jurnalistik.co.id – Label fesyen KHAYAE menghadirkan koleksi “Majestic Reverie” dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang berlangsung di JICC Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (1/8/2026). Dalam penampilannya, KHAYAE memadukan nuansa klasik yang elegan dengan misi sosial melalui pelibatan lansia dalam proses pembuatan busananya.
“Majestic Reverie” dibawa dengan gagasan bahwa kemewahan tidak hanya ditentukan oleh material yang premium. Ketelitian pengerjaan dan nilai keberlanjutan yang diwujudkan lewat pemberdayaan kelompok rentan menjadi bagian dari pesan yang ingin ditonjolkan KHAYAE.
Koleksi ini mengangkat nuansa klasik yang elegan dengan velvet, bordir, dan payet sebagai elemen utama. Di panggung IFW 2026, karakter tersebut diterjemahkan menjadi busana yang terlihat berlapis dari sisi tekstur maupun detailnya.
Dalam konsepnya, desainer KHAYAE, Elok Re Napio dan Silvia, menjelaskan bahwa koleksi ini terinspirasi dari keindahan klasik yang tetap relevan di berbagai zaman. Ide tersebut kemudian mereka terjemahkan ke dalam siluet yang elegan, dengan memadukan struktur tailoring modern serta detail couture.
Elok mengaku bahwa pemilihan material menjadi tahap yang paling banyak menyita perhatian. Menurutnya, bahan harus mampu menampilkan kesan mewah, sekaligus dapat “diolah” menjadi wujud yang tepat pada karakter velvet.
“Pemilihan bahan sangat dipikirkan, bagaimana bisa menciptakan sesuatu yang mewah dan bisa diaplikasikan di bahan velvet. Bahan velvet itu warnanya deep banget dan banyak sejarah kerajaan yang pakai bahan ini, baik di Eropa maupun Asia,” ujar Elok saat ditemui di Indonesia Fashion Week 2026, di JICC Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026).
Koleksi “Majestic Reverie” sendiri terdiri dari 11 tampilan yang dikerjakan dalam waktu sekitar dua bulan. Untuk mewujudkan kekayaan visualnya, KHAYAE menggunakan material premium seperti velvet, jacquard, lace, dan tulle yang diperkaya dengan kristal serta mutiara.
Berita Terkait
Detail floral juga dipertegas melalui bordir yang membentuk kesan tekstur dan dimensi. Kombinasi elemen-elemen tersebut membuat penampilan koleksi terasa lebih berkelas tanpa kehilangan arah desain yang konsisten.
Elok menegaskan bahwa keterikatan mereka pada gaya klasik menjadi landasan pemilihan karakter koleksi terbaru. Ia mengungkap, “Menurut kami, koleksi ini adalah keindahan yang tidak lekang oleh waktu, karena kita berdua ini suka sesuatu yang klasik. Kami mengolah bahan velvet, bordir, tapi tetap simpel dan elegan,”.
Silvia menambahkan bahwa penggunaan material seperti velvet dan bordir sengaja diolah agar tidak memberi kesan berat saat dikenakan. Dengan pendekatan tersebut, koleksi diarahkan supaya tetap nyaman dan proporsional untuk beragam kelompok usia.
“Bahan velvet dan bordir itu terkesan berat, tapi kami menghilangkan kesan tersebut, sehingga baik tua maupun muda bisa mengenakan koleksi ini,” tambah Silvia.
Selain aspek estetika, “Majestic Reverie” juga membawa dimensi sosial yang menjadi bagian dari identitas KHAYAE pada IFW 2026. Melalui pelibatan lansia dalam proses pembuatan, koleksi ini dihadirkan sebagai wujud keberlanjutan sekaligus upaya pemberdayaan kelompok rentan.
Melalui rangkaian 11 tampilan yang dikerjakan selama sekitar dua bulan, KHAYAE berupaya merangkum gagasan klasik yang berkelas dengan dukungan pada nilai ketelitian dan keberlanjutan. Pada saat yang sama, koleksi ini menunjukkan bahwa kualitas desain dapat berjalan seiring dengan misi sosial yang melibatkan pihak-pihak yang selama ini sering berada di luar arus utama industri.
Di panggung Indonesia Fashion Week 2026, KHAYAE menampilkan “Majestic Reverie” dengan fokus pada nuansa klasik yang diterjemahkan lewat perpaduan detail couture dan struktur tailoring yang lebih modern. Kesan berlapis itu terasa dari permainan tekstur hingga penataan element bordir.
Dalam proses penggarapannya, kerja koleksi ini diarahkan agar setiap bahan saling melengkapi tanpa menghilangkan karakter utama velvet. Ketika velvet dipadukan dengan bordir, kristal, dan mutiara, keseluruhan tampilan tetap berwibawa, namun dirancang supaya proporsinya nyaman untuk dikenakan lintas usia, termasuk oleh lansia yang dilibatkan.






