jurnalistik.co.id – Moses Itauma akhirnya mengalami malam yang mengubah cara pandangnya tentang tinju kelas dunia. Di O2 Arena, petinju berusia 21 tahun itu harus menerima kenyataan pahit setelah Filip Hrgovic merebut gelar juara dunia kelas berat IBF yang saat itu masih lowong.
Pertarungan berjalan sengit. Pada awalnya, Itauma terlihat lebih cepat dan lebih “tajam”, berkali-kali menghubungkan serangan tangan kiri yang membuat Hrgovic harus bekerja ekstra.
Namun, rasa percaya diri itu perlahan memudar. Di ronde ke-9, sudut Itauma memilih menghentikan laga, dan wasit segera mengakhiri pertarungan saat corner melempar handuk sebagai tanda menyerah.
Hasil tersebut sekaligus menjadi catatan penting dalam karier Itauma. Ini merupakan kekalahan pertamanya di laga profesional ke-15, dan ia harus meninggalkan arena dengan tandu—sebuah pemandangan yang sekaligus menyadarkan bahwa level yang lebih tinggi menuntut lebih dari sekadar bakat.
Perbedaan talent dan “paket” bertahan 12 ronde
Lebih dari sekadar kemenangan lawan, laga ini memperlihatkan jarak yang harus ditutup Itauma antara kemampuan mentah di level tertentu dengan tuntutan sebenarnya pada laga perebutan gelar 12 ronde. Hrgovic menunjukkan kemampuan mengelola ritme, pengalaman membaca situasi, serta “ring craft” yang membuat pertarungan tidak gampang diputuskan sepihak.
Kompetisi ini menjadi menarik karena pada momen-momen tertentu Itauma memang memenangkan ronde. Tetapi secara perlahan, ia seperti bergerak lebih dekat menuju titik di mana tubuh dan stamina mulai “mengkhianati” rencana yang awalnya tampak berjalan.
Kondisi itu semakin terasa ketika pertandingan memuncak. Setelah tenaga terkuras, Itauma tampak mencari napas dengan mulut terbuka, sementara kaki-kakinya kehilangan pegas. Hrgovic, yang terbiasa menghadapi malam-malam sulit, cukup bertahan di zona yang ia butuhkan lalu menunggu waktu ketika lawan akhirnya goyah.
Gangguan psikologis sejak prapertandingan
Malam itu juga menunjukkan bahwa persiapan mental dan strategi prapertandingan berpengaruh besar. Menjelang laga, Hrgovic berulang kali mengganggu persiapan Itauma dengan menyerang aspek usia, merendahkan Itauma sebagai “hanya seorang anak”.
Seiring pekan laga berjalan, Itauma makin terlihat mudah tersulut. Di momen timbang badan, ia kehilangan kendali emosinya ketika mendorong Hrgovic, dan respons dari pihak Hrgovic berujung pada tamparan.
Itauma sendiri dikenal sebagai petinju heavy yang relatif “berpikir” dan cerebral. Ia membuka soal kebiasaannya membaca buku-buku psikologi dan pengembangan diri, serta mengaku meluangkan waktu lebih banyak untuk menganalisis dirinya dibanding kebanyakan petinju seusianya. Tetapi ada risiko: terlalu banyak berpikir bisa berubah menjadi overthinking, terutama ketika duel membutuhkan eksekusi yang stabil selama durasi panjang.
Terlepas dari apakah sindiran-sindiran itu benar-benar mengubah rencana, satu hal yang jelas: begitu bel berbunyi, tujuan Itauma adalah mengakhiri malam lebih cepat. Promoter Frank Warren menjelaskan, “Seseorang bilang padaku bahwa dia tidak merasa bisa merebut gelar dunia kecuali dia menjatuhkannya lewat KO. Aku tidak suka gagasan itu.” Keyakinan seperti itu bisa dimengerti, mengingat hal tersebut sebelumnya bekerja luar biasa untuk Itauma.
Namun, Hrgovic sepertinya tidak dinilai sepenuhnya pada kapasitasnya. Hampir semua pihak—Itauma sendiri, media, para analis, bahkan mantan petinju dan bandar—menempatkan Itauma sebagai favorit di atas kertas. Padahal, Hrgovic punya rekam jejak yang menegaskan ia sanggup menghadapi tekanan dan kondisi tidak nyaman.
Berita Terkait
Hrgovic adalah peraih medali perunggu Olimpiade. Ia pernah menempuh 12 ronde keras saat menghadapi raksasa Zhilei Zhang. Lalu, melawan Daniel Dubois—satu-satunya kekalahan dalam catatannya—Hrgovic juga sempat unggul di dua dari tiga kartu skor sebelum laga dihentikan akibat cedera.
Dalam konteks itu, “rasa” berada di posisi yang sulit bukan hal baru bagi Hrgovic. Ia tahu bagaimana menanggung sakit, bagaimana lelah datang, dan bagaimana tetap bertahan ketika keadaan mulai tidak menguntungkan.
Persiapan fisik yang belum setara
Hal lain yang menjadi pertanyaan serius adalah kesiapan fisik. Itauma mengakui sebelum laga bahwa ia belum pernah menembus 12 ronde dalam karier profesional—bahkan ia juga tidak pernah melakukan sparring 12 ronde. Kondisi seperti itu membuat pertandingan gelar 12 ronde menjadi ujian yang jauh lebih berat dibanding kebiasaan lamanya.
Soal tanggung jawab, itu tidak semata bisa dibebankan hanya kepada petinju. Tim yang menyiapkan juga memegang peran besar dalam membangun daya tahan dan strategi bertahan di tempo tinggi.
Ronde kedelapan memberi gambaran paling kontras. Itauma melepaskan pukulan lebih banyak dibanding ronde mana pun sepanjang laga, mengucurkan energi yang tersisa dengan harapan bisa mengeluarkan Hrgovic dari pertarungan. Setelahnya, Hrgovic menilai, “Dia terlalu banyak melempar. Dia bertarung seperti amatir. Aku tahu aku perlu bertahan. Aku harus tetap berada di sana. Dia akan lelah, dan aku akan menghabisinya di ronde-ronde selanjutnya.”
Sinyal positif dari kekalahan
Di sisi lain, kekalahan tidak meniadakan bahwa Itauma memiliki sejumlah kualitas yang nyata. Ia terbukti sanggup menerima pukulan tanpa terlihat langsung rapuh, dan tidak ada satu serangan pun yang tiba-tiba mengungkapkan “chin” yang rapuh.
Ia juga menunjukkan kecepatan tangan yang merepotkan. Serangan itu membuat Hrgovic tampak lebih lambat dan harus menyesuaikan. Karena itu, pertanyaan berikutnya bukan “apakah Itauma mampu?”, melainkan “bagaimana ia membangun kembali langkah setelah dihukum oleh realitas level dunia”.
Hrgovic memberi arahan yang cukup spesifik: “Jangan menyerah. Jangan kehilangan kepercayaan diri. Ambil beberapa laga yang mudah, menang yang mudah. Bangun lagi dan pelajari kesalahan-kesalahan ini. Kamu tidak bisa bertinju seperti amatir. Ini pertarungan 12 ronde, kamu harus mengatur tempo.”
Frank Warren tetap yakin bahwa Itauma termasuk talenta luar biasa yang ia temui. Ia mengaitkan situasi itu dengan contoh Dubois, yang mampu membangun ulang kariernya setelah kemunduran yang menyakitkan.
Tetapi Warren juga paham, kisah sukses bukan satu-satunya kemungkinan. Dalam tinju Inggris, pernah ada cerita berlawanan ketika petarung seperti David Price dulu dianggap sebagai harapan besar kelas berat berikutnya, sebelum serangkaian kekalahan merusak wibawa yang tidak sepenuhnya pulih.
Kini perhatian akan mengarah pada detail-detail yang mungkin selama ini belum menjadi sorotan utama: bagaimana Itauma mengatur napas, bagaimana ia membaca tempo agar tidak kehabisan tenaga, dan bagaimana ia mengubah strategi saat tubuh mulai tertinggal dari rencana awal.
Dengan kekalahan ini, aura “sempurna” itu hilang. Itauma yang masih seperti murid sekolah sudah mendapatkan pelajaran. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa jauh ia bisa menjadikan pukulan pahit ini sebagai bahan untuk tumbuh, bukan sekadar kenangan buruk.











