jurnalistik.co.id – Kebakaran besar yang melanda pabrik sepatu di Jinjiang, kota di Tiongkok bagian tenggara, telah menewaskan sedikitnya 28 orang. Rekaman yang diberitakan kantor berita negara menunjukkan api membumbung dan asap hitam pekat dari bangunan pabrik.
Peristiwa ini terjadi di wilayah yang kerap dijuluki “shoe capital” atau “ibukota sepatu” karena Jinjiang disebut memproduksi sekitar 20% sepatu olahraga dunia. Hingga kini, otoritas belum menjelaskan secara rinci jumlah korban luka.
Kantor berita negara melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping menyampaikan pernyataan atas insiden tersebut. Ia mengatakan kebakaran itu telah menimbulkan “major casualties”, serta menegaskan pihak yang bertanggung jawab harus dimintai “strictly accountable”.
Lokasi kejadian dan respons darurat
Api dilaporkan muncul di pabrik Huiteng Footwear sekitar tengah hari waktu setempat pada hari Kamis. Dalam konversi waktu, kejadian tersebut disebut terjadi pada pukul 05:00 BST.
Menurut laporan media penyiaran negara, ratusan petugas penyelamat dikerahkan ke lokasi. Sebanyak lebih dari 200 orang kemudian dievakuasi, sementara proses pemadaman dan upaya penyelamatan terus dilakukan.
Otoritas mengirim lebih dari 500 personel untuk memadamkan api serta menolong korban di lokasi. Pada saat kebakaran pecah, media negara menyebut terdapat hampir 240 orang yang berada di area pabrik.
Di antara 213 orang yang dievakuasi, dua di antaranya kemudian meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit. Sementara itu, 26 orang lain yang semula dinyatakan hilang ditemukan tewas.
Temuan awal penyebab kebakaran
Berita Terkait
Laporan awal menyebut kebakaran kemungkinan bermula dari lantai dasar pabrik, tempat material yang mudah terbakar disimpan. Meski demikian, penyebab yang lebih spesifik masih belum dipaparkan secara lengkap.
Sejumlah pihak yang bekerja untuk pemilik pabrik disebut telah ditahan oleh otoritas. Media negara juga melaporkan rekening bank perusahaan tersebut dibekukan.
Xi Jinping juga menyinggung konteks keselamatan industri di dalam negeri. Ia meminta pejabat Tiongkok menarik “profound lessons” dari “several major industrial safety accidents” yang terjadi sepanjang tahun ini.
Selain itu, Xi menegaskan perlunya langkah pengamanan yang “rigorous and effective”. Ia juga mengaitkan perhatian pada upaya pencegahan kebakaran di bangunan bertingkat setelah insiden di Hong Kong pada November lalu, ketika kebakaran melanda beberapa gedung apartemen dan menewaskan 168 orang.
Dalam beberapa waktu terakhir, insiden di fasilitas industri kerap menjadi sorotan karena menyangkut standar keselamatan dan kapasitas respons darurat. Kasus di Jinjiang ini menunjukkan besarnya tantangan pemadaman ketika api menjalar dengan cepat dan asap tebal menyulitkan evakuasi.
Sementara penyelidikan terus berjalan, publik masih menunggu penjelasan resmi terkait kronologi kebakaran, termasuk bagaimana api bermula dan bagaimana proses evakuasi berlangsung. Pemerintah, seperti disampaikan Xi, menekankan penerapan tindakan keselamatan yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Media negara juga menggambarkan bagaimana api cepat melahap area produksi, sementara asap pekat menyelimuti lokasi. Kondisi seperti ini membuat proses pencarian korban dan pemindahan orang-orang di dalam pabrik berlangsung lebih rumit, meski tim penyelamat terus bekerja tanpa henti.
Sejumlah korban dilaporkan berasal dari jumlah orang yang pada saat kejadian berada di dalam kompleks pabrik. Dari total yang dievakuasi, dua orang akhirnya meninggal dunia ketika menjalani perawatan, sedangkan puluhan lainnya yang semula disebut hilang kemudian ditemukan tewas setelah proses pemeriksaan di lokasi.
Di sisi lain, otoritas menyatakan bahwa pihak terkait dengan pengelola fasilitas disebut telah ditahan, dan rekening bank perusahaan itu dibekukan. Dalam pernyataannya, Xi Jinping menekankan pentingnya evaluasi mendalam atas kecelakaan keselamatan industri besar serta menuntut adanya tanggung jawab yang tegas, sejalan dengan pelajaran dari insiden serupa yang pernah terjadi.












