jurnalistik.co.id – British Museum di London membatasi pengunjung untuk tidak mengambil foto selama melihat Bayeux Tapestry yang panjangnya 68 meter. Kebijakan ini diberlakukan karena pihak museum menilai aktivitas memotret membuat proses kunjungan melambat dan mengganggu akses tiket bagi pengunjung berikutnya.
Menurut laporan BBC, awalnya kurator mengizinkan pengambilan foto di area pameran. Namun keputusan tersebut kemudian dibalik setelah antrian panjang membuat pemegang tiket terlambat masuk.
Pameran yang menampilkan karya berusia abad pertengahan itu berlangsung untuk pertama kalinya di Inggris. Bayeux Tapestry sendiri menggambarkan rangkaian peristiwa yang mengarah pada penaklukan Norman atas Inggris hingga Pertempuran Hastings pada 1066.
Untuk mengendalikan arus pengunjung, British Museum mengatur bahwa tiket masuk ke pameran yang sudah habis terjual dilakukan per kelompok. Jadwalnya dibuat setiap 40 menit, dengan pengunjung diminta mengikuti alur satu arah di sepanjang karya sepanjang 68 m (230ft).
Aturan pergerakan itu, pada praktiknya, menjadi kunci alasan pembatasan foto. Pihak museum menyebut orang yang berhenti untuk memotret sepanjang karya menghambat kelancaran arus pengunjung, sehingga pengunjung yang datang belakangan turut tertunda.
“There has been enormous interest in viewing the tapestry, and our priority is to ensure that all visitors have the best experience possible. ”In order to do this, we have made the decision to restrict photography while people are moving along the length of the tapestry.”
Aturan dibuat demi kelancaran antrian Pembatasan fotografi ditetapkan agar setiap pengunjung tetap dapat menikmati pameran sesuai rute yang sudah diatur. Dengan demikian, keterlambatan yang berawal dari antrian tidak berlanjut hingga kelompok berikutnya.
British Museum menyatakan fokus utamanya adalah memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh pengunjung. Langkah membatasi pengambilan foto diposisikan sebagai penyesuaian operasional ketika museum berupaya menjaga ritme kunjungan tetap berjalan.
Berita Terkait
Karya dipajang hingga 2027 dan ditata berbeda Pihak museum juga menegaskan bahwa yang dipamerkan adalah karya seni abad ke-11 yang sebenarnya merupakan sulaman, bukan “tapestry” dalam arti tekstil bermotif tenun. Karya ini sulamannya dikerjakan di Inggris, meski konteks pinjamannya berasal dari tempat asalnya di Normandia, Prancis.
Dalam pameran London, Bayeux Tapestry akan tampil hingga Juli 2027. Rencana pinjaman ini dikonfirmasi setelah KTT Franco-British pada 2025, setelah bertahun-tahun persiapan antara kedua negara.
Untuk penataan di London, museum memutuskan menampilkan sulaman dalam satu garis lurus. Keputusan ini berbeda dengan cara pemajangan di Bayeux, tempat karya tersebut ditampilkan di galeri berbentuk tapal kuda.
Perjalanan pinjaman dan biaya yang ditanggung Berdasarkan perjanjian yang disebutkan dalam laporan, British Museum menanggung biaya pemindahan, sementara asuransi disediakan oleh pemerintah Inggris. Karya kemudian dikemas secara cermat di dalam peti yang dikondisikan dengan kontrol iklim.
Selama perjalanan yang dikategorikan sebagai yang “tidak biasa”, artefak itu memperoleh pengawalan polisi. Perjalanan dari Normandia ke pusat London menempuh jarak 350 mil (560 km).
Harga tiket dan opsi menonton lain Di tengah animo pengunjung, sebagian calon penonton mengkritik harga tiket pameran. Tiket disebut bisa mencapai hingga tiga kali lipat dibanding biaya untuk melihat Bayeux Tapestry di Prancis, dengan alasan untuk menutup pengeluaran museum.
Tiket untuk pameran di London dinyatakan sudah habis terjual hingga 31 Desember. Meski demikian, laporan menyebut lebih banyak tiket diperkirakan akan dijual kembali pada bulan Oktober.
Bagi mereka yang tidak memperoleh tiket, ada alternatif berupa replika skala penuh Bayeux Tapestry yang dapat dilihat secara gratis. Replika tersebut tersedia di Tewkesbury Abbey di Gloucestershire dan juga di Reading Museum.











