jurnalistik.co.id – Kunjungan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ke booth Honda di ajang GIIAS 2026 menjadi momen pembahasan penting terkait strategi produksi Honda Super One di Indonesia.
Menperin menaruh perhatian khusus pada mobil listrik mungil tersebut dan meminta agar PT Honda Prospect Motor (HPM) mempercepat kajian perakitan lokal (local assembly) Super One.
Kartasasmita menyampaikan permintaan itu saat menghadiri GIIAS 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, Kamis (30/7/2026).
Agus Gumiwang menyatakan bahwa Super One perlu dipersiapkan agar bisa dirakit di dalam negeri, sejalan dengan kebutuhan penguatan industri dan rantai pasok yang lebih dekat dengan ekosistem pasar lokal.
Merespons langsung permintaan tersebut, Sales & Marketing and After Sales Director HPM, Yusak Billy, menyebut bahwa pesan Menperin disampaikan secara spesifik saat melihat Super One di booth Honda.
“Soal Super One, beliau minta segera dipercepat pertimbangan untuk bisa dirakit di sini,” ujar Billy kepada Kompas.com di lokasi pameran.
Menurut Billy, saat ini HPM masih mempelajari kemungkinan produksi Super One di Indonesia, karena model tersebut masih berada pada tahap pengenalan pasar.
Dalam fase awal, seluruh unit yang dipasarkan masih didatangkan secara utuh dari luar negeri, sehingga keputusan mengenai langkah produksi lokal perlu menunggu evaluasi yang matang terhadap respons konsumen.
Perusahaan, kata Billy, memandang proses perakitan lokal sebagai tahapan yang dapat dipertimbangkan setelah momentum pasar terbentuk dan arah kebutuhan produk lebih terbaca.
HPM juga menjelaskan strategi pemasaran Super One pada tahap pertama dilakukan dengan pendekatan kuantitas terbatas.
Billy menyatakan, Honda memilih mengimpor Super One dalam jumlah tertentu sambil memantau bagaimana penerimaan pasar Indonesia terhadap mobil listrik mungil tersebut.
“Kami pelajari dulu karena ini masih fase pengenalan. Jadi masih diimpor. Seperti kemarin saya bicara, karena ini fase pengenalan, masih diimpor dengan kuantiti yang terbatas,” kata Billy.
Berdasarkan penjelasan itu, HPM menggunakan periode pengenalan untuk memahami minat konsumen, termasuk kebutuhan dan preferensi yang muncul selama produk mulai diperkenalkan.
Selain pertimbangan fase pengenalan, pasokan Super One untuk Indonesia juga terkait dengan kondisi permintaan di negara lain, khususnya Jepang.
Berita Terkait
Billy menyebut tingginya permintaan Super One di Jepang menjadi salah satu faktor yang membuat alokasi untuk Indonesia masih terbatas pada tahap awal.
Ia mengatakan, di Jepang pesanan Super One mencapai 12.000 unit selama dua bulan, sehingga Honda menata ketersediaan pengiriman berdasarkan respons pasar yang sedang berlangsung.
“Karena di Jepang-nya juga sudah 12.000 (unit) pesanannya selama dua bulan. Jadi itu masih diimpor, kita lihat dulu market-nya seperti apa. Tapi kami optimis memang di-manage-nya bagus ya,” ujar Billy.
Dalam konteks GIIAS 2026, HPM memastikan bahwa Honda Super One akan diperkenalkan sebagai mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) terbaru.
Super One sendiri hadir sebagai kendaraan dengan fokus pada segmentasi yang lebih spesifik, yang membuat perusahaan perlu memastikan penerimaan pasar sebelum melangkah ke produksi yang lebih besar dan lebih lokal.
HPM juga menyampaikan bahwa pada periode awal pemasaran, Honda menargetkan ketersediaan dalam jumlah terbatas untuk alokasi Indonesia di tahun 2026.
Untuk 2026, Super One dialokasikan sebanyak 100 unit bagi Indonesia.
Jumlah tersebut menjadi dasar evaluasi perusahaan dalam menilai respons konsumen sebelum mengambil keputusan terkait produksi lokal di tahap berikutnya.
Dengan strategi bertahap ini, HPM menempatkan pengenalan produk sebagai langkah pembacaan pasar, sebelum memutuskan apakah perakitan lokal dapat dipercepat dan diperluas secara berkelanjutan.
HPM menyatakan akan menunggu hasil evaluasi terhadap minat pembeli selama periode pemasaran awal, termasuk bagaimana konsumen menanggapi produk yang dipasarkan dengan kuota terbatas.
Setelah data respons pasar terkumpul, barulah langkah produksi lokal menjadi opsi yang lebih realistis untuk dipertimbangkan.
Di sisi informasi harga, Honda menegaskan bahwa harga resmi Honda Super One akan diumumkan pada 5 Agustus 2026 di GIIAS 2026.
Dengan demikian, rangkaian pembahasan di GIIAS 2026 mempertemukan permintaan mempercepat perakitan lokal dari Menperin dengan pendekatan HPM yang masih menempatkan tahap pengenalan pasar sebagai penentu utama sebelum beralih ke produksi di Indonesia.
Hasil evaluasi respons konsumen pada periode awal pemasaran diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat bagi langkah berikutnya, termasuk apakah pengembangan produksi domestik bisa dipercepat sesuai yang diminta.












