jurnalistik.co.id – Derek McInnes masih belum merasakan kemenangan pertamanya bersama Rangers setelah kalah 1-2 di leg pertama Liga Europa, dan masalah “kebiasaan lama” terlihat lagi dalam cara tim membiarkan peluang murah tercipta.
Dalam duel kualifikasi babak ketiga Liga Europa melawan Jagiellonia Bialystok di Polandia, Rangers menelan kekalahan 2-1 dan pulang dengan pekerjaan rumah yang menumpuk. Hasil itu datang tepat setelah mereka hanya bermain imbang “meek” saat membuka musim Liga Utama Skotlandia melawan Dundee United.
Di awal era McInnes, situasi terasa kontras dengan harapan banyak pendukung yang ingin ini menjadi titik balik. McInnes membawa angin baru, namun wujudnya belum tampak penuh—terutama karena performa dari musim sebelumnya masih melempar bayangan panjang.
Sejumlah sembilan rekrutan didatangkan musim panas ini, dan kabarnya masih ada pemain tambahan yang akan bergabung. Meski begitu, angka dua laga tanpa kemenangan dalam rentang yang baru, membuat evaluasi publik kembali mengarah ke detail kualitas permainan.
“We’ve seen a lot tonight of what I thought Rangers were last season,” kata McInnes setelah pertandingan di Polandia. Pernyataan tersebut menjadi sindiran tajam dari pelatih yang memahami standar yang mestinya dijaga di Ibrox.
Pada level mental dan organisasi, McInnes menilai akar masalah ada pada cara tim “membunuh” dirinya sendiri. “We’ve got to be honest and say we are guilty of beating ourselves tonight. And that’s no disrespect to our opponent because on transitions and counter-attack, it fuels them,” ujarnya seusai laga.
Gol murah dan rapuhnya konsentrasi
Rangers terlihat kesulitan pada babak pertama saat Jagiellonia mampu mengoyak mereka dengan cepat. Banyak momen yang menunjukkan kelengahan, dan beberapa keputusan defensif berujung pada peluang yang tidak perlu diberikan.
Memasuki menit ke-12, Thelo Aasgaard mencoba aksi berani di tepi kotak tuan rumah. Ia berupaya menyelipkan bola melewati ruang sempit di pertahanan, dan satu menit berselang bola itu sudah bersarang ke gawang Rangers lewat serangan balik yang efektif.
McInnes menyebut gol-gol “murah” sebagai pemicu yang menggerus kepercayaan diri. “There’s no bigger drain on confidence for any player, team, support than losing cheap goals,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kesalahan memang bisa terjadi, tetapi tim harus memperketat cara bekerja dan menjaga area pertahanan. “There were mistakes for the goals, and I understand that can happen, but we have got to be far more stingy with our work, defend the goal with our lives, don’t give our opponent opportunities.”
Menurut McInnes, bukan hanya soal menggagalkan tembakan, melainkan membatasi kesempatan awal sebelum bola masuk ke wilayah yang berbahaya. “At no cost is that ball going in our box, at no cost are they going to get a chance, and we’ve got to have a bit more of that approach to our work.”
Dalam lima belas menit pertama yang penuh tekanan, duet bek tengah Dujon Sterling dan Emmanuel Fernandez terlihat goyah. Keraguan itu pun menjadi sorotan, baik dari analisis komentator maupun pembacaan taktis terhadap cara keduanya menjaga ruang.
Andy Halliday, mantan pemain Rangers, menyampaikan kritik yang sangat spesifik saat membahas pasangan bek tengah. “If you spoke to McInnes right now without a microphone in front of him, and you asked him, ‘Do you trust Fernandez?’, there’s no way he says yes, no way,” ujarnya di BBC Sportsound.
Berita Terkait
Halliday juga menegaskan bahwa McInnes tidak punya opsi instan untuk mengganti komposisi di momen tersebut. “But he doesn’t have an option at this moment in time to play someone else.”
Ia kemudian memperluas kritik pada kualitas pembentukan dasar. “I’m being very critical here, but I think Fernandez has every attribute to be a top, top central defender, yet it looks as if he hasn’t had the education growing up of the basics of being a central defender.”
Perubahan di babak kedua lewat triple substitution
Setelah jeda, McInnes melakukan perubahan dengan memasukkan tiga pemain sekaligus: Cammy Devlin, Findlay Curtis, dan Nicolas Raskin. Keputusan itu mengubah ritme permainan dan membuat Rangers tampil lebih baik, terutama dalam intensitas serangan.
Findlay Curtis menjadi sosok yang paling menonjol. Pemain berusia 20 tahun ini sebelumnya sempat menjalani masa pinjaman di Kilmarnock pada paruh kedua musim lalu, dan penampilannya membawa dirinya mendapat panggilan ke skuad Piala Dunia Skotlandia.
Fakta bahwa Curtis hanya tampil delapan menit saat Rangers membuka musim dengan melawan United sempat mengejutkan. Namun, di pertandingan Polandia ia menunjukkan dampak yang lebih berarti: ia sempat membentur tiang pada momen akhir dan juga melepaskan peluang yang melebar.
Steven Thompson, mantan striker Rangers, menilai peningkatan paling nyata datang dari performa Curtis. “The second-half performance was better, in an attacking sense. Findlay Curtis had a large part to play in that,” katanya di BBC Sportsound.
Thompson menyoroti perubahan dalam cara Curtis membawa bola dan membaca ruang. “He didn’t have that first thought of, when he received the ball, laying it back or looking for a sitting midfielder. He wants to go and take people on. It’s brilliant to see that, because there’s not enough of that in this Rangers side. He put in a number of good deliveries. His performance was one of the major positives from the evening.”
Halliday juga menggarisbawahi keberanian Curtis untuk menjadi inisiator. “Curtis had a fearless nature to try to make a positive impact,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa meski tidak semua berjalan sempurna, keberadaan Curtis menghadirkan dorongan yang membuat tim bergerak lebih aktif. “Not everything came off, but when he gets the ball, he drives at players, he plays one-two, he’s running off the ball and having efforts at goal. That alone sparked Rangers into that 5% or 10% more on the ball.”
Pelajaran yang harus cepat diambil sebelum leg berikutnya
Kendati babak kedua menghadirkan perlawanan, kekalahan tetap menjadi titik penting yang tidak bisa dikecilkan. Rangers pulang dengan skor 2-1 dan harus mengatasi pola lama yang membuat mereka memberi jarak terlalu besar antara niat dan eksekusi, khususnya saat menghadapi serangan balik lawan.
Dari perspektif McInnes, pertanyaan utamanya bukan sekadar bagaimana cara menyerang, melainkan bagaimana cara tim bekerja tanpa memberi hadiah. Ia sudah menyatakan bahwa standar di Ibrox menuntut ketelitian yang lebih “stingy”, mulai dari momen-momen kecil di fase transisi sampai penguncian ruang di sekitar kotak penalti.
Dengan jadwal yang menuntut respons cepat, evaluasi berikutnya kemungkinan akan berputar pada dua hal: mematikan peluang murah sejak awal, dan mengubah energi serangan yang muncul di babak kedua menjadi konsistensi selama 90 menit penuh. Rangers kini memasuki tahap di mana perbaikan harus segera terlihat agar leg lanjutan tidak kembali berubah menjadi panggung bagi kesalahan yang sama.












