Olahraga

Liverpool 0-0 Fulham di Anfield: Dua laga kandang awal berakhir imbang, terlalu cepat cemas?

×

Liverpool 0-0 Fulham di Anfield: Dua laga kandang awal berakhir imbang, terlalu cepat cemas?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Liverpool 0-0 Fulham: More dropped points at Anfield - is it too early for Liverpool to worry?

jurnalistik.co.id – Liverpool harus menerima hasil imbang 0-0 saat menjamu Fulham di Anfield, sebuah pertandingan yang terasa jauh dari momentum yang sempat mereka bangun pada pekan sebelumnya. Dua laga kandang pembuka Premier League berakhir dengan skor sama-sama tidak menghasilkan gol, membuat situasi di awal musim ini tidak sepenuhnya berjalan sesuai ekspektasi.

Bagi Liverpool, ini hanya kali ketiga dalam 63 tahun mereka gagal menang pada dua laga kandang pembuka musim liga. Di saat pelatih baru Andoni Iraola biasanya menjadi simbol perubahan gaya bermain, hasil imbang tanpa gol di kandang justru menjadi pembeda yang cukup kontras dengan performa yang datang lebih bergairah beberapa waktu terakhir.

Pelatih Iraola menilai aspek yang paling menentukan justru ada di bagian depan. Ia menyebut masalah utama timnya bukan pada usaha bertahan, melainkan pada kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengubahnya menjadi gol.

Iraola menjelaskan, ā€œWhat was lacking was quite clear, it is the first game we had problems to create chances and score goals and make the difference offensively, and that is the main reason we couldn’t create chances.ā€ Pernyataan itu merangkum mengapa laga di Anfield tidak berubah menjadi kemenangan, meski Liverpool memiliki momen-momen yang sempat menjanjikan.

Memang, Liverpool masih belum terkalahkan. Namun, tren tiga hasil seri dari empat pertandingan Premier League awal mengubah cara tim dan pendukung menilai hasil yang didapat, terutama karena titik-titik kehilangan angka justru terjadi di kandang sendiri.

Penjaga gawang Alisson bahkan menyampaikan nada ketidakpuasan yang tegas. ā€œWe are not happy at all with the draw. It is not something that should happen with Liverpool . To be unbeaten, but with three draws, is not something to celebrate too much with this shirt,ā€ ujarnya. Baginya, hasil tanpa gol bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa tim belum menjalankan sesuatu yang seharusnya bisa lebih baik.

Alisson menambahkan alasan yang berkaitan dengan tuntutan jadwal. ā€œIf we want to do something special [this season] we have to cope with playing a game Wednesday, Saturday and then Tuesday. We need to have the right mental state and that was not the case from what we showed. Inside we have it, but we have to just put it out and put more energy on the pitch.ā€

Di pertandingan melawan Fulham, Iraola juga mengakui bahwa kondisi fisik dan mental ikut berperan. Ia menegaskan ada perbedaan bentuk permainan dibanding laga sebelumnya, dan rotasi yang dilakukan tidak cukup mengubah dinamika pertandingan.

Rangkaian jadwal dan ā€˜lack of freshness’ yang terasa

Di lini serang, Liverpool memulai pertandingan dengan trio yang menjadi sorotan: Alexander Isak, Bradley Barcola, dan Florian Wirtz. Namun, susunan tersebut belum langsung memberi efek yang diperlukan untuk mencetak gol, sehingga peluang yang muncul belum mencapai kualitas yang memadai untuk menembus pertahanan Fulham.

Isak menjadi salah satu yang punya catatan menarik, tetapi juga menunjukkan betapa serangan Liverpool kesulitan menekan secara efektif. Ia mencatat 16 sentuhan sepanjang 90 menit, angka yang menjadi yang kedua tersedikit untuk pemain Liverpool lini serang di luar starting dari rekor yang disebut di laga ini, setelah sebelumnya mencatat 14 sentuhan saat melawan Forest dua pekan lalu.

Wirtz juga dinilai belum menampilkan pengaruh yang sama seperti ketika Liverpool tampil kuat pada pertandingan tengah pekan melawan Atletico Madrid. Meski Barcola dan Isak sempat menghadirkan beberapa momen yang memberi harapan, Iraola melihat bahwa pasangan ini masih membutuhkan waktu untuk berkembang.

Iraola merujuk hal tersebut dalam komentarnya kepada Match of the Day. ā€œBradley is one we are building up physically with games and the games will give him the condition we want,ā€ katanya. ā€œBut it is not just Bradley, we lack the freshness. I only remember one clear chance [for Fulham ] and we kept the structure but offensively we need to do much better.ā€

Poin pentingnya, Liverpool memang berusaha menjaga struktur permainan, tetapi kemampuan menyerang mereka belum berada pada level yang dibutuhkan untuk memaksimalkan laga di kandang. Dengan kualitas serangan yang belum konsisten, pertandingan akhirnya berjalan tanpa gol.

Pelatih juga berbicara soal cara tim menavigasi jadwal yang padat. Sebelum laga melawan Fulham, Iraola menjelaskan bagaimana ia mencari keseimbangan intensitas dengan beban pertandingan yang berdekatan. Responsnya menegaskan bahwa pemain tidak diarahkan untuk ā€œmenghematā€ tenaga karena masih ada pertandingan dalam tiga hari ke depan.

Ia mengungkapkan, ā€œYou play 55 minutes for me and you are dead and ask for a sub, then perfect,ā€ serta menambahkan, ā€œWe have a top-level 55 minutes and then a top-level 35 minutes.ā€ Pola yang ia bayangkan jelas memberikan target intensitas, tetapi pada jam-jam tertentu, dampak kelelahan tetap sulit dihindari.

Menjelang akhir satu jam pertandingan, rotasi yang dilakukan Iraola juga tidak langsung memicu kebangkitan permainan. Dalam pergantian yang terjadi setelah jeda dan setelah menit ke-60, Kostas Tsimikas ditarik pada babak pertama, sementara Ryan Gravenberch dan Victor Munoz diganti setelah 60 menit. Liverpool kemudian memasukkan Milos Kerkez, Cody Gakpo, Alexis Mac Allister, Rio Ngumoha, dan Jeremie Frimpong, namun perbaikan yang diharapkan tidak benar-benar terlihat pada kualitas peluang.

Iraola kemudian mengakui kondisi itu secara gamblang. ā€œThe players were tired and there is a lack of freshness – we cannot hide it. This is the worst turnaround in terms of 60 or 70 hours [since the last game], but this is going to happen in the season and we have to adapt and it is these kind of games that you need to win sometimes with a set-play or a moment of brilliance.ā€

Belum terlambat, tapi adaptasi harus lebih cepat

Dengan minimal tujuh pertandingan Champions League yang masih menunggu serta laga Piala Liga Inggris melawan Tottenham yang akan datang pada Selasa di kandang, Liverpool mau tidak mau harus segera menemukan cara untuk meraih hasil saat jeda antar pertandingan sangat singkat. Realisasi dari Iraola dan tim adalah bahwa skor yang tidak mereka mau bisa muncul lebih sering di fase padat, tetapi tim harus belajar mengubah laga-laga seperti ini menjadi kemenangan.

Meski masih terlalu dini untuk menyimpulkan krisis, tanda-tanda soal ā€œkesegaranā€ yang menurun dan minimnya peluang yang benar-benar tajam sudah mulai terlihat. Pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Liverpool mampu tampil, melainkan apakah mereka bisa tampil cukup klinis untuk mengamankan tiga poin ketika ritme pertandingan menekan mereka sejak awal musim.