jurnalistik.co.id – Enzo Maresca tampil berani saat memulai debutnya sebagai pelatih Premier League bersama Manchester City. Alih-alih memilih susunan yang “aman”, ia justru menaruh Marc Guehi dalam peran yang jarang ia jalani: gelandang bertahan.
Keputusan itu sempat memunculkan pertanyaan besar sebelum pertandingan bergulir. Di sekeliling laga melawan Bournemouth, perhatian lebih dulu berdesir ke rival-rival City. Namun, dalam 84 menit pada hari Minggu, fokus itu bergeser ke Stadion Etihad setelah eksperimen Maresca mulai menunjukkan bentuknya.
City sendiri datang dengan suasana yang tidak sepenuhnya nyaman. Pekan sebelumnya, mereka menelan kekalahan 3-0 dari Arsenal di Community Shield. Karena itu, awal musim yang berpotensi berujung pada hasil buruk berikutnya sempat terasa dekat—hingga momen-momen akhir mengubah arah cerita.
Salah satu pemantik utama perubahan itu adalah header Guehi pada menit ke-84. Gol tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa pilihan Maresca bukan sekadar kejutan, melainkan rencana yang dipikirkan matang. Menurut laporan, Guehi mencetak gol ketiganya sejak bergabung dengan Manchester City pada Januari.
Momen golnya juga terasa sebagai jawaban atas keraguan yang muncul sejak sesi pemanasan. Saat tim belakang menjalani rutinitas bersama pelatih City, terlihat jelas bahwa Guehi memang akan ditempatkan sebagai gelandang penahan. Ketika wasit Jarred Gillett meniup peluit tanda dimulainya laga, skema itu pun benar-benar terlihat sebagai kenyataan di lapangan.
Namun, alih-alih menjadi kisah “memainkan pemain di posisi yang tidak biasa”, narasinya justru berbelok pada sisi sebaliknya: pergerakan Guehi berhasil membuat rencana itu terasa koheren. Guehi kemudian menjelaskan bahwa penempatan tersebut bermula dari ide manajer yang diuji selama sepekan. Ia menyebut City sedang mencoba berbagai hal, termasuk mencari solusi berbeda untuk tim, dan ia bersyukur eksperimen itu akhirnya membuahkan hasil.
Guehi juga menyinggung pengalaman pribadinya. Ia mengakui bahwa ia tidak sering tampil di lini tengah, tetapi menikmati pertandingan karena merasa mendapat banyak dukungan dari rekan-rekannya. Bagi Guehi, keberadaan bantuan dari sekitar membuatnya lebih nyaman untuk keluar dan menjalankan tugasnya sesuai kapasitas.
Maresca ikut memperkuat penjelasan tersebut lewat pandangan yang lebih “taktis”. Ia menyatakan bahwa Guehi belum pernah bermain sebagai gelandang, tetapi pada pertandingan ini ia dinilai tampil sangat baik. Maresca juga mengungkap cara ia memvisualisasikan kemungkinan-kemungkinan di pertandingan: ia mengenal Guehi dari masa di Crystal Palace dan berpendapat bahwa pemain tersebut punya kualitas untuk bermain sebagai gelandang. Karena itu, ia mencoba skema tersebut selama beberapa hari dan menilai hasilnya cukup positif.
Berita Terkait
Eksperimen ini tampak makin menarik karena Maresca memilih untuk memulai Mateo Kovacic dari bangku cadangan. Dalam konteks itu, sejumlah pihak bisa membaca keputusan tersebut sebagai pesan mengenai fleksibilitas komposisi City. Lebih dari sekadar soal satu pertandingan, pergantian peran dan penataan ulang lini tampak menjadi karakter yang ingin dibangun Maresca sejak awal musim.
Jalan pertandingan melawan Bournemouth kemudian bergerak menuju titik yang menentukan ketika City berhasil menyelesaikan comeback. Selain gol yang dicetak Guehi, Josko Gvardiol juga tampil dengan penyelesaian yang tenang sehingga kemenangan 2-1 akhirnya diamankan. Kemenangan ini juga mematahkan kecemasan tentang kemungkinan beruntun kekalahan awal musim.
Statistik Guehi turut menjelaskan mengapa penempatan itu tidak hanya “berhasil karena kebetulan”. Ia memenangkan semua dari tiga tekel yang dilakukannya, catatan tersebut bahkan menjadi yang terbanyak di antara pemain lain pada pertandingan. Ia juga mencatat akurasi umpan sebesar 94,9% dari 59 percobaan, sekaligus memenangkan delapan duel dari sebelas kesempatan. Angka-angka seperti itu membantu memberi konteks: ia bukan sekadar menempati area, melainkan turut mengendalikan ritme dan menekan sumber bahaya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan perannya pada pekan berikutnya, Guehi menjawab dengan nada bercanda. Ia mengatakan, “Siapa tahu? Mungkin di depan. Kita lihat,” menunjukkan bahwa ia siap mengikuti apa pun rencana Maresca, tanpa menutup kemungkinan perubahan posisi lagi.
Dalam penilaian lain, Joe Hart menilai City berada pada kondisi yang cukup baik. Ia menyoroti bahwa klub ini sering memiliki pemain-pemain kelas dunia yang membuat mereka mampu mencampur dan menyesuaikan komposisi. Namun, Hart juga menilai ada kemungkinan bahwa kolaborasi di lini tengah antara Anderson dan Guehi tidak akan menjadi pola jangka panjang, terutama ketika pemain baru diperkirakan segera masuk.
Hart mengaitkan analisisnya dengan dinamika bursa transfer. Maresca disebut belum lama ini ditanya soal kesepakatan yang dilaporkan BBC Sport: City dikabarkan telah menyetujui nilai £86m untuk merekrut gelandang Ayyoub Bouaddi dari Lille. Maresca kemudian menyatakan ia tidak mengetahui detail kesepakatan tersebut karena belum sempat berbicara dengan pihak pengambil keputusan.
Untuk Bouaddi, Hart menilai, pemain yang masih berusia 18 tahun itu membawa beban besar karena label harga yang besar. Dalam gambaran tim, ia juga diperkirakan mengisi ruang setelah kepergian Rodri ke Barcelona dan rencana keberangkatan Tijjani Reijnders ke Arab Saudi. Bouaddi nantinya diharapkan bermain di poros bersama Elliot Anderson, yang merupakan rekrutan rekor klub City.
Anderson digambarkan sudah memperlihatkan kilasan kontribusi saat menjalani debut Premier League dengan durasi sekitar satu jam. Ia dinilai menempuh banyak area, sekaligus sering mematikan ancaman sebelum berkembang. Dengan kedatangan Bouaddi, Maresca tampak sedang menyiapkan opsi yang lebih luas untuk variasi taktis di dalam musim.
Kesimpulan dari pandangan Joe Hart menekankan karakter fase awal yang sedang dijalani City. Ia menyebut City memang “mengubah segalanya”, tetapi ekspektasinya tetap sama: klub tetap diharapkan untuk menang. Pada pertandingan melawan Bournemouth, pilihan Maresca menegaskan bahwa percobaan di saat-saat awal musim bukan semata usaha tanpa arah—melainkan langkah yang, dalam laga tersebut, berbuah kemenangan 2-1.












