Olahraga

Al-Taawoun Dihukum: Denda 100.000 Riyal dan Larangan Stadion untuk 2 Laga Imbas Chant ke Ruben Neves

×

Al-Taawoun Dihukum: Denda 100.000 Riyal dan Larangan Stadion untuk 2 Laga Imbas Chant ke Ruben Neves

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Diogo Jota: Saudi club Al-Taawoun given fine and stadium ban over chants

jurnalistik.co.id – Al-Taawoun menerima sanksi dari otoritas Liga Pro Arab Saudi setelah terjadinya ejekan terhadap Ruben Neves yang berkaitan dengan meninggalnya Diogo Jota.

Klub berjuluk Al-Taawoun diputuskan harus menjalani dua laga kandang lanjutan kompetisi liga tanpa penonton. Selain itu, mereka juga dijatuhi denda sebesar 100.000 riyal Saudi.

Vonis dan dasar hukuman

Keputusan tersebut muncul setelah pendukung Al-Taawoun menyoraki Ruben Neves. Aksi yang dilakukan para suporter itu diarahkan pada Neves, menyusul wafatnya sahabat dan rekan setimnya, Diogo Jota.

Neves diceritakan menjadi target bernada pelecehan sebelum timnya meraih kemenangan 6-0 pada pertandingan hari Sabtu. Dalam insiden tersebut, para pendukung berulang kali meneriakkan nama “Jota” saat sang pemain berada di lapangan.

Setelah pertandingan selesai, Neves menyampaikan tanggapan kepada awak media. Ia mengatakan: “I just hope they don’t go to pray later after what they did.”

Jota wafat dalam kecelakaan mobil

Diogo Jota meninggal dunia akibat kecelakaan mobil pada bulan Juli tahun lalu. Pemain berusia 28 tahun itu merupakan teman dekat Neves, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Jota dan Neves pernah bermain bersama untuk Wolverhampton Wanderers serta juga memperkuat Portugal. Hubungan keduanya bahkan berlanjut hingga momen-momen setelah kepergian Jota.

Neves kini mengenakan nomor 21 untuk Portugal sebagai penghormatan kepada Jota. Di samping itu, ia juga memiliki tato di betisnya yang menggambarkan momen keduanya saling berpelukan.

Neves turut hadir dalam prosesi pemakaman Jota. Ia tercatat sebagai salah satu yang menjadi pengusung jenazah (pallbearer) pada acara pemakaman tersebut.

Ronaldo ikut menanggapi

Seruan kecaman juga datang dari Cristiano Ronaldo. Ronaldo—yang kini bermain untuk Al-Nassr di Arab Saudi—menyatakan dukungannya terkait sanksi keras terhadap para pendukung yang melakukan nyanyian/chant tersebut.

Menurut laporan yang sama, Ronaldo menyerukan agar larangan seumur hidup diberikan kepada para penggemar yang terlibat dalam chant di stadion.

Sikap resmi Al-Taawoun

Al-Taawoun juga merilis pernyataan resmi terkait perilaku tersebut. Dalam rilisnya, klub menegaskan bahwa tindakan yang terjadi tidak dapat dibenarkan dan tidak mencerminkan nilai yang mereka junjung.

“Such behaviour is completely unacceptable and does not represent the club, its fans, or the values for which the club is known. “Sports competition cannot be a justification for insulting, belittling, or bullying others at the expense of anyone’s feelings.””

Melalui pernyataan itu, klub menempatkan isu ini pada ranah etika dan penghormatan terhadap sesama, khususnya dalam konteks saat seorang pemain kehilangan sosok penting dalam kehidupannya.

Dengan sanksi dua pertandingan kandang tanpa penonton dan denda 100.000 riyal Saudi, Al-Taawoun menghadapi konsekuensi disiplin yang ditujukan untuk mencegah insiden serupa terulang. Bagi Neves dan lingkaran dekatnya, episode ini juga menjadi sorotan karena ejekan yang dilontarkan terhubung dengan tragedi wafatnya Diogo Jota.

Keputusan ini berdampak langsung pada jadwal Al-Taawoun, karena dua pertandingan kandang lanjutan harus berjalan tanpa kehadiran penonton. Situasi “pintu tertutup” ini memperkuat pesan bahwa aksi chant yang bernada mengejek tidak dipandang sebagai hiburan suporter, melainkan pelanggaran disiplin yang merugikan nilai sportivitas.

Setelah laga hari Sabtu yang berakhir dengan kemenangan telak 6-0, perhatian justru bergeser pada insiden yang menargetkan Ruben Neves. Dalam kondisi ketika Diogo Jota baru saja ditinggalkan akibat kecelakaan mobil pada bulan Juli tahun lalu, nada pelecehan yang dibawa suporter memunculkan penekanan bahwa batas empati dan rasa hormat juga menjadi bagian dari budaya pertandingan.

Selain menegaskan sikap tegas, Al-Taawoun juga menempatkan isu tersebut pada ranah etika dan penghormatan terhadap sesama. Sejalan dengan itu, dukungan Cristiano Ronaldo terhadap sanksi berat menunjukkan bahwa kecaman publik tidak berhenti pada level klub, melainkan meluas sebagai penolakan atas perilaku yang merendahkan pihak lain—terutama ketika terkait peristiwa duka yang dialami pemain.