Olahraga

Pocognoli: “positive nervousness” untuk debut bersama Skotlandia

×

Pocognoli: “positive nervousness” untuk debut bersama Skotlandia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pocognoli has 'positive nervousness' for Scotland debut

jurnalistik.co.id – Sebastien Pocognoli memulai babak barunya sebagai pelatih kepala timnas Skotlandia dengan perasaan yang ia sebut “positive nervousness”. Ia akan memimpin tim menghadapi Slovenia pada laga Nations League di Ljubljana, Sabtu (26 September) pukul 14:00 BST.

Dalam pengantar menjelang pertandingan pertamanya, pelatih asal Belgia itu mengakui bahwa ia merasakan gugup. Namun, baginya gugup tersebut hadir dalam bentuk yang positif.

Positive nervousness untuk debut di Ljubljana

“Jika kita bicara soal gugup, ya, tetapi ini adalah ‘positive nervousness’,” kata Pocognoli kepada BBC Sport Scotland. Ia menambahkan bahwa tanggung jawab sebagai pelatih membuat situasi terasa penuh arti, sekaligus memunculkan rasa bersemangat.

Menurutnya, “Kami punya pekerjaan dengan tanggung jawab. Ini adalah kegembiraan, dan saya benar-benar antusias berada di pinggir lapangan.”

Pocognoli menegaskan bahwa laga melawan Slovenia menjadi langkah awal yang penting dalam periode yang padat. Skotlandia sudah menjalani kamp cuaca hangat di La Manga, Spanyol, dengan komposisi skuad yang mengalami banyak perubahan.

Pelatih berusia Belgia tersebut resmi ditunjuk pada bulan Agustus, menggantikan Steve Clarke. Periode Clarke berakhir setelah Skotlandia tersingkir di fase grup Piala Dunia.

Debut Pocognoli juga disertai jadwal yang menuntut kesiapan cepat. Ia memulai dengan empat pertandingan Nations League dalam rentang 11 hari.

Setelah perjalanan ke Slovenia, tim akan menghadapi Swiss di Hampden. Skotlandia kemudian bertandang ke Irlandia Utara? (tidak ada fakta itu) — melainkan laga di North Macedonia, sebelum kembali berjumpa dengan Slovenia di Glasgow.

“Kami punya empat pertandingan, jadi kami perlu merencanakan,” ujar Pocognoli. Ia menambahkan perlunya pengelolaan periodisasi untuk aspek taktik, aspek fisik, serta pemulihan.

Ia menjelaskan bahwa perencanaan menyangkut cara mengatur beban latihan dan permainan secara terukur. “Kami membutuhkan periodeisasi tentang aspek taktis dan aspek fisik,” katanya.

Bagi Pocognoli, tim yang ia pimpin masih memberi ruang fleksibilitas dalam pendekatan. Ia menyebut skuadnya siap menghadapi variasi strategi selama rangkaian empat laga tersebut.

“Tim ini bisa fleksibel. Kami siap untuk empat pertandingan dari sisi pendekatan seperti apa yang ingin kami berikan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa keputusan taktik tidak semata-mata mengunci satu bentuk formasi. “Saya selalu berpikir pemain memilih diri mereka sendiri,” tambahnya.

Walau tiga pemain di belakang menjadi ciri yang sebelumnya sering ia terapkan, ia tidak merasa terikat pada satu sistem tertentu. Pada laga melawan Slovenia, ia mengaku telah memahami tim dan formasi yang akan dipakai.

Meski begitu, ia menekankan bahwa pemilihan pemain dan penyesuaian di lapangan akan menjadi bagian dari proses. “Jadi, untuk laga ini, saya tahu timnya dan formasinya,” kata Pocognoli, sebelum menggarisbawahi bahwa keputusan tidak berhenti pada kerangka yang kaku.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah kombinasi antara rencana jangka pendek dan kesiapan jangka panjang dalam ritme kompetisi yang padat.

Ia bahkan menyatakan bahwa ada kebutuhan respons yang harus dibuktikan melalui pertandingan. “Baik sejauh ini,” ucapnya mengenai apa yang ia lihat selama kamp di La Manga, sebelum menekankan bahwa yang menentukan tetaplah kinerja di laga resmi.

“Tapi kami perlu melihat respons lewat pertandingan. Terserah mereka untuk tampil baik, tetapi terserah saya untuk membuat mereka tampil baik,” katanya.

Perubahan skuad dan tantangan mencari keseimbangan

Kamp La Manga juga menjadi panggung untuk memperkenalkan wajah-wajah baru. Pocognoli memberi kepercayaan kepada James Wilson yang berusia 19 tahun.

Selain itu, ia membawa empat pemain berusia 20 tahun: Findlay Curtis, Ben Gannon-Doak, Lennon Miller, dan Colby Donovan. Ada pula tiga pemain berusia 22 tahun: Kristi Montgomery, Luke Graham, dan Robbie Ure.

Dalam perubahan tersebut, Kristi Montgomery tampil menggantikan Kenny McLean yang mengalami cedera. Akibatnya, kini ada delapan pemain yang belum pernah melakukan debut internasional dalam skuad.

Pocognoli memandang komposisi ini sebagai tantangan sekaligus kesempatan membangun chemistry. “Ini banyak wajah baru, jadi ini tantangan untuk menemukan keseimbangan yang tepat, untuk menjaga kekompakan tim,” katanya.

Bagi pelatih, menjaga kohesi menjadi kebutuhan utama agar gaya permainan yang ia inginkan bisa diterapkan dengan cepat. Ia menilai tim harus segera menemukan ritme, terutama mengingat jeda antarpertandingan yang rapat.

Kompetisi Nations League, dengan susunan jadwal yang padat, memaksa rotasi. Pocognoli sudah mengantisipasi kebutuhan pergantian pemain dari laga tandang di Slovenia ke duel kandang melawan Swiss, lalu pertandingan di North Macedonia, sebelum penutup menghadapi Slovenia lagi di kandang Glasgow.

Komunikasi dengan Clarke dan filosofi gaya bermain

Selain mempersiapkan strategi, Pocognoli juga berbicara dengan pendahulunya. Ia menyebut telah melakukan percakapan dengan Steve Clarke melalui telepon.

“Pertemuan yang menyenangkan di telepon,” kata Pocognoli, menggambarkan Clarke sebagai sosok yang baik dan rendah hati. Menurutnya, pertemuan itu membantu karena Clarke memberi tahu bahwa ia mendukung tim, sekaligus menyampaikan bahwa ia merasa sudah waktunya untuk pergi.

Clarke, kata Pocognoli, “sangat baik dan sangat… rendah hati. Itu sangat membantu saya. Tujuannya agar saya tahu bahwa ia mendukung tim. Dia sangat bahagia [selama menjabat] tetapi ia juga merasa ini waktu yang tepat untuk pergi. Ia mengucapkan yang terbaik untuk saya.”

Ia menambahkan bahwa ia akan berusaha meraih kesuksesan seperti staf sebelumnya. “Saya akan mencoba menjadi sesukses staf sebelumnya, karena kami ingin bermain di turnamen besar. Kami ingin menciptakan momen itu untuk negara ini,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah gaya sepak bolanya akan membawa lebih banyak risiko dan petualangan dibanding masa Clarke, Pocognoli menekankan pentingnya keseimbangan. “Kita harus menemukan keseimbangan yang tepat, karena jika Anda bermain sepak bola yang luar biasa tapi tidak lolos, Anda akan mendapat kritik,” katanya.

Secara karakter, Pocognoli menyatakan bahwa idenya tentang permainan menekankan pressing agresif dan tempo cepat. Ia mengakui proses pembentukan kohesi mungkin membutuhkan waktu, tetapi ada hal-hal yang ingin ia lihat segera ketika menghadapi Slovenia.

“Bagi saya, ini tentang kepribadian para pemain,” kata Pocognoli. Ia menyukai tim sebagai satu kesatuan yang saling berjuang.

Baginya, prinsip dasar itu jelas: “Menyerang bersama-sama dan rapatkan lapangan. Saat kami perlu bertahan, maka kami bertahan seperti saudara. Ketika kami kehilangan bola, kami berusaha merebutnya kembali secepat mungkin.”

Ia menambahkan bahwa banyak prinsip lain akan mengikuti, tetapi fondasinya tetap sama. “Dari sana ada banyak prinsip lain, tetapi dasarnya adalah itu. Jika Anda tidak bisa melakukan ini, Anda tidak akan pernah punya prinsip yang baik di lapangan,” tegasnya.

Dengan debut yang datang di tengah jadwal padat serta perubahan skuad, Pocognoli menutup dengan pesan yang menuntut respons dari pemain. Dari La Manga yang ia nilai “baik sejauh ini”, ia berharap komitmen tim segera terlihat dalam performa di pertandingan-pertandingan Nations League berikutnya.