jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan yang melanda Los Gallardos di Provinsi Almería, Spanyol, menewaskan sedikitnya 12 orang. Pemerintah regional Andalusia juga melaporkan ada enam korban lain yang mengalami luka.
Sejumlah korban ditemukan di dalam kendaraan yang sempat diselimuti api. Saksi menyebut kebakaran bermula dari saluran listrik yang tumbang, lalu bara merambat dengan cepat ke area pepohonan di sekitar lokasi.
Namun, otoritas setempat belum mengonfirmasi penyebab kebakaran. Penanganan di lapangan terus berlangsung sambil menunggu hasil pemeriksaan penyebab utama.
Kronologi dan korban di Los Gallardos
Menurut pernyataan pemerintah regional Andalusia, jumlah korban tewas bertambah menjadi 12 setelah konfirmasi enam kematian tambahan. Sebelumnya, angka korban dilaporkan masih enam orang.
Gubernur regional Andalusia, Juanma Moreno, menyampaikan duka mendalam atas tewasnya warga tersebut. Ia menyebutnya sebagai “a tragedy” dan menuliskan, “Our hearts are heavy and we are devastated by grief.”
Di hamlet Bedar, sekitar 150 petugas pemadam dikerahkan untuk memadamkan api. Upaya pemadaman dilakukan bersamaan dengan pengendalian penyebaran agar tidak meluas ke permukiman atau area lainnya.
Dari sisi kondisi korban, pemerintah melaporkan setidaknya satu orang menjalani perawatan di rumah sakit akibat menghirup asap. Seorang korban lain menderita luka bakar.
Selain itu, empat orang lain sempat ditangani di lokasi untuk luka bakar ringan serta masalah pernapasan yang dipicu tebalnya asap. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepadatan asap menjadi faktor penting dalam dampak kesehatan selama insiden.
Di tengah operasi pemadaman, akses jalan di beberapa titik dilaporkan ditutup. Layanan darurat juga menyatakan sekitar 1.000 warga dievakuasi dari area terdampak.
Gelombang panas memperburuk kondisi
Berita Terkait
Kebakaran ini terjadi saat gelombang panas masih berlangsung di wilayah Eropa selatan. Suhu di kisaran 40C (104F) disebut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan di beberapa negara.
Ratusan petugas pemadam api tercatat menangani kebakaran besar di Prancis, Portugal, dan Spanyol. Di sejumlah wilayah, ribuan orang dipaksa meninggalkan rumah mereka sebagai langkah keselamatan.
Di Spanyol, respons menghadapi musim kebakaran juga telah disiapkan sejak beberapa bulan terakhir. Perdana Menteri Pedro Sanchez menyampaikan pada bulan Mei bahwa Spanyol akan menerjunkan respons musim panas kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah.
Laporan dari media setempat dan AFP juga menyebutkan bahwa Unit Darurat Militer Spanyol (UME), yang dikerahkan dalam keadaan darurat besar, akan ikut membantu operasi pemadaman di Los Gallardos. Langkah ini dimaksudkan untuk menambah daya dukung di lokasi kejadian.
Rekor suhu dan latar perubahan iklim
Badan pencatatan cuaca menunjukkan bahwa pada Juni, Spanyol mencapai rata-rata suhu harian tertinggi sejak 1950. Pada periode tersebut, beberapa hari juga mencatat temperatur tertinggi yang pernah terjadi untuk bulan yang sama.
Sejumlah bagian negara bahkan diprediksi mengalami suhu hingga 42C (107.6F). Kondisi panas yang ekstrem seperti ini dapat mempercepat pengeringan vegetasi dan membuat api lebih mudah menyebar.
Data sebelumnya menunjukkan dampak panjang dari musim kebakaran. Tahun lalu, sekitar 393.000 hektare lahan terbakar di Spanyol, dengan angka itu disebut lebih dari enam kali rata-rata pembakaran di rentang 2006 hingga 2024 menurut European Forest Fire Information System (EFFIS).
Secara lebih luas, perubahan iklim dikaitkan dengan tren peningkatan temperatur di berbagai wilayah. Copernicus menyatakan Eropa merupakan benua dengan pemanasan tercepat, memanas dua kali lebih cepat dibanding rata-rata pemanasan global.
Konsekuensinya, gelombang panas musim panas menjadi lebih sering, tekanan terhadap pasokan air Eropa meningkat, dan kebakaran hutan menjadi lebih intens. Pada tingkat Uni Eropa, musim kebakaran tahun lalu dinilai sebagai yang terburuk sejak pencatatan dimulai pada 2006.
Di seluruh kawasan Uni Eropa, lebih dari satu juta hektare lahan dilaporkan terbakar, dengan perkiraan setara sekitar separuh luas daratan Wales. Dalam studi terpisah, World Weather Attribution Group di Imperial College London mengaitkan memburuknya musim kebakaran di wilayah Mediterania secara langsung dengan perubahan iklim.
Sejumlah ahli juga memperingatkan bahwa kebakaran hutan yang makin sering dan makin parah kemungkinan akan terus terjadi di masa mendatang. Dengan latar cuaca ekstrem saat ini, operasi pemadaman dan langkah evakuasi tetap menjadi fokus utama demi mengurangi risiko korban jiwa.












