jurnalistik.co.id – Tyson Fury dan Anthony Joshua akhirnya berbagi satu momen dalam konferensi peluncuran di London. Setelah bertahun-tahun rangkaian isu, tarik-ulur, dan negosiasi yang berulang kali nyaris gagal, keduanya justru memilih meredakan ketegangan lewat candaan.
Acara itu berlangsung di British Airways ARC pada London, dengan duel mereka dijadwalkan digelar di Principality Stadium, Cardiff, pada 11 Desember. Dua petarung papan atas ini datang sebagai rival yang namanya sudah lama berkelindan dalam pemberitaan tinju kelas berat.
Fury berusia 38 tahun, sementara Joshua 36 tahun, dan keduanya tampak seperti dua veteran yang menilai ulang perjalanan panjang karier masing-masing. “He’s been a role model and poster boy for British boxing for years,” ujar Fury tentang Joshua. Ia menambahkan, “I mostly find myself defending my arch rival to fans in the street.”
Namun, suasana di awal acara tetap menyisakan bayangan keraguan. Pada Senin, masih ada ketidakjelasan apakah pertarungan benar-benar akan terjadi akibat perbedaan terkait promosi dan aspek kontraktual.
Menariknya, ketika konferensi pers dimulai, kata-kata yang keluar bukan ancaman, melainkan penekanan tentang besarnya panggung. Joshua menyebut momen ini terasa besar, mengatakan, “It’s breathtaking and I’m not saying that lightly.” Ia juga menambahkan rasa syukurnya atas kesempatan bertarung di Inggris: “I’m really grateful for this opportunity and bringing it to Great Britain because I know people in pubs have had proper fights about who will win and family members have fallen out.”
Di bagian pembukaan, pembawa acara Michael Buffer memperkenalkan keduanya saat kembang api meledak dari depan panggung. Joshua masuk dari sisi berlawanan dengan gaya santai, memakai setelan olahraga abu-abu dan kacamata hitam, sementara Fury tampil lebih mencolok dengan setelan hijau zamrud bermotif mahkota di atas kemeja putih.
Di atas balkon, beberapa ratus penggemar memadati area dan segera menunjukkan dukungan. Sorakan “Oh Anthony Joshua” terdengar keras di British Airways ARC, mengiringi momen ketika Fury dan Joshua berdiri berdampingan untuk sesi tatap muka.
Rasa canggung yang kerap muncul dalam pertemuan rival mereka sempat digantikan oleh nuansa yang lebih ringan. Salah satu adegan yang paling mudah diingat adalah ketika Joshua tersenyum sambil berpura-pura mencolek perut Fury, seolah hendak “memancing” reaksi di tengah sorotan kamera.
Keduanya juga menyinggung sejarah pertemuan yang sudah lama menjadi bahan obrolan publik. Joshua dan Fury duduk bersama untuk pertama kalinya dalam waktu yang relatif panjang, setelah selama bertahun-tahun hubungan mereka banyak hadir lewat wawancara, media sosial, dan negosiasi yang berulang kali kandas. Dalam percakapan, sesi sparring terkenal mereka pada 2010 ikut muncul, saat Joshua masih berstatus amatir.
Fury mengisyaratkan ia merasa mendapat hasil terbaik dari latihan itu, lalu suasana seketika memancing respons penonton. Seorang penggemar berteriak “Liar,” dan Joshua hanya tersenyum sambil mengatakan ia tak terlalu ingat. Jawaban ringkas itu seolah menegaskan bahwa di panggung peluncuran kali ini, keduanya memilih menjaga agar suasana tetap bergerak maju.
Berita Terkait
Ketika ditanya-tanya soal kesan laga yang terasa terlambat, Fury memberikan jawaban yang menutup diskusi dengan nada reflektif. Ia menyebut duel ini sebagai “icing on the cake of two great careers,” lalu sempat menoleh ke layar besar di belakang mereka ketika tulisan “Finally” terlihat jelas.
Di sela candaan, ada pula titik temu yang disampaikan dengan nada lebih personal. Joshua berbicara tentang keyakinan Kristennya, dan meski beberapa kali mereka saling melontarkan ejekan, tidak tampak ada unsur kebencian yang menyengat. Fury bahkan menyampaikan, “This man here is carved in stone and every time he gets cracked on the jaw, he falls over,” sebelum menambahkan, “When I crack him on the jaw with a big right hand, he’s going down.”
Joshua merespons dengan tawa dan meneriakkan catchphrase Fury, “Get up.” Momen itu menjadi pengingat bahwa hubungan mereka tak sepenuhnya dipenuhi ketegangan, setidaknya pada acara peluncuran kali ini.
Di sisi lain, ada sejumlah isu yang sempat mengganggu jalannya proses menuju laga. Pertarungan ini diberitakan berkaitan dengan gelar WBA kelas berat “super” yang lowong, tetapi tim Murat Gassiev mengajukan keberatan resmi terhadap susunan perebutan titel tersebut. Fury juga menyoroti dinamika lain yang sempat membuat percakapan menjadi lebih kacau selama beberapa hari terakhir.
Nama Dana White dari UFC dan Zuffa Boxing sempat dibahas seolah akan mendominasi perhatian publik. White dikabarkan ikut diposisikan dalam promosi oleh Netflix bersama Turki Alalshikh melalui The Ring, meski Eddie Hearn menegaskan kontrak Joshua mencegah White memegang peran promosi. Meski demikian, White tidak hadir pada peluncuran hari Rabu.
Ketika Alalshikh mengucapkan terima kasih kepada White dari atas panggung, beberapa bagian penonton justru menyuarakan ejekan. Fury sempat melontarkan target singkat kepada Hearn dengan menyebutnya “sausage,” meski nada itu tidak bertahan lama dan segera berganti menjadi tawaran yang lebih bersahabat.
Dalam beberapa menit, Fury bergeser ke gaya yang lebih ringan dan mengulurkan ajakan minum. Ia menawarkan untuk “pergi ke pub” bersama pemimpin Matchroom, lalu memperluas undangannya kepada Joshua. “I hope after this fight we can have a pint of Guinness together,” ujar Fury, sebelum menambahkan, “Win, lose or draw, let’s bury the hatchet.”
Joshua menyambutnya dengan candaan yang juga memancing tawa. “I don’t know if I can trust you,” jawabnya, dan reaksi di ruangan mengikuti ritme humor mereka.
Selain urusan suasana, muncul pula pembahasan teknis yang mencerminkan betapa pertarungan ini masih menyisakan detail promosi yang diperdebatkan. Joshua mengungkap ia menerima telepon yang menanyakan apakah nama Fury perlu ditampilkan lebih dulu dalam materi promosi. Fury langsung menjawab dengan nada tegas sekaligus bercanda, “You’ve been crying behind the scenes to get out of this fight. I’ve checkmated you. You have to fight,” lalu menambahkan, “I’ve actually never won a world title here. Now it’s on the line, we can become a three-time.”
Di akhir konferensi, yang paling menonjol justru kesan lega dua petarung yang sama-sama memahami arti perjalanan panjang. Mereka seperti memberi ruang agar pertarungan ini menyelesaikan sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya ramai lewat kata-kata. Pada akhirnya, panggung London itu terlihat lebih mirip pertemuan dua “senior” daripada benturan yang penuh rasa takut.





