Hukum & Kriminal

Jayson Gillham Kalah dalam Gugatan Diskriminasi Kerja atas Komentar soal Gaza di Melbourne Symphony Orchestra

×

Jayson Gillham Kalah dalam Gugatan Diskriminasi Kerja atas Komentar soal Gaza di Melbourne Symphony Orchestra

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jayson Gillham: Acclaimed pianist loses Gaza speech case against Melbourne orchestra

jurnalistik.co.id – Pianis asal Inggris-Australia, Jayson Gillham, kalah dalam gugatan diskriminasi tempat kerja yang ia ajukan terhadap Melbourne Symphony Orchestra (MSO) terkait komentar soal Gaza.

Kasus ini berawal ketika MSO membatalkan salah satu pertunjukan Gillham pada 2024, beberapa hari setelah ia menyampaikan pernyataan selama konser lain di Melbourne.

Dalam putusan yang dijatuhkan hakim, Justice Graeme Hill, pengadilan menilai pembatalan konser Gillham bukan terjadi karena keyakinan politiknya.

Hakim Hill menyatakan konser itu dibatalkan untuk “address the anticipated adverse impacts” dari komentar Gillham terhadap bisnis dan reputasi MSO.

Hill juga menyebut adanya kebijakan dari MSO terkait pertunjukan di panggung. “I find that the MSO did have a policy for not expressing support for either side of the Israel-Gaza conflict,” ujar Hill.

Ia menambahkan, “I find that there is a custom or practice that classical musicians do not make statements on sensitive political or social issues from the stage without approval of the host.”

Setelah putusan dibacakan, Gillham melalui pernyataan singkat mengatakan: “I am disappointed and I need time to process the judgment before saying more.”

Perkara berfokus pada pengantar singkat yang dibacakan Gillham saat konser pada 11 Agustus 2024 di Melbourne, saat ia memperkenalkan karya berdurasi lima menit berjudul Witness yang ditulis komponis Connor D’Netto.

Karya tersebut didedikasikan untuk para jurnalis di Gaza. Dalam sesi itu, Gillham menyampaikan bahwa lebih dari 100 jurnalis Palestina tewas akibat tindakan Israel sejak Oktober 2023 saat perang di Gaza dimulai.

Gillham juga mengatakan bahwa Israel melakukan “targeted assassinations of prominent journalists”. Ia menyampaikan hal tersebut kepada audiens sekitar 150 orang pada konser Minggu pagi.

Dalam pernyataannya kepada penonton, ia menyatakan, “The killing of journalists is a war crime in international law, and it is done in an effort to prevent the documentation and broadcasting of war crimes to the world,”

Di persidangan, lembaga independen Committee to Protect Journalists melaporkan bahwa 207 jurnalis tewas di Gaza sejak Oktober 2023.

Terkait tindakan MSO, organisasi itu menerima tiga pengaduan atas komentar Gillham. Setelah itu, MSO memutuskan membatalkan resital yang dijadwalkan pada 15 Agustus.

Keputusan tersebut memicu hampir 500 pengaduan. Namun, MSO kemudian menyatakan langkah itu merupakan “error” dan berupaya menjadwalkan ulang pertunjukan.

Dalam sidang, MSO berpendapat bahwa panggung bukan tempat untuk menyampaikan pandangan pribadi. Sementara itu, tim hukum Gillham menegaskan bahwa menyampaikan keyakinan politik merupakan hak di lingkungan kerja yang seharusnya tidak diperlakukan secara tidak semestinya.

Pada hari terakhir persidangan, Hill mendorong kedua pihak untuk mencoba menyelesaikan persoalan secara mandiri. Ia mengingatkan agar ia tidak perlu “having to say the things I need to say in a judgment”.

Keputusan ini muncul setelah persidangan selama tiga minggu, yang berakhir bulan lalu. Sekitar dua lusin saksi hadir untuk memberikan keterangan, termasuk Gillham dan para eksekutif senior MSO.

Dalam kronologi persidangan, isu berangkat dari momen Gillham memperkenalkan karya Witness pada 11 Agustus 2024 di Melbourne. Saat itu, ia menyampaikan bahwa pertunjukan berdedikasi untuk jurnalis di Gaza, termasuk penjelasan tentang lebih dari 100 jurnalis Palestina yang tewas sejak Oktober 2023, serta tuduhan bahwa Israel melakukan “targeted assassinations” terhadap jurnalis. Beberapa waktu setelah penjelasan tersebut, MSO kemudian membatalkan resital yang semula dijadwalkan pada 15 Agustus.

Setelah keputusan pembatalan diumumkan, respons publik berlangsung luas, tercermin dari jumlah hampir 500 pengaduan. MSO kemudian menyatakan langkah tersebut sebagai “error” dan berupaya menjadwalkan ulang pertunjukan. Di ruang sidang, MSO menekankan bahwa panggung bukan tempat untuk memaparkan pandangan pribadi, sedangkan tim hukum Gillham memandang penyampaian keyakinan politik sebagai bagian dari hak di lingkungan kerja yang seharusnya diperlakukan secara wajar.

Di bagian akhir perkara, hakim Justice Graeme Hill mendorong kedua pihak untuk mencari penyelesaian secara mandiri tanpa harus memperpanjang konflik melalui putusan. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak ingin perlu “having to say the things” yang seharusnya ia sampaikan dalam pertimbangan hukum. Persidangan sendiri berlangsung selama tiga minggu, dengan sekitar dua lusin saksi yang hadir, termasuk Gillham dan para eksekutif senior dari MSO.