jurnalistik.co.id – Pembuka Premier League di St James’ Park berlangsung dengan nuansa berbeda sejak awal. Newcastle United dan Liverpool sama-sama memberi penghormatan kepada Kevin Keegan, legenda sekaligus mantan manajer yang meninggalkan jejak besar pada sepak bola Inggris.
Kedua tim bertemu untuk pertama kali sejak kepergian Keegan dalam laga pembuka musim Premier League pada hari Minggu. Kehadiran keluarga Keegan menjadi perhatian tersendiri, hadir langsung di ruang direktur sebagai bentuk dukungan dan penghormatan.
Keegan, yang pernah bermain untuk kedua klub sebelum kemudian menangani Newcastle, wafat pada usia 75 tahun bulan lalu. Ia meninggal setelah menjalani pertempuran melawan kanker, dan momen di St James’ Park terasa seperti perpanjangan kasih yang datang dari berbagai penjuru.
Penghormatan sebelum kick-off
Di antara rombongan yang hadir juga terdapat sejumlah mantan pemain Keegan dari periode pertamanya bersama Newcastle, yakni antara 1992 hingga 1997. Nama-nama seperti Alan Shearer, Rob Lee, Peter Beardsley, Tino Asprilla, Warren Barton, Shaka Hislop, Lee Clark, Darren Peacock, Steve Watson, Ruel Fox, Steve Howey, dan Liam O’Brien berada di stadion untuk turut memberi penghormatan.
Menjelang pertandingan, para pemain dari kedua kubu mengenakan nomor punggung “Keegan 7” di kaus mereka. Di waktu yang berdekatan setelahnya, sebuah mozaik di area center circle tersusun dari lebih dari 500 kaus, yang kemudian dibuka setelah wafatnya Keegan.
Dalam serangkaian momen penghormatan, video tribu yang ditujukkan kepada Keegan juga diputar melalui layar besar stadion. Setelah itu, kelompok suporter Wor Flags menampilkan koreografi besar yang melibatkan seluruh kursi di stadion, termasuk dukungan dari para penggemar Liverpool.
Simbol “Keegan 7” dituliskan di Leazes End, sementara East Stand menampilkan tifo besar bertuliskan “King Kev”. Di Gallowgate End, sebuah kutipan yang berasal dari sosok paling transformatif dalam sejarah Newcastle diletakkan sebagai pesan yang menguatkan makna penghormatan.
Spanduk tersebut memuat kutipan “I want people to dream about their football club,”. Pesan lanjutan di spanduk berbunyi, “They should. We should all be dreamers at heart. Some people are the opposite and say, ‘We can’t do that’. But when you ask them why, they can’t give a reason. Well, I say, ‘Why not?’”
Berita Terkait
Menjelang kick-off, tim dan suporter kemudian menyatu dalam satu menit tepuk tangan yang dilakukan dengan penuh emosi. Dari tribun terdengar sorakan “one Kevin Keegan” yang menggambarkan bagaimana kehadiran Keegan dirasakan sebagai satu bahasa bersama, melampaui warna dan rivalitas.
Koran pertandingan atau matchday programme juga diarahkan khusus untuk Keegan. Dedikasi itu menegaskan bahwa penghormatan tidak berhenti pada momen seremonial, tetapi hadir sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman hari pertandingan.
Surat keluarga Keegan untuk pendukung
Menjelang laga, keluarga Keegan menyusun surat terbuka yang ditujukan kepada para pendukung. Mereka menyampaikan rasa terima kasih karena “filling us with so much comfort during these difficult days” atau mengisi hari-hari sulit mereka dengan banyak kenyamanan.
Keluarga juga menyinggung bahwa mereka sebelumnya telah melihat banyak penghormatan yang ditinggalkan di luar stadion. Dari sana, mereka menggambarkan suasana sebagai “the sea of black and white shirts and scarves, alongside colours from so many other clubs,” yang menunjukkan betapa besar arti Keegan bagi dunia sepak bola.
Mereka menyebut momen tersebut sebagai sesuatu yang juga berat, namun sekaligus sarat kebanggaan dan cinta. Dalam suratnya, keluarga menyatakan bahwa itu adalah “a sombre moment that reminded us of our pain and loss, yet matched with immense pride and love” ketika mereka membaca pesan-pesan pribadi yang penuh perhatian.
Kevin dinilai selalu berbagi kasihnya untuk Newcastle United, Geordies, serta kota itu. Cerita-cerita yang ia sampaikan, disertai senyum khas yang menular, menjadi cara ia tetap “hidup” dalam ingatan banyak orang.
Keluarga Keegan menambahkan bahwa melihat tumpukan penghormatan membawa cerita-cerita tersebut menjadi nyata bagi cucu-cucu Kevin. Bagi keluarga, hal itu memperlihatkan betapa dalamnya Keegan dicintai, “showing them how deeply their grandfather was loved in return.”
Dengan rangkaian penghormatan di St James’ Park—dari kaus bernomor “Keegan 7”, mozaik dari ratusan kaus, video tribu, hingga pesan kutipan yang ditulis jelas—laga ini menjadi lebih dari sekadar pembuka musim. Newcastle dan Liverpool mengirimkan satu kesimpulan bersama: nama Keegan akan terus dikenang melalui cara orang-orang memilih untuk bermimpi, sebagaimana ajakan yang ia tinggalkan.
Di tengah tepuk tangan yang sama, kedua kubu menunjukkan bahwa rivalitas di lapangan tetap berada di bawah bayang-bayang rasa hormat yang lebih besar. Dan selama “one Kevin Keegan” masih bergema dari tribun, makna dari sepak bola yang transformatif itu terus diwariskan.












