jurnalistik.co.id – Bursa transfer sering dipenuhi harapan, tetapi tidak semua nama yang “sedang dikejar” benar-benar berlabuh. BBC Sport menyorot sejumlah pemain yang sempat santer dibahas dekat dengan klub-klub Premier League, sebelum kesepakatan akhirnya mentok.
Gift Orban dan Tottenham yang berhenti di angka ÂŁ25 juta
Tottenham pernah terlihat punya alasan kuat untuk meyakini perekrutan striker muda berbahaya, Gift Orban. Di musim panas 2023, pemain berusia 21 tahun itu dipandang sebagai salah satu prospek paling panas, setelah mencetak 16 gol dari 22 pertandingan untuk Stabaek di kasta teratas Norwegia.
Orban kemudian pindah ke Gent dan tetap meneruskan produktivitasnya, dengan 20 gol dari 22 laga. Pada periode empat hari yang “liar” di Maret 2023, ia mencetak tujuh gol dalam dua pertandingan: empat gol dalam kemenangan tandang 6–2 atas Zulte Waregem, sekaligus menjadi pemain Gent pertama dengan empat gol dalam satu pertandingan pada abad ke-21.
Ia lalu menyusul dengan hat-trick cepat dalam kemenangan tandang 4–1 atas Istanbul Basaksehir di babak 16 besar Conference League. Hat-trick itu rampung dalam tiga menit 25 detik—sebuah rekor pada kompetisi klub UEFA saat itu.
Ketika kepastian Harry Kane akan bergabung dengan Bayern Munich muncul belakangan di musim itu, Tottenham membutuhkan striker. Orban bahkan ditautkan sebagai pengganti Kane dalam kolom BBC Gossip, dengan judul lanjutan “Could Orban be a global star?” Namun, Spurs menahan diri di angka £25m, dan transfer pun batal.
Sejak tiga tahun terakhir, perjalanan karier Orban berpindah-pindah: ia kini menjalani peminjaman ke klub Liga Turki Amedspor, tim promosi baru. Di 2023-24 ia hanya mampu mengemas tiga gol bersama Gent, tiga gol bersama Lyon, dan empat gol untuk Hoffenheim—meski ia mencetak tujuh kali saat dipinjamkan di Verona pada musim lalu.
Kaka dan Manchester City yang memilih mundur
Di Januari 2009, Manchester City yang baru kaya dikabarkan sedang mengincar gelandang serang Brasil, Kaka. AC Milan dan Kaka sempat “terpancing” oleh tawaran City yang mencapai £108m, sebuah angka yang—menurut laporan—lebih dari dua kali lipat rekor dunia transfer saat itu.
Konon, ada pendukung City yang begitu yakin kesepakatan akan terjadi hingga ia menato nama sang playmaker di bagian dadanya. Namun pada akhirnya, pemenang Ballon d’Or 2007 itu menilai waktu tidak tepat dan menolak kesempatan untuk pindah ke Manchester.
Kaka baru benar-benar membuat langkah bersejarah enam bulan kemudian. Pada 2009 ia bergabung ke Real Madrid dengan nilai ÂŁ56m, setelah sebelumnya ditaksir sebagai transfer rekor dunia. Ia lalu meraih trofi Copa del Rey pada 2011 dan menambah gelar La Liga pada tahun berikutnya, sebelum satu musim kembali memperkuat AC Milan.
Setelah itu, Kaka menghabiskan tiga tahun di MLS bersama Orlando City, sebelum mengakhiri kariernya kembali ke tanah kelahiran dengan Sao Paulo.
Rivaldo dan Bolton yang akhirnya memilih arah lain
Tahun 2004, Bolton Wanderers sedang berada dalam momentum tinggi, dengan mimpi bermain di Eropa. Manajer Sam Allardyce bergerak besar dengan melakukan pendekatan untuk Rivaldo, pemain Brasil berusia 32 tahun yang berstatus pemenang Piala Dunia dan saat itu kesulitan mendapat tempat di AC Milan.
Rivaldo menyatakan: “I want the challenge of trying to get Bolton into Europe for the first time in their history. It is an exciting time.” Tetapi pada akhirnya, ia mengubah keputusan dan memilih bergabung dengan Olympiakos di Liga Yunani.
Ia bertahan selama tiga musim di Olympiakos. Sementara itu, Bolton menutup musim 2004-05 di posisi keenam—berada pada papan nilai yang sama dengan Liverpool, dan hanya selisih tiga angka dari empat besar.
Hasil itu cukup untuk membuka jalan ke kualifikasi UEFA Cup, dan Bolton melanjutkan perjalanan hingga mencapai babak terakhir 32. Setelah periode Olympiakos, Rivaldo melanjutkan kariernya bersama AEK Athens, lalu di Uzbekistan dan Angola, sebelum akhirnya kembali ke Brasil.
Berita Terkait
Zidane dan keputusan Blackburn yang menolak peluang
Pada 1995, Blackburn Rovers baru saja meraih titel Premier League. Klub itu justru menolak peluang untuk mendatangkan Zinedine Zidane yang masih muda, dari Bordeaux—padahal Zidane saat itu merupakan sosok yang sedang naik daun.
Manajemen mendorong pemilik Jack Walker agar membeli Zidane sekaligus penyerang Prancis Christophe Dugarry. Namun Walker terkenal dengan responsnya: “Why do we need Zidane when we have Tim Sherwood?”
Sherwood baru mengangkat trofi Premier League beberapa bulan sebelumnya, dan Zidane bersama Dugarry bahkan sudah terbang ke Inggris untuk membicarakan langkah tersebut. Meski demikian, tidak ada kesepakatan yang benar-benar selesai.
Zidane dan Dugarry kemudian tetap menorehkan prestasi besar bersama Timnas Prancis. Zidane mengangkat trofi Piala Dunia 1998, lalu meraih Kejuaraan Eropa dua tahun berikutnya. Ia juga mengangkat dua gelar Serie A bersama Juventus, sebelum menambah gelar La Liga serta Liga Champions bersama Real Madrid.
Dugarry memiliki jejak yang beragam: ia pernah bermain untuk AC Milan, Barcelona, Marseille, dan kembali ke Bordeaux. Di akhir kariernya, ia menghabiskan dua musim di Inggris bersama Birmingham City.
Steven Gerrard yang urung berganti seragam di Chelsea
Pada 2005, setelah Liverpool meraih kemenangan dramatis di Liga Champions—bangkit dari ketertinggalan 3-0 saat jeda melawan AC Milan, lalu menang lewat adu penalti—Steven Gerrard justru membuat pengumuman mengejutkan. Ia mengajukan permohonan transfer, memukul ekspektasi kubu Merseyside yang selama ini berharap kontraknya diperpanjang.
Chelsea di bawah Jose Mourinho dikabarkan tertarik mendatangkan Gerrard lewat kemungkinan transfer senilai ÂŁ32m. Pada saat yang sama, Gerrard memilih menolak menandatangani kontrak baru.
Namun pada akhirnya, Gerrard memutuskan bertahan di Liverpool dengan alasan “family reasons”. Meski begitu, pilihan tersebut tak menghapus jejaknya yang kemudian sangat panjang: ia menorehkan lebih dari 700 penampilan untuk The Reds dan membawa tim melaju hingga partai final Liga Champions 2007.
Mourinho kelak menyinggung kegagalan mendatangkan Gerrard sebagai salah satu kekecewaan transfer terbesarnya. Sepuluh tahun setelah peristiwa itu, ia menyatakan kegagalan tersebut termasuk yang “greatest transfer disappointments”.
Kylian Mbappe dan “jalan pulang” ke Liverpool yang tak pernah terjadi
Kylian Mbappe sempat menjadi bahan pembicaraan karena hampir saja jadi bagian dari Liverpool pada 2017. Saat itu, ia masih berseragam Monaco dan diskusi dengan Reds dikabarkan sudah dilakukan.
Mbappe sendiri punya alasan personal yang ia sebut jelas. “I talked to Liverpool because it’s the favourite club of my mum, my mum loves Liverpool,” kata Mbappe. Klopp kemudian juga membuka gambaran lain: menurutnya, Liverpool menyiapkan private jet dan makanan untuk Mbappe serta keluarganya.
Namun pada akhirnya, kisah yang muncul justru memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara “hampir” dan kenyataan. Mbappe kemudian tetap melanjutkan kariernya di jalur yang membawanya menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Dunia, membantu Prancis menjuarai turnamen 2018, lalu mencetak hat-trick pada final 2022—sebelum Les Bleus kalah lewat adu penalti dari Argentina.
Jejak lain: Mitroglou dan Griezmann
Dalam bagian lain yang juga menggambarkan kesepakatan yang gagal diwujudkan, disebutkan bahwa “rs were relegated.” Setelah itu, Mitroglou menjalani masa pinjaman kembali ke Olympiakos, lalu ke Benfica. Ia kemudian bergabung secara permanen pada 2016-17.
Adapun Griezmann, ia tetap berkarier di Spanyol dengan sembilan musim, melalui dua periode bersama Atletico Madrid, serta dua tahun bersama Barcelona. Ia juga membantu Prancis memenangkan Piala Dunia 2018.












