Olahraga

Tottenham vs Everton 0-0: Spurs kembali tanpa gol, era baru terancam jadi fajar palsu

×

Tottenham vs Everton 0-0: Spurs kembali tanpa gol, era baru terancam jadi fajar palsu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tottenham 0-0 Everton: Spurs blanked again as new era turns into a false dawn

jurnalistik.co.id – Tottenham harus puas dengan skor 0-0 saat menjamu Everton, memperpanjang kebuntuan gol yang membuat “era baru” di Stadion Tottenham Hotspur terasa belum benar-benar menjadi kenyataan. Bagi tuan rumah, laga ini kembali berakhir tanpa upaya mencetak gol yang konsisten, meski penguasaan bola mereka terlihat dominan.

Sejak awal, atmosfer di stadion sudah menunjukkan keresahan. Spanduk yang diangkat supporter sebelum kick-off membawa pesan sederhana: “Please Score A Goal”, seolah merangkum harapan yang belum juga terpenuhi di awal musim ini.

Setelah 45 menit tanpa gol, tuntutan justru terdengar makin mendesak. Dari sisi permainan, Tottenham memang menguasai jalannya laga, tetapi kesulitan menembus pertahanan Everton dan nyaris tidak berada dalam posisi yang cukup mengancam untuk memaksa Jordan Pickford bekerja.

Serangkaian statistik mempertegas masalah yang sama. Catatan tanpa gol Spurs di kompetisi liga sudah mencapai 407 menit, sementara kegagalan mereka mencetak gol di empat pertandingan liga pertama—yang terjadi di seluruh level kompetisi—menjadi momen yang tidak biasa.

Puasa gol ini juga berlanjut pada rangkaian pertandingan Liga Premier. Spurs sudah mengalami empat laga beruntun tanpa mencetak gol sejak September 2006, dan kali ini situasinya bertambah rumit karena mereka datang dengan investasi besar di musim panas.

Tottenham diketahui menggelontorkan lebih dari £300 juta pada bursa transfer musim panas. Namun, di lapangan, hasilnya belum menjelma menjadi efektivitas menyerang yang nyata, sehingga permainan mereka tampak seperti “alat yang tumpul”—berpotensi dominan di penguasaan, tetapi mandul dalam penyelesaian akhir.

Di kandang, dominasi tetap tidak berubah menjadi gol

Ini merupakan hasil imbang tanpa gol pertama di Liga Premier bagi Tottenham di 140 pertandingan mereka di Stadion Tottenham Hotspur. Dari sudut pandang Everton, hasil tersebut memang menahan laju tuan rumah, tetapi mereka juga tidak benar-benar tampil sebagai tim yang mengancam secara beruntun.

Namun, pada momen-momen kunci, Everton justru seolah memberi kesempatan lebih lewat kurang tajamnya peluang. Pada babak kedua, dua kesempatan terbaik sempat jatuh pada Kiernan Dewsbury-Hall dan Brennan Johnson, tetapi peluang itu gagal menjadi gol.

Toddtenham sempat mengalami momen yang lebih panas setelah jeda. Mateus Fernandes menjadi pencetak tembakan tepat sasaran pertama Spurs setelah menit ke-46, dan respons stadion terdengar seperti sindiran—sebab yang ditunggu sejak awal bukan hanya tembakan, melainkan gol.

Saat laga menuju menit-menit akhir, Tottenham memainkan bola dengan sabar dari belakang. Tujuh menit terakhir berlangsung dengan penguasaan yang tetap terlihat rapi, tetapi ketika peluit akhir berbunyi, sorak mengejek menggantikan optimisme, mengirimkan pemain Spurs pergi dengan kekecewaan yang jelas.

Pada situasi tersebut, Roberto De Zerbi juga mengambil langkah untuk mengubah arah permainan. Ia memasukkan pemain baru dari Manchester City, Omar Marmoush dan Savio, lalu memberi Dominic Solanke kesempatan start liga pertamanya musim ini.

Seiring waktu berjalan dan ketegangan meningkat, pergantian pemain berlanjut. Mohammed Kudus dan James Maddison turut masuk, namun hasil akhir tetap sama: Tottenham tidak mampu mengonversi tekanan menjadi gol.

Kejadian yang paling dekat dengan kemenangan justru datang dari upaya pemain pengganti. Lucas Bergvall nyaris merampas kemenangan lewat tembakan jarak jauh di akhir laga, tetapi peluang itu diselamatkan oleh kiper Everton, Pickford, setelah ia sebelumnya sempat memberikan ruang dan penguasaan yang berharga.

De Zerbi minta maaf, namun menilai ada proses yang harus dipahami

Roberto De Zerbi menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung setelah pertandingan. Ia mengatakan mereka pantas disyukuri karena tetap mendukung ketika tim terlihat bermain baik, dan menegaskan bahwa situasi reaksi penonton itu wajar, meski ia berharap hasil bisa mengikuti performa.

Ia juga menilai, pada fase awal, Tottenham sebenarnya tampil sangat baik selama sekitar tiga puluh menit pertama. Tetapi, mereka tidak menemukan gol pada periode yang seharusnya bisa menjadi pijakan untuk mengunci permainan.

De Zerbi menyoroti perubahan dinamika kepercayaan diri. Menurutnya, di babak kedua banyak pemain tampak memiliki keyakinan yang lebih kecil, dan ia tidak menyukai hal tersebut karena tim perlu menjaga rasa aman dalam proses.

Ia menekankan bahwa pemain adalah manusia yang membawa emosi dalam pertandingan, bukan mesin yang selalu berada dalam kontrol penuh. Tugasnya, menurut De Zerbi, adalah membantu tim dan menjaga fokus pada perbaikan yang perlu dilakukan, termasuk agar tim bisa memenangkan laga bila bermain seperti pada awal pertandingan.

Secara permainan, Tottenham juga menghadapi bukti bahwa kualitas peluang masih menjadi masalah utama. Statistik xG (expected goals) memperlihatkan Spurs seharusnya mampu mencetak tiga atau empat gol sepanjang musim ini, tetapi angka non-penalty xG per shot mereka hanya 0.066, dengan perkiraan tingkat konversi 6.6%.

Dengan kata lain, tim belum cukup baik saat mengubah situasi serangan menjadi ancaman yang benar-benar berujung pada gol. Pada akhirnya, hal itu membuat “penyempurnaan era baru” masih terasa seperti janji yang belum sepenuhnya dibuktikan.

Everton bertahan, Spurs menunggu kemenangan pertama

Bagi pendukung Spurs, masalah yang paling mengganggu adalah kurangnya keberanian untuk mempercepat keputusan ketika peluang datang. Ada momen ketika pemain terlalu lama menunggu atau memilih tidak mengambil tanggung jawab, sehingga ritme serangan menjadi seperti tertahan.

Everton sendiri tampil dengan pertahanan yang tangguh. Jarrad Branthwaite tampil menonjol dalam sejumlah duel, dan ia bahkan memanfaatkan pertandingan ini untuk menguatkan klaimnya bagi pemanggilan ke skuad Inggris berikutnya, terutama setelah menghadapi masalah cedera.

Di sisi lain, ada cerita yang juga menyangkut dinamika pemain Spurs, terutama Richarlison. Penyerang Brasil berusia 29 tahun itu sedang berselisih dengan klub terkait sisa kontrak sembilan bulan, dan ia bahkan absen dari skuad Liga Premier setelah rencana kepulangannya ke Everton pada hari terakhir transfer gagal terwujud.

Rencana kepindahan kembali ke Brasil untuk bergabung dengan Vasco da Gama juga tidak berjalan sesuai harapan. Dengan kondisi seperti itu, Spurs tetap harus menghadapi satu kenyataan: mereka masih belum merasakan kemenangan dan belum mencetak gol di Liga Premier meski laga-laga awal telah lewat.

Sampai Tottenham menemukan cara yang lebih tegas untuk menutup serangan menjadi gol, penantian atas kemenangan pertama—dan gol pertama—di musim ini tampaknya masih akan berlanjut.