Pendidikan

Waspada, Ini 5 Makanan yang Berpotensi Memicu Bad Mood

×

Waspada, Ini 5 Makanan yang Berpotensi Memicu Bad Mood

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Catat, 5 Makanan Ini Ternyata Bikin Bad Mood

jurnalistik.co.id – Suasana hati yang tiba-tiba memburuk tidak selalu berawal dari pekerjaan, kurang tidur, atau konflik dengan orang lain. Pola makan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari juga bisa ikut menentukan bagaimana seseorang bereaksi secara emosional.

Menurut pemberitaan Times of India yang mengulas kondisi pada Minggu (30/8/2026), beberapa jenis makanan dan minuman dapat berdampak pada kadar gula darah, kualitas tidur, hingga fungsi otak yang berkaitan dengan suasana hati. Jika dikonsumsi berlebihan, efeknya dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung dan mengalami perubahan mood.

Lima makanan dan minuman yang berpotensi memicu bad mood

Pertama, makanan olahan serta makanan yang tinggi gula. Saat gula masuk dalam jumlah besar, kadar gula darah bisa mengalami fluktuasi. Kondisi seperti ini berpotensi memengaruhi kestabilan suasana hati sehingga emosi lebih mudah goyah.

Kedua, konsumsi kafein yang berlebihan. Kafein yang masuk terlalu banyak sering dikaitkan dengan munculnya gelisah dan ansietas, sekaligus membuat seseorang lebih mudah marah. Di saat yang sama, kafein juga dapat mengganggu siklus tidur, yang akhirnya dapat meningkatkan tingkat stres.

Bagi sebagian orang, kopi pada pagi hari mungkin terasa sebagai kebiasaan. Namun, konsumsi kafein secara berlebihan dapat memberi dampak negatif pada kondisi fisik dan suasana hati, terutama bila tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Ketiga, alkohol. Zat ini dapat mengganggu keseimbangan neurotransmitter di otak, sehingga berpengaruh terhadap kondisi emosional. Meski alkohol kerap dianggap menenangkan dan membantu tubuh lebih rileks, konsumsi alkohol justru dapat memicu iritabilitas dan perubahan mood.

Keempat, makanan berlemak, khususnya lemak trans dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Lemak trans serta lemak jenuh yang banyak terdapat pada gorengan dan makanan olahan dapat berdampak buruk bagi suasana hati dan kesehatan mental. Jenis lemak ini dapat memicu peradangan di dalam tubuh, yang kemudian ikut memengaruhi fungsi otak dan berpotensi membuat seseorang lebih mudah tersinggung.

Kelima, keripik asin. Asupan garam yang berlebihan dapat meningkatkan risiko dehidrasi, yang pada gilirannya berpotensi memicu perubahan suasana hati. Kandungan natrium yang tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi, sehingga kondisi fisik turut memengaruhi suasana hati.

Gambaran besarnya, kelima kelompok makanan dan minuman tersebut bekerja lewat jalur yang berbeda-beda. Ada yang terkait fluktuasi gula darah, ada yang mengganggu tidur, ada pula yang memengaruhi keseimbangan neurotransmitter atau kondisi tubuh seperti risiko dehidrasi dan tekanan darah.

Cara menjaga mood lebih stabil

Untuk membantu suasana hati tetap lebih stabil, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi gula dan makanan olahan secara bertahap. Proses ini bisa dimulai dengan menurunkan frekuensi minuman manis, membatasi camilan kemasan, serta mengganti pencuci mulut yang tinggi gula dengan buah.

Perubahan pola seperti ini diharapkan membantu menjaga kadar gula darah agar tidak mudah berubah. Saat kadar gula lebih terkendali, emosi juga cenderung lebih sulit “naik-turun”.

Selain gula, konsumsi kafein juga sebaiknya tidak berlebihan. Bagi pecinta kopi, jumlah konsumsi dapat dibatasi dan sebaiknya menghindari minum kopi terlalu malam, agar kualitas tidur tetap terjaga.

Kurang tidur akibat terlalu banyak kafein dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang lebih mudah tersinggung. Karena itu, manajemen waktu konsumsi kafein menjadi bagian penting dari upaya menjaga mood.

Langkah lain yang tak kalah penting adalah memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Dehidrasi ringan sekalipun dapat memengaruhi konsentrasi dan suasana hati. Tubuh pun perlu mendapatkan asupan air putih yang cukup setiap hari.

Di sisi lain, pola makan juga bisa diarahkan untuk mendukung kesehatan otak dan suasana hati. Beberapa pilihan yang disebutkan meliputi ikan salmon dan tuna, pisang, oatmeal, alpukat, cokelat hitam, yogurt, serta kacang-kacangan.

Makanan tersebut mengandung berbagai nutrisi yang berkaitan dengan fungsi tubuh, termasuk omega-3, magnesium, probiotik, serta vitamin. Kombinasi nutrisi ini dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal, termasuk dalam menjaga stabilitas suasana hati.

Kualitas tidur juga perlu diperhatikan secara serius. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sensitif dan mudah marah. Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 7–9 jam setiap malam agar tubuh dan otak dapat beristirahat dengan optimal.

Tak hanya istirahat, aktivitas fisik juga dapat membantu meningkatkan mood dan mengurangi stres lewat pelepasan endorfin. Aktivitas tidak harus selalu berat; berjalan kaki sekitar 30 menit atau bersepeda ringan bisa menjadi pilihan yang lebih realistis untuk banyak orang.

Terakhir, pengelolaan stres juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Meditasi, mendengarkan musik, mengurangi waktu di depan layar, hingga berbicara dengan orang terdekat dapat membantu mengendalikan emosi dan menjaga kestabilan pikiran.

Dengan demikian, menjaga mood bukan semata-mata soal bagaimana seseorang mengatur emosi saat berhadapan dengan situasi sulit. Pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta kebiasaan sehari-hari sama-sama dapat memengaruhi cara tubuh dan otak merespons tekanan.