Entertainment

Sutradara sekuel The Wicker Man, Justin Hardy, meninggal pada usia 61 tahun

×

Sutradara sekuel The Wicker Man, Justin Hardy, meninggal pada usia 61 tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wicker Man sequel director Justin Hardy dies aged 61

jurnalistik.co.id – Justin Hardy, sutradara film asal Inggris yang menggarap sekuel dari karya ayahnya, Robin, dalam serial The Wicker Man, meninggal dunia pada usia 61 tahun.

Keluarga Hardy menyampaikan bahwa ia wafat pada Jumat malam setelah mengalami serangan jantung. Dalam keterangan tersebut, keluarga juga menilai Hardy sebagai pribadi yang hangat sekaligus kreatif sejak akhir hayat.

Hardy disebut sebagai “a man of family, of boundless creativity” dan “so full of life right to the end”. Pihak keluarga mengatakan mereka berduka dan merasa kehilangan, terutama karena Hardy tidak sempat menyaksikan film terbarunya dibuka ke publik.

Upaya Hardy melanjutkan warisan ayahnya sudah menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Robin, ayahnya, sebelumnya menyusun kisah The Wicker Man yang terbit pada 1973 dan kemudian dikenal sebagai klasik horor kultus.

Dalam The Wicker Man, cerita berpusat pada seorang polisi yang dikirim ke komunitas pulau terpencil di Skotlandia. Tugasnya adalah menyelidiki hilangnya seorang gadis setempat.

Hardy kemudian mengerjakan lanjutan yang berangkat dari gagasan serta materi yang disiapkan Robin. Ia menyelesaikan produksi “Wrath of the Gods”, yang diposisikan sebagai bab penutup trilogi The Wicker Man.

Wrath of the Gods dijadwalkan untuk tayang perdana di London pada bulan ini. Keluarga menyatakan mereka “heartbroken” karena Hardy tidak dapat melihat pembukaannya.

Hardy juga dikenal sebagai penulis dan sutradara yang pernah dinominasikan untuk Bafta dan Emmy. Profilnya meluas lewat karya-karya dokumenter yang menyoroti jejak dan warisan film ayahnya.

Pada 2024, Hardy membuat dokumenter Children of the Wicker Man bersama sang adik sekaligus saudara kandung, Dominic. Film tersebut mengulas warisan dari karya ayah mereka, The Wicker Man, sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan cerita.

Dari sisi karier di layar, Hardy tidak hanya berkutat pada tema keluarga dan horor. Ia juga menggarap film sejarah serta dokumenter untuk BBC, Channel 4, dan CNN, termasuk Princes In The Tower, Trafalgar Battle Surgeon, The Relief Of Belsen, serta Spanish Flu: The Forgotten Fallen.

Menurut keterangan yang disampaikan keluarga, mereka “devastated” atas kepergian Hardy. Dominic menggambarkan saudaranya sebagai sosok yang memiliki energi hidup yang besar.

Dominic menyatakan Hardy punya “an incredible appetite for life”. Ia juga mengungkapkan, “We’ve lost him and we’ve lost that larger-than-life presence looking over us all,” sebelum menambahkan, “He really became a filmmaker his own right.”

Pernyataan Dominic juga menyoroti bagaimana pekerjaan Hardy pada film terakhirnya dinilai bernilai secara artistik. Ia menyebut karya tersebut “incredibly beautiful” dan mengatakan, “a great satisfaction to him” karena Hardy mampu menghadirkan sesuatu yang baru.

Trilogi The Wicker Man sendiri berawal dari film 1973, lalu berlanjut melalui sekuel pada 2011 berjudul The Wicker Tree. Wrath of the Gods hadir sebagai penutup rangkaian tersebut, dengan sumber inspirasi dari naskah dan storyboard yang baru ditemukan milik Robin.

Melalui pendekatan itu, film penutup tidak datang dari ruang kosong, melainkan bersandar pada detail yang sudah pernah dirancang Robin. Dengan demikian, rangkaian akhir menjadi penegasan dari perjalanan kreatif yang berjalan lintas waktu.

Selain bekerja sebagai sineas, Hardy juga pernah mengajar penulisan skenario. Ia disebut mengajarkan screenwriting di University College London.

Hardy meninggalkan sang istri, Larissa, serta empat orang anak. Keluarga menekankan bahwa kehilangan yang mereka rasakan bukan hanya pada sosoknya, tetapi juga pada ketidakhadirannya sebagai figur kreatif yang selama ini mengawasi mereka dari dekat.

Dengan kepergian Justin Hardy, dunia perfilman kehilangan seorang sutradara yang berhasil menempatkan warisan ayahnya dalam bentuk karya yang tetap relevan, sekaligus memperluas jejaknya lewat dokumenter dan film sejarah lain yang pernah ia kerjakan.