jurnalistik.co.id – Penulis dan kritikus asal Inggris-Amerika, Bonnie Greer, meninggal dunia pada usia 77 tahun. Ia wafat setelah sakit singkat, demikian disampaikan suaminya dalam sebuah pernyataan.
David Hutchins menyampaikan kabar duka itu dengan ungkapan “profound sadness”. Ia menegaskan Greer meninggalkan “an enduring contribution to British cultural and public life” lewat “intelligence, courage and distinctive voice”.
Hutchins juga menulis, “To me, she was my partner, confidante and inspiration, and I feel profoundly privileged to have shared my life with her.” Ia menambahkan bahwa orang-orang terdekat Greer akan mengingat “her warmth, humour, generosity and extraordinary ability to bring people together.”
Kabar tersebut memicu banyak respons dari tokoh publik. BBC presenter Clive Myrie mengaku terkejut melalui akun X: “This is such a shock. She was a friend and mentor and I will miss her with all my heart.”
Wakil perdana menteri David Lammy menggambarkan Greer sebagai sosok yang tajam dalam merangkai kata. Ia menyebut, “a powerful wordsmith and artist, she was eloquent and exacting”, serta menambahkan bahwa Greer adalah “a true life force”.
Lammy juga mengingat keberanian Greer ketika bersikap tanpa gentar menghadapi Nick Griffin. Ia menulis bahwa ia “will never forget her quiet fearlessness taking on Nick Griffin” pada penampilannya bersama pemimpin British National Party (BNP) dalam acara Question Time tahun 2009, serta menyatakan bahwa ia akan merindukan “her mentorship, and her friendship.”
Wali Kota London Sadiq Khan menyampaikan penghargaan senada. Menurut Khan, suara Greer membawa “courage, humour and humanity to Britain’s cultural conversation”, sekaligus “inspired and opened doors for so many others.” Ia menambahkan, “And she was great fun too – I will miss her friendship enormously.”
Perjalanan karya: dari panggung hingga ruang publik
Greer lahir di Chicago pada 1948. Ia telah menulis naskah drama sejak usia muda, lalu menempuh studi teater di kota kelahirannya sebelum melanjutkan pendidikan di Actors Studio, New York, bekerja bersama sutradara Elia Kazan.
Ia kemudian pindah ke Inggris pada 1986 dan menjadi wajah yang kerap hadir di televisi. Greer tampil sebagai anggota panel yang sering muncul dalam program seperti Question Time dan Newsnight Review, ketika mengulas isu-isu pada masa itu.
Di bidang drama, ia menulis karya-karya yang mendapat pengakuan luas. Salah satu karyanya, Munda Negra, meraih Verity Bargate Award untuk kategori drama terbaik, sementara novel-novelnya antara lain Hanging by Her Teeth (1994) dan Entropy (2009).
Berita Terkait
Pandangannya sebagai intelektual publik juga sering menyeberang lintas disiplin. Pernah disebut Observer sebagai salah satu “leading public intellectuals” di negara tersebut, Greer dikenal kerap membahas persoalan budaya, ras, serta institusi-institusi publik melalui berbagai medium.
Pandangan tentang identitas dan kesaksian pribadi
Dalam wawancara dengan Guardian pada 2016, setelah gerakan Black Lives Matter, Greer menyampaikan pandangannya tentang bagaimana ia merasakan identitasnya ketika berinteraksi dengan dunia luar. Ia mengatakan, “When I wake up in the morning, I’m just myself. It’s only when I leave the door that I become a black woman to the world.”
Ia juga menambahkan pesan kepada perempuan kulit hitam. Greer menyatakan, “I tell black women all the time, ‘Don’t apologise for yourself and keep your hair nappy. Make sure you are heard’.”
Greer tidak hanya menulis dan mengulas dari ruang redaksi atau panggung. Ia juga terlibat dalam struktur kelembagaan budaya, dengan menjadi anggota dewan pada British Museum, Royal Opera House, dan London Film School. Ia juga menjabat sebagai rektor (chancellor) Universitas Kingston di London.
Rangkaian karyanya meliputi memoar berjudul A Parallel Life dan biografi mengenai penyair sekaligus dramawan Amerika, Langston Hughes. Pada 2009, ia menerbitkan Obama Music, sebuah buku yang memadukan unsur memoar dan sejarah musik.
Atas kontribusinya, Greer dianugerahi OBE pada 2010 untuk layanan terhadap seni. Pada 2022, ia diangkat sebagai fellow dari Royal Society of Literature.
Ucapan duka dari rekan dan sesama jurnalis
Berita meninggalnya Greer juga disambut dengan kenangan dari sesama jurnalis. John Simpson menulis, “So sad to hear of the death of the writer and critic Bonnie Greer. “She was a good friend, and gave me strong support at a time I needed it. Fiercely intelligent, but always avoided personal attacks. A huge loss.”
Sangita Myska, seorang jurnalis yang beberapa kali mewawancarai Greer, mengingat Greer sebagai sosok yang berani dan berwarna. Ia menggambarkannya sebagai “smart, sassy, firebrand who will be missed from our public discourse.”
Dengan berpulangnya Bonnie Greer, dunia literasi dan kritik budaya kehilangan seorang suara yang konsisten, berani, dan berdaya tarik publik. Warisannya—yang menggabungkan kecermatan bahasa, keberanian menghadapi persoalan sosial, dan kemampuan menghubungkan orang-orang—akan terus dikenang dalam percakapan tentang budaya, ras, dan ruang-ruang publik di Inggris.












