jurnalistik.co.id – Kimi Antonelli berbagi kilas balik tentang momen ketika ia merasa dirinya benar-benar berubah menjadi pembalap Formula 1. Dalam wawancara yang membahas lompatan performanya, ia menautkan perubahan besar itu dengan cara berpikir yang lebih matang dan lebih tenang saat mengemudi.
Antonelli—Pebalap Italia berusia 20 tahun—sedang melaju sendirian di puncak klasemen dunia F1 pada musim ini. Setelah 14 balapan, ia unggul 81 poin dari rekan setimnya, George Russell, dengan sisa balapan tinggal delapan atau sembilan (tergantung situasi di Timur Tengah).
Yang menarik, ia tidak terlihat seperti pembalap yang “sekadar kebetulan sedang kencang”. Ia hadir hampir dalam tiap balapan dengan ritme yang terjaga, cepat, dan tetap kompos saat balapan berlangsung.
Meski arah gelar hampir pasti, Antonelli tetap menegaskan bahwa perjalanan F1 miliknya belum benar-benar selesai. Ia mengaku masih terus mencari bentuk: “Even then, Antonelli says he is "still finding my way" in F1.”
Tanda pertama di Silverstone: lebih tenang, lebih matang
Antonelli menyebut momen paling awal ketika ia mulai yakin dirinya akan mengalami transformasi sebagai pembalap F1 di 2026. Ia mengingat hari di Januari—cuaca dingin dan hujan di Silverstone—yang menjadi semacam titik pembeda.
Ia menjelaskan, “It was just a few laps in the wet,” sebelum menambahkan bahwa ia merasa lebih baik di dalam mobil dibandingkan pada musim sebelumnya. Baginya, yang berubah bukan hanya performa, tetapi juga kondisi mental: “Also the car felt well, but I just felt better mentally in the car. Less tense, more relaxed and more mature.”
Ia juga membuka penilaian jujur tentang musim terakhirnya. “Last year, he says, was "not great",” karena ia merasa terlalu tegang hingga sulit mengekstrak potensi penuh dari dirinya.
Menurut Antonelli, “I was driving very tense most of the time, I wasn’t able to extract the potential out of me,” sementara tahun ini menghadirkan perbedaan yang nyata. “This year, it’s a lot different. The mindset has been the biggest change.”
Ketika semuanya terasa mungkin: crash besar di FP3
Delapan bulan kemudian, dampak dari cara berpikir itu tampak jelas. Salah satu fase penting datang ketika Mercedes menjalani awal musim dengan performa yang menjanjikan di era regulasi baru.
Antonelli menceritakan bahwa dari musim 2025 ia memang kalah telak dari Russell, sehingga ketika tanda-tanda keunggulan muncul, Russell-lah yang memulai dengan label favorit. Russell menang di Australia pada balapan pembuka, namun Antonelli hanya terpaut kurang dari tiga detik saat garis finis.
Antonelli menganggap itu bagian dari “realisation” bahwa peluang besar sedang terbuka. Ia mengingat momen lain yang menjadi pembeda: “I had a big, big crash in FP3.”
Ia menjelaskan bagaimana, setelah insiden itu, ia tetap diberi kesempatan untuk kembali mendorong batas. “But then thanks to the mechanics – who all throughout the season have done an incredible job, but on that specific occasion, it is a miracle – I was able to go back in the car and push again in the high speed and getting close to the limit.”
Meskipun crash tersebut membuat persiapan sesi kualifikasi dan balapan tidak ideal—karena mobil tidak bisa diset-up secara sempurna—ia menilai mobil tetap cepat. “The crash, definitely it compromised a little bit qualifying and the race because we couldn’t set up properly the car. I mean, the car was still very quick. But it was not easy.”
Ketika ditanya soal makna dari momen itu, Antonelli menggambarkan perubahan cara merespons tekanan. “Still being able to stay close despite that, I was like, ‘OK, you know, it’s not going to be a walk in the park. It’s going to be very tough’, but I knew already that it was a different story compared to last year.” Ia bahkan menegaskan bahwa bila insiden serupa terjadi setahun sebelumnya, ia tidak akan mampu melewatinya: “If it would have happened last year, I wouldn’t have been able to overcome that.”
Bayang Monza 2024: “Monza stayed in my head”
Musim pertamanya di F1 tidak hanya diwarnai tantangan teknik, tetapi juga peristiwa psikologis yang ia simpan lama. Antonelli menyebut satu insiden saat pertama kali terjun pada akhir pekan balapan Grand Prix.
Pada GP Italia 2024, sehari setelah pengumuman resmi bahwa ia menggantikan Lewis Hamilton yang mengarah ke Ferrari, Mercedes memberi Antonelli kesempatan menjalani latihan bebas pertama di Monza. Ia melaju sangat cepat pada lap terbang pertamanya, tetapi kemudian mengalami crash berat pada lap berikutnya.
Toto Wolff saat itu meredam dampak dengan pengertian bahwa kesalahan adalah bagian dari proses ketika Antonelli “finding his feet” di F1. Namun, Antonelli mengungkap bahwa efeknya sangat besar dari balik layar.
Ia mengatakan, “Monza stayed in my head for a very long time,” dan ia menilai hal itu bertahan sepanjang musim sebelumnya. “I think all throughout last season, at least. Definitely that was a big thing that was kind of slowing me down.”
Berita Terkait
Ia pun menjelaskan pola pikir yang muncul—rasa takut membuat kesalahan—semakin kuat pada periode sulit pertengahan 2025. “This memory of being afraid to do a mistake, also because going through the difficult period (in the middle of 2025), this memory was even stronger in my head, if you know what I mean.”
Dalam penjelasannya, ketakutan itu terkait konsekuensi ketika periode sedang tidak ideal. “Because it was already a difficult period and I was like, ‘If I even do a mistake or I crash, it’s even worse.’”
Menurut Antonelli, musim ini ia akhirnya bisa mengesampingkannya: “So yeah, it’s been a thing that has been bothering me a lot last year. This year I was able to just put it behind.”
Pekerjaan di balik layar: fokus pada proses dan kesiapan
Antonelli menekankan bahwa perubahan ini tidak datang instan. Ia menyebut proses panjang untuk menganalisis apa yang terjadi pada 2025, memahami bagian yang berjalan baik maupun yang tidak, serta merumuskan cara memperbaikinya.
“The mindset going into this season, it was mainly trying to be able to extract more out of my potential,” katanya. Ia menambahkan bahwa targetnya adalah melakukan pekerjaan lebih baik dibanding tahun sebelumnya, sekaligus menyusun semua elemen agar lebih padu: “Trying to, first of all, do a better job than previous year. But as well trying to put things more together.”
Ia menyatakan persiapan pra-musimnya sangat intens: “The preparation that I did in pre-season was very, very intense. But it helped me a lot to arrive ready for this season.” Selain itu, ia juga bekerja dengan mental coach untuk merapikan pikiran dan fokus.
“Plus, I did a lot of work with my mental coach. Trying to get my head right, my thoughts right on understanding the goal, and understanding that the most important thing is to be ready and to stay present in the moment.” Ia juga menegaskan agar tidak terjebak pada hasil akhir: “Not trying to think about final results or what would happen if I wouldn’t achieve that. But just trying to be present and trying to do the best with what you can do in the moment.”
Kemajuan besar, ritme musim, dan koreksi setelah momen puncak
Meskipun ia mengakui ada banyak hal yang membaik, Antonelli juga menyatakan ia “definitely surprised” atas seberapa jauh perkembangan itu. Ia mengatakan bahwa ia memang yakin akan lebih baik dari tahun pertamanya, karena pada akhir musim lalu ia mulai menyusun semuanya menjadi lebih teratur—meski tetap belum “great”.
Tahun ini terasa berbeda, terutama karena “first win” dan “first pole” memberinya ruang bernapas. “Also as well, with the first win, the first pole, it took a lot of weight off my shoulder.”
Sementara itu, Russell mengalami kesulitan. Antonelli menggambarkan dirinya seperti menemukan kemudahan dalam banyak aspek: ketika tercecer, ia mampu kembali dengan cepat dan mulus; manuver menyalip dilakukan dengan keputusan yang cepat; dan ia menilai tidak ada sirkuit yang membuatnya kehilangan pace.
Namun, ia mengakui pertanyaan besar: apakah musim ini adalah cerita Antonelli yang benar-benar naik level, atau Russell yang sedang turun. “That’s a very difficult question,” jawabnya. “I’ve definitely stepped up. This year definitely everything is new. So it requires also a little bit of a different approach. And trying to adapt to a different car, which hasn’t been easy.”
Ia menyebut konsistensi tahun ini berasal dari ritme yang “nice” dalam musimnya. “I always try to follow my routines,” katanya, “the way I approach the weekend. I try to approach it all the time the same.”
Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan masih melakukan kesalahan penilaian. Ia mengambil contoh Barcelona-Catalunya, beberapa hari setelah kemenangan yang sangat dominan di Monaco. Menurutnya, ia terlalu bersemangat pada satu lap, sehingga overdriving terjadi dan kualifikasi tidak sesuai harapan: “So I was overdriving, I was chasing the lap time and the result didn’t come in qualifying. I was actually a bit far back and didn’t do a good lap.”
Ia menambahkan alasan yang ia pahami sendiri setelahnya. “But that’s because I was trying to do a bit too much after a very high moment in my career. And then I understood that is not the way.”
Perbaikan itu ia terapkan setelah kemenangan Monza dari posisi 19 di grid pada balapan kandangnya. Wolff menyebut hasil itu “closed a cycle” dari crash 2024. Antonelli menegaskan pelajarannya dengan kalimat tegas: “After Monza, I reminded myself, ‘Don’t make the same mistake as you did after Monaco.’” Ia kemudian menang di GP Spanyol tujuh hari setelah itu, dengan delapan kemenangan dari 14 balapan sejauh ini.
Perubahan hidup dan fokus pada penyelesaian gelar
Kesuksesan membawa perhatian, dan Antonelli mengakui bahwa hidupnya berubah. “Life has changed a lot,” katanya. Ia menyebut dukungan yang datang sebagai hal positif, tetapi ia juga sadar perlu lebih melindungi diri karena sorotan lebih besar.
Sepanjang musim, ia selalu menekankan fokus pada proses dan tidak memikirkan gambaran besar. Namun untuk pertama kalinya ia mengakui bahwa gelar kini masuk dalam pikirannya, sebuah capaian yang—bila terwujud—akan membuatnya menjadi juara dunia F1 termuda dalam sejarah.
“Yes, I thought about it,” kata Antonelli. Meski begitu, cara pandangnya tetap sama: “But again, thinking about it, I came always to the same conclusion that the earlier I finish all this, the better it is. So I’ve got to just keep pushing. I keep doing the best I can every race. Because, yeah, that’s the way. Just not finish. And until it’s done, it’s not over.”












