Olahraga

Pratinjau US Open 2026: Sabalenka mencari kembali ritmenya, Alcaraz memulai comeback, Djokovic berburu gelar?

×

Pratinjau US Open 2026: Sabalenka mencari kembali ritmenya, Alcaraz memulai comeback, Djokovic berburu gelar?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Open 2026 singles preview: Will Aryna Sabalenka rediscover her mojo? How will Carlos Alcaraz fare on comeback?

jurnalistik.co.id – US Open 2026 kembali menyuguhkan pertarungan yang sarat hitungan momentum. Di balik undian turnamen, nama-nama besar masuk dengan cerita masing-masing: Aryna Sabalenka mengejar ritme yang sempat hilang, Carlos Alcaraz memulai comeback, sementara Novak Djokovic membidik trofi keempatnya di New York sekaligus rekor ke-25.

Sabalenka memasuki turnamen dengan modal yang masih kuat, meski hasil belakangan menunjukkan retakan dalam ritme Permainannya. Petenis berusia 28 tahun itu sempat tampak berada di jalur terbaik setelah meraih “Sunshine Double” di awal musim.

Ia menjadi hanya pemain kelima yang memenangkan Indian Wells dan Miami secara beruntun, sekaligus membangun dominasi yang terlihat dari jarak poin di klasemen. Setelah rangkaian tersebut, Sabalenka menciptakan keunggulan 3,000 poin di puncak ranking dunia.

Tetapi setelah fase itu, periode sulit datang lebih cepat dari yang diduga. Ia tetap memegang posisi jelang US Open yang dimulai Minggu, namun performanya tidak lagi setajam standar yang selama ini ia tunjukkan.

Dalam 17 pertandingan sejak kemenangan di Miami, Sabalenka mencatat rekor 17-7. Ia juga mengalami tantangan besar, termasuk tersingkir di perempat final French Open dan kalah di babak keempat Wimbledon.

Hasil-hasil tersebut membuat jarak Sabalenka dari performa puncaknya terasa makin nyata, terutama karena target poin di Flushing Meadows tidak kecil. Ia perlu mempertahankan 2,000 poin, sementara Elena Rybakina kini hanya tertinggal 434 poin.

Menjawab pertanyaan soal apakah ia merasa percaya diri bisa menemukan kembali “mojo” di lapangan keras, Sabalenka berkata: “Absolutely. These tough lessons are definitely going to make me way, way stronger and working even harder.”

Namun, tanda-tanda penurunan fokus mental sudah mulai terlihat pada situasi tekanan yang lebih ringan sekalipun. Hal itu paling jelas pada kekalahan Sabalenka di Cincinnati Open babak keempat dari Sara Bejlek.

Di pertandingan tersebut, Sabalenka memimpin 5-1 pada tie-break set pertama dan unggul 4-1 pada set kedua. Tetapi Bejlek bangkit dan akhirnya menang 7-6 (9-7) 6-4.

Di Toronto, Sabalenka juga tumbang di babak 16 besar oleh Ekaterina Alexandrova yang saat itu berstatus peringkat 19 dunia. Masalahnya tampak berlanjut ketika musim bergeser ke lapangan tanah liat.

Pertarungan di fase clay memperlihatkan Sabalenka kehilangan kendali setelah sempat memegang kendali set awal. Ia menyerah setelah menang set pertama atas Hailey Baptiste di Madrid, Sorana Cirstea di Roma, dan pada momen paling mencolok melawan Diana Shnaider di Roland Garros.

Di New York, Sabalenka menekankan aspek mental sebagai fokus pemulihannya: “I work on my mental side of the game. I’ve been trying to reset my mind and to come back stronger,” lalu menambahkan, “It’s only a matter of time for me to come back.”

Perubahan pada hasil-hasil tersebut membuka peluang Rybakina untuk naik ke puncak. Rybakina mengalahkan Sabalenka untuk meraih Australian Open pada Januari, dan kini berpotensi mengambil alih nomor satu dunia.

Menariknya, Rybakina bahkan tidak harus menang pertandingan di Flushing Meadows untuk menjadi pemuncak. Alasannya karena ia memiliki jumlah poin yang lebih sedikit untuk dipertahankan dibanding Sabalenka.

Meski begitu, ada pertanyaan terkait kebugarannya. Rybakina mengalami cedera ankle saat perempat final di Cincinnati.

Secara skenario ranking, Rybakina bisa mengunci posisi nomor satu jika rival terdekatnya—Sabalenka, Jessica Pegula, dan Coco Gauff—gagal menjuarai turnamen. Jika Sabalenka tetap mempertahankan gelar, Rybakina masih berpeluang naik ke puncak dengan memastikan diri minimal mencapai semifinal.

Pegula, yang kini berusia 32 tahun, dikenal konsisten selama beberapa musim tanpa meraih gelar mayor. Namun ia datang dengan harapan baru setelah jejaknya membawa ia ke final Washington dan Cincinnati, yang diharapkan jadi fondasi untuk upaya berikutnya di “home Slam”.

Sementara itu, Gauff baru saja memetik kemenangan atas Pegula untuk meraih trofi Cincinnati. Ia sudah pernah merasakan kemenangan di New York sebelumnya, saat mengangkat gelar mayor pertamanya pada 2023.

Bila setahun lalu permainan Gauff sempat dibayangi ketidakpastian, kini ia kembali dengan kepercayaan diri serta servis yang lebih mengalir. Pergeseran itu membuat persaingan di papan atas semakin sulit diprediksi.

Di bawah empat besar yang menjadi sorotan, kedalaman persaingan tetap terasa. Para petenis peringkat sepuluh besar juga membawa rekor gelar Grand Slam atau WTA 1,000, dipimpin oleh Mirra Andreeva yang menjuarai French Open, Linda Noskova yang juara Wimbledon, serta Iga Swiatek yang sudah enam kali meraih gelar mayor.

Pegula bahkan merangkum situasi tersebut dengan nada kekaguman: “You can just see how the depth is pretty crazy,”.

Beralih ke sektor putra, US Open 2026 juga menjadi panggung untuk comeback Carlos Alcaraz. Untuk Grand Slam ketiga secara beruntun, rivalitas Alcaraz dengan Jannik Sinner justru tertunda karena keduanya tidak bertanding di turnamen yang sama.

Sepanjang 2024 dan 2025, pasangan ini memonopoli kedelapan gelar mayor. Alcaraz memperpanjang catatan itu dengan kemenangan di Australian Open tahun ini, namun kali ini ia harus menanggung jeda akibat cedera.

Alcaraz melewatkan French Open dan Wimbledon karena cedera pergelangan tangan, dan kini menjalani comeback setelah absen sekitar empat bulan di New York. Satu hari setelah ia mengumumkan rencana kembali, Sinner menyatakan ia dikeluarkan dari turnamen karena masalah lutut.

Alcaraz menyebut situasi tersebut terasa tidak biasa: “It’s kind of weird. We are not going see each other for, like, six months now, seven months,”.

Ketiadaan Sinner dan ketidakpastian kebugaran Alcaraz diperkirakan akan menggerakkan petenis-petenis lain yang mengejar peluang. Salah satu yang paling diuntungkan dari perubahan peta ini adalah Novak Djokovic yang kini berusia 39 tahun.

Djokovic, yang merupakan juara empat kali US Open dan sudah mencapai semifinal tahun lalu sebelum kalah dua set langsung dari Alcaraz, terus menjaga ambisi besarnya. Ia menegaskan belum ada “expiry date” pada kariernya dan tetap memasang diri untuk perebutan gelar.

Ia berburu trofi yang kelak menjadi kunci rekor tunggal 25 kali kemenangan. Apabila target itu tercapai, Djokovic akan melewati Margaret Court dalam daftar sepanjang masa.

Sejauh ini, ia sudah mencapai minimal semifinal di enam dari tujuh Grand Slam terakhir. Namun, ia belum menuntaskan perjalanan menjadi juara sejak meraih titel US Open 2023.

Dari sisi unggulan, Alexander Zverev memimpin seedings dengan target mencapai final mayor ketiga beruntun. Ia sudah memenangkan Grand Slam pertama di French Open, sebelum kalah dari Sinner di Wimbledon.

Di jalur pemain Amerika, Ben Shelton yang berstatus juara Canadian Open dan Frances Tiafoe yang menjadi finalis Cincinnati menjadi dua nama yang menonjol. Sementara itu, Taylor Fritz—finalis US Open 2024—ikut disebut sebagai harapan lain untuk mengakhiri penantian 23 tahun gelar “home men’s champion”.

Dengan cerita panjang dari Sabalenka, comeback Alcaraz, serta ambisi Djokovic yang terus mengejar angka-angka sejarah, US Open 2026 berpeluang berjalan seperti turnamen yang menuntut lebih dari sekadar teknik. Ia akan diuji oleh fokus mental, ketahanan fisik, dan kemampuan membaca momen ketika tekanan mulai memuncak.