jurnalistik.co.id – Kimi Antonelli menilai perubahan dirinya sebagai pembalap F1 tidak datang secara tiba-tiba, melainkan terbentuk sejak momen pertama ia mengendalikan Mercedes musim ini. Ia mengaku langsung merasakan bahwa dirinya akan “transformed” menjadi pembalap F1, jauh sebelum hasil-hasil di klasemen berbicara besar.
Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, pembalap Italia berusia 20 tahun itu menuturkan ia masih “still finding my way” di F1, meski performanya sudah membuat jarak signifikan di puncak klasemen. Baginya, proses adaptasi tidak berhenti pada satu fase, termasuk setelah crash yang tahun lalu “stayed in my head for a very long time”.
Antonelli mengatakan, kunci perubahan berada pada cara pikir saat berada di dalam mobil. Ia menilai transformasi itu terasa sejak awal saat mengemudikan Mercedes edisi 2026.
Merasakan perubahan sejak hari-hari pertama di Mercedes
Ia menggambarkan momen itu terjadi di Silverstone pada Januari—hari yang dingin dan lembap. Antonelli menyebut hanya “a few laps in the wet”, tetapi ia langsung merasa lebih baik di dalam mobil dibanding musim sebelumnya.
Menurutnya, pengalaman tahun ini membuat ia tampil lebih tenang, lebih santai, dan lebih matang secara mental. Ia merangkum perbedaan itu dengan “Less tense, more relaxed and more mature.”
Sebagai pembanding, Antonelli menilai musim debutnya “not great”. Ia mengatakan “I was driving very tense most of the time” sehingga ia merasa tidak mampu mengekstrak potensi dirinya, lalu menambahkan, “This year, it’s a lot different. The mindset has been the biggest change.”
Jalannya kemudian terlihat jelas ketika kompetisi bergulir berbulan-bulan berikutnya. Setelah 14 grands prix, jarak Antonelli mencapai 81 poin dari rekan setimnya, George Russell, dengan sisa balapan delapan atau sembilan lomba—tergantung situasi di kawasan Timur Tengah.
Ia juga menekankan betapa kontrol yang ia miliki membuatnya tampak konsisten di setiap akhir pekan. Semua orang, kata Antonelli, memahami gelar sudah “basically over”, kecuali terjadi semacam kemalangan besar.
Namun, meski berada dalam posisi dominan, Antonelli tetap mengakui, ia masih sedang mencari cara. Ia menyebut “still finding my way” di F1—sebuah kalimat yang menegaskan bahwa adaptasi masih berlangsung.
Crash di FP3 dan bukti mental setelahnya
Antonelli menilai ada dua momen nyata dalam musim ini. Salah satunya muncul ketika Mercedes mulai menunjukkan keunggulan, namun ia sendiri sempat mengalami masalah besar.
Ia mengingat, “I had a big, big crash in FP3.” Meski insiden itu berdampak, Antonelli mengatakan ia bisa kembali ke mobil dan mendorong lagi pada kecepatan tinggi, hingga mendekati batas.
Menurutnya, setelah crash tersebut, proses pemulihan tidak mudah karena mobil tidak bisa disetel dengan baik. Ia menegaskan, “The crash, definitely it compromised a little bit qualifying and the race because we couldn’t set up properly the car.”
Meski begitu, Antonelli menilai mobil tetap cepat. Ia menyimpulkan bahwa situasi tetap menuntut perjuangan besar: “It’s going to be very tough”, tetapi ia sudah tahu ceritanya berbeda dibanding tahun sebelumnya.
Ia menambahkan, “If it would have happened last year, I wouldn’t have been able to overcome that.” Baginya, kemampuan untuk tetap dekat—bahkan setelah insiden—menjadi bukti penting bahwa arah perbaikannya benar.
Saat menengok jalannya musim, Antonelli juga menyebut musim sebelumnya sebagai periode yang membuatnya tertinggal. Pada 2025, Russell dinilainya tampil lebih unggul, dan saat regulasi baru mulai memberi keuntungan pada Mercedes, Russell sempat memulai musim lebih baik.
Russell menang pada balapan pembuka di Australia, namun Antonelli tetap berada dalam jarak ketat, “less than three seconds behind him at the flag.” Ia mengaitkan momen itu sebagai petunjuk bahwa ada sesuatu yang mungkin.
Monza 2024 yang meninggalkan bayangan
Perjalanan Antonelli juga dibayangi memori lama dari masa awalnya di F1. Ia menceritakan bahwa insiden di Monza 2024 terus menghantuinya dalam waktu yang lama.
Di Grand Prix Italia 2024, setelah Mercedes secara resmi mengonfirmasi Antonelli sebagai pengganti Lewis Hamilton yang akan pindah ke Ferrari, tim memberinya kesempatan tampil di latihan pertama di Monza. Ia mengaku sangat cepat di “first flying lap”, tetapi kemudian mengalami crash keras pada putaran kedua.
Antonelli mengatakan bahwa Toto Wolff saat itu meredam dampaknya, dengan menyebut bahwa kesalahan dari Antonelli adalah hal yang wajar karena ia masih mencari pijakan. Meski demikian, di belakang layar insiden itu memberi efek besar pada dirinya.
Antonelli mengungkap, “Monza stayed in my head for a very long time.” Ia menilai pengaruhnya masih terasa sepanjang musim lalu, termasuk di bagian tengah 2025, dan menyebut memori itu membuatnya semakin kuat.
Ia menjelaskan ketakutannya bukan sekadar soal insiden, melainkan rasa takut membuat kesalahan. Ia mengingat “This memory of being afraid to do a mistake” terasa makin berat, karena ia berpikir, “If I even do a mistake or I crash, it’s even worse.”
Menurutnya, “it’s been a thing that has been bothering me a lot last year.” Namun, pada musim ini ia merasa mampu menyingkirkannya: “This year I was able to just put it behind.”
Kerja mental, persiapan pramusim, dan rutinitas
Untuk mengubah arah itu, Antonelli menuturkan ia melakukan pekerjaan besar di luar lintasan. Ia menganalisis apa yang terjadi pada 2025, bagian yang berjalan baik, yang tidak, dan apa yang bisa ditingkatkan.
Berita Terkait
Tentang fokus musim ini, Antonelli mengatakan: “The mindset going into this season, it was mainly trying to be able to extract more out of my potential.” Ia menambahkan bahwa ia ingin melakukan lebih baik dari tahun sebelumnya dan “trying to put things more together.”
Ia juga menekankan intensitas persiapan pramusim: “The preparation that I did in pre-season was very, very intense.” Menurutnya, hal itu membuat ia datang dalam kondisi siap untuk musim baru.
Selain persiapan teknis, ia juga bekerja dengan mental coach. Antonelli menyebut ia berusaha “to get my head right” dan menyusun pikirannya agar memahami tujuan, sembari menganggap hal paling penting adalah siap dan tetap hadir pada momen yang sedang berlangsung.
Ia menjelaskan caranya tidak terjebak pada bayangan hasil akhir: “Not trying to think about final results or what would happen if I wouldn’t achieve that. But just trying to be present and trying to do the best with what you can do in the moment.”
Mulai terasa ringan setelah kemenangan dan pole
Meski berada dalam laju yang kuat, Antonelli mengaku tetap terkejut melihat seberapa besar progresnya. Ia mengatakan ia sudah memperkirakan akan lebih baik dari musim pertama, tetapi ia menilai 2025 tetap “not great”.
Menurutnya, musim ini terasa berbeda, dan keberhasilan seperti kemenangan pertama serta pole pertama ikut “took a lot of weight off my shoulder.”
Ia juga menggambarkan performa yang mengalir: jika ia mundur sedikit dalam sebuah balapan, ia bisa pulih cepat dan rapi. Ia menilai manuver overtaking bisa dikerjakan dengan keputusan yang tegas, dan ia merasa tidak ada sirkuit yang membuat kecepatannya turun secara signifikan.
Sementara itu, Antonelli menyebut Russell juga telah memikirkan gaya mengemudinya yang tidak sepenuhnya cocok dengan mobil baru musim ini. Ia tidak ingin mengurangi pujian pada rekan setimnya, namun perbandingan itu membuat pertanyaan kembali muncul: apakah dominasi Antonelli berasal dari kenaikan dirinya, atau karena Russell tertinggal.
Antara kenaikan Antonelli dan tantangan Russell
Antonelli mengakui pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Ia berkata, “That’s a very difficult question,” sebelum menegaskan, “I’ve definitely stepped up.”
Bagi Antonelli, musim ini memang semuanya baru. Menurutnya, perubahan membutuhkan pendekatan berbeda, termasuk adaptasi pada mobil yang belum tentu mudah dia kuasai sejak awal.
Ia menyebut konsistensi tahun ini muncul karena ia menemukan “a nice rhythm in the season.” Ia ingin menjalani akhir pekan dengan rutinitas yang sama, karena ia percaya itu membantu dirinya tetap siap saat masuk ke mobil.
Meski demikian, ia juga mengingat bahwa masih ada momen ketika ia salah menilai situasi. Ia mencontohkan Grand Prix Barcelona-Catalunya beberapa hari setelah kemenangan besar di Monaco.
Antonelli menjelaskan, “Monaco was a very high moment for me in the season, and then I went to Barcelona and I was probably a bit too excited, especially over a single lap.” Ia menilai dirinya terlalu berlebihan mengejar waktu putaran.
Ia berkata, “So I was overdriving, I was chasing the lap time and the result didn’t come in qualifying. I was actually a bit far back and didn’t do a good lap.” Menurutnya, itu terjadi karena ia berusaha terlalu banyak setelah momen karier yang sangat tinggi.
Ia merangkum pelajarannya dengan kalimat, “But that’s because I was trying to do a bit too much after a very high moment in my career. And then I understood that is not the way.”
Pelajaran setelah Monza dan kemenangan berikutnya
Antonelli kemudian menerapkan pelajaran itu setelah kemenangan dari posisi ke-19 di grid pada Monza, yang merupakan balapan kandangnya. Toto Wolff menyebut hasil tersebut “closed a cycle” dari crash 2024 Antonelli.
Antonelli menuturkan bahwa setelah Monza, ia mengingatkan dirinya sendiri: “After Monza, I reminded myself, ‘Don’t make the same mistake as you did after Monaco.’”
Tujuh hari berselang, Antonelli memenangkan Grand Prix Spanyol. Itu menjadi kemenangan kedelapannya dari 14 balapan pada musim sejauh ini.
Perubahan hidup dan fokus agar gelar tidak lepas
Dengan kesuksesan datang pula perhatian. Antonelli mengatakan hidupnya berubah banyak dan ia tidak menutupinya: “Life has changed a lot.”
Ia menambahkan, “I’m not going to lie. It’s been a big change, but it’s nice to see so much support.” Meski demikian, ia menegaskan bahwa ketenaran juga membuat dirinya harus lebih waspada: “You’ve got to protect yourself a bit more because obviously you’re more exposed.”
Sepanjang tahun, Antonelli sering bicara tentang fokus pada proses—mengerjakan yang terbaik setiap hari tanpa terlalu memikirkan gambaran besar. Namun, untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa pertarungan gelar kini mulai masuk ke pikirannya.
Ia berkata, “Yes, I thought about it,” lalu menjelaskan kesimpulan yang sama berulang: “But again, thinking about it, I came always to the same conclusion that the earlier I finish all this, the better it is.”
Karena itu, ia berusaha terus mendorong tanpa henti. Ia menutup penjelasannya dengan, “So I’ve got to just keep pushing. I keep doing the best I can every race. Because, yeah, that’s the way. Just not finish. And until it’s done, it’s not over.”












