell you about this but we need to see.”
Ia memposisikan Ruben sebagai salah satu tokoh kunci yang kemungkinan akan naik menjadi figur paling menonjol dalam waktu dekat.
“Ruben is one of the leaders in our team and he is probably going to be on the top now – maybe the most important one.”
Gvardiol menambahkan bahwa tim juga butuh sosok yang telah lebih lama berada di klub.
“He will need some guys who have been here for a longer time. So if that’s on me, I will take responsibility.”












