jurnalistik.co.id – Bitcoin kembali bergoyang setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan performa yang lebih kuat dari perkiraan. Pergerakan ini menekan mata uang kripto tersebut dan menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.
Di tengah sentimen tersebut, harga Bitcoin sempat mengalami penurunan hingga menyentuh level US$78.649. Penurunan sekitar 3,5% terjadi bersamaan dengan suasana pasar yang cenderung risk-off, yang terlihat dari pelemahan saham maupun obligasi.
Lonjakan perhatian pasar berawal dari pembacaan terhadap laporan tenaga kerja. Angka nonfarm payrolls pada Agustus tercatat naik 162.000, dan kenaikan itu melampaui seluruh estimasi dalam survei Bloomberg. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap berada di 4,1%, sehingga tidak ada tanda pelebaran yang signifikan pada sisi ketenagakerjaan.
Ketika data tenaga kerja dipandang lebih solid, imbal hasil instrumen pendapatan tetap cenderung bergerak berlawanan dengan harapan aset berisiko. Imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun ikut menguat, sementara dolar AS juga menguat. Kombinasi keduanya umumnya membuat daya tarik aset-aset seperti kripto ikut tertahan.
Dalam beberapa waktu sebelumnya, Bitcoin sempat berhasil menembus area US$80.000. Namun, setelah itu mata uang kripto tersebut berulang kali kesulitan bertahan pada level tersebut. Dengan munculnya data tenaga kerja yang lebih kuat, pembalikan harga menjadi semacam ujian ulang atas daya tahan Bitcoin dari perspektif makroekonomi.
Berita Terkait
Sentimen yang bergeser juga memperlihatkan bagaimana pasar menimbang ulang jalur kebijakan moneter. Data tenaga kerja yang lebih tinggi dari proyeksi kembali memunculkan taruhan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September. Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil dan penguatan dolar mempertegas ekspektasi pasar bahwa kondisi likuiditas dapat tetap ketat.
Setelah tekanan awal tersebut, Bitcoin kemudian menunjukkan tanda adanya pembalikan yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebagian pelaku. Pada Kamis, mata uang kripto itu kembali menembus level US$80.000 setelah imbal hasil obligasi turun dan dolar AS melemah. Kondisi ini menciptakan ruang bagi aset berisiko untuk kembali menarik minat.
Perubahan nada juga mendapatkan dukungan dari sinyal pejabat The Fed. Gubernur The Fed Christopher Waller disebut mendukung skenario mempertahankan suku bunga apabila inflasi terus mereda. Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi secara lebih agresif.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin kali ini tidak berdiri sendiri. Harga kripto bergerak mengikuti tarik-menarik ekspektasi antara indikator tenaga kerja yang menanjak dan sinyal kebijakan yang lebih bergantung pada perkembangan inflasi. Saat data ketenagakerjaan menjadi lebih kuat, pasar cenderung menilai peluang pengetatan kebijakan meningkat. Namun ketika tekanan suku bunga berkurang dan dolar melemah, Bitcoin memperoleh ruang untuk kembali menguji level psikologisnya.
Ke depan, fokus pasar tampaknya kembali pada konsistensi arah inflasi dan respons kebijakan The Fed. Apabila inflasi terus mereda seperti yang diisyaratkan Waller, pasar bisa menerima kemungkinan suku bunga dipertahankan. Namun jika indikator ekonomi lain ikut menguat, ekspektasi penyesuaian kebijakan bisa kembali bergerak, dan volatilitas Bitcoin berpotensi tetap tinggi.
Secara ringkas, Bitcoin sempat turun hingga US$78.649 setelah laporan nonfarm payrolls Agustus meningkat 162.000 dan pengangguran bertahan di 4,1%. Setelah itu, pergerakan berbalik ketika imbal hasil Treasury bertenor dua tahun melemah dan dolar melemah, seiring sinyal Waller yang menekankan keputusan suku bunga dengan mempertimbangkan tren inflasi. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat Bitcoin kembali menantang area US$80.000, meski sebelumnya berulang kali sulit bertahan di zona tersebut.












