jurnalistik.co.id – FIFA mengeluarkan kritik keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai upaya “concerted and ongoing effort” untuk “undermine” organisasi serta presiden Gianni Infantino. Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Sabtu, federasi sepak bola dunia juga menolak berbagai tuduhan yang dinilai tidak berdasar.
Langkah FIFA muncul setelah sebuah laporan Daily Telegraph yang mengklaim bahwa dugaan kekasih Infantino memperoleh kompensasi pesangon dari UEFA. Laporan itu disebut terkait dengan dugaan perselingkuhan saat Infantino menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA.
FIFA menegaskan responsnya melalui kalimat yang menyoroti kredibilitas klaim. Mereka menyebut adanya “unsubstantiated assertions and demonstrably false claims”, sekaligus menekankan bahwa “speculation and insinuation should not be presented as fact”.
Dalam pernyataan tersebut, FIFA juga mengingatkan bahwa proses demokratis internal organisasi tidak boleh digantikan oleh narasi berbasis dugaan. FIFA mengatakan pihak yang tidak didukung oleh asosiasi anggota seharusnya tidak berusaha mencapai tujuan lewat “allegation, insinuation or misinformation” alih-alih melalui mekanisme demokratis yang telah ditetapkan.
Pernyataan FIFA menempatkan konteksnya pada meningkatnya tekanan terhadap Infantino dari UEFA dan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa. Tekanan itu dikaitkan dengan proposal Fifa Forward Enterprise (FFE) yang pada akhirnya batal dijalankan.
FFE, menurut pemberitaan, akan membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan tiket. Rencana tersebut juga disebut mencakup penjualan 21% saham kepada sebuah perusahaan investasi swasta.
UEFA, dalam sikapnya, menyatakan bahwa mereka telah “lost confidence” terhadap Infantino. Selain itu, Lise Klaveness selaku presiden Norwegian Football Federation pada hari Jumat juga menyerukan agar Infantino mengundurkan diri.
Di sisi lain, badan sepak bola Eropa itu menyebutkan bahwa ancaman untuk memboikot kegiatan FIFA masih tetap ada. UEFA menambahkan bahwa beberapa kondisi yang mereka tetapkan belum dipenuhi.
Berita Terkait
FIFA menanggapi tekanan tersebut dengan kembali menekankan dasar legitimasi jabatan Infantino. FIFA menyatakan bahwa “The Fifa President was democratically elected by Fifa’s Member Associations and continues to serve with their mandate,” lalu menambahkan bahwa “It is increasingly evident that there is a concerted and ongoing effort by some to undermine Fifa and its president.”
Menurut informasi yang dibahas, oposisi terhadap Infantino sebagian besar datang dari lingkungan Eropa. Namun, terdapat pembelokan sikap dari federasi di luar blok tersebut, salah satunya Federasi Sepak Bola Meksiko yang memilih untuk mendukung Infantino meski berbeda dengan konsensus regionalnya di bawah Concacaf.
Dalam dukungan itu, Meksiko menggemakan pernyataan Conmebol, badan sepak bola Amerika Selatan. Conmebol menyatakan bahwa mereka menolak upaya untuk menghapus Infantino tanpa proses pemungutan suara yang melibatkan seluruh 211 negara anggota FIFA.
Infantino juga disebut memperoleh dukungan dari kawasan Afrika. Dukungan itu datang secara serempak dari 54 negara di bawah Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf), yang secara khusus menyatakan keberpihakan terhadap kepemimpinan Infantino.
Dengan demikian, konflik yang bergulir menyentuh dua lapis isu: polemik pernyataan yang menyoal klaim berbasis dugaan, serta ketegangan antara FIFA dan sejumlah institusi sepak bola Eropa terkait rencana FFE yang berujung batal. Di tengah tekanan dan pernyataan yang saling bersilang, FIFA tetap pada posisi bahwa jabatan Infantino berlandaskan mandat asosiasi anggota melalui proses demokratis organisasi.
Dalam rentetan perkembangan itu, FIFA menempatkan bantahannya sebagai tanggapan langsung terhadap klaim yang muncul dari laporan media, sekaligus menegaskan bahwa informasi berbasis dugaan tidak seharusnya mengarahkan opini publik.
FIFA juga menggambarkan posisi Infantino sebagai hasil pemilihan demokratis oleh asosiasi anggota, sehingga upaya untuk menggoyahkan kepemimpinannya dinilai seharusnya kembali merujuk pada mekanisme resmi, bukan desakan sepihak.
Di tengah tarik-menarik tersebut, sinyal dari berbagai konfederasi menunjukkan polarisasi: tekanan datang dari institusi Eropa, sementara dukungan dari wilayah lain mempertegas penolakan terhadap penghapusan tanpa pemungutan suara yang melibatkan seluruh negara anggota.












