jurnalistik.co.id – Lewis Ferguson menutup spekulasi seputar masa depannya dengan nada yang tegas. Gelandang Timnas Skotlandia itu menegaskan bahwa ia sama sekali tidak merasa “sedekat itu” untuk meninggalkan Bologna musim panas ini.
Menurut laporan yang mengaitkannya dengan Rangers—klub yang juga ia besarkan sejak kecil—Ferguson justru menyebut proses berpikirnya berlangsung panjang setelah Piala Dunia. Ia mengaku ragu, namun tetap menilai tidak ada keputusan yang benar-benar terbuka untuk keluar.
“I had a long think after the World Cup about my future and I was a little bit unsure but nothing was ever that close.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas isu bahwa gelandang berusia 27 tahun itu bisa segera kembali ke Ibrox. Ferguson mengakui ia tetap menyimpan keinginan untuk suatu hari kembali, tetapi ia tidak melihat langkah meninggalkan Bologna sebagai sesuatu yang benar-benar berada dalam jarak dekat musim ini.
Ferguson dirilis Rangers pada usia 14 tahun, lalu menapaki kariernya menuju sepak bola Italia. Ia menembus Serie A pada 2022 lewat fase bersama Hamilton Academical dan kemudian Aberdeen sebelum akhirnya merapat ke Bologna.
Di Bologna, peran Ferguson juga semakin besar. Ia telah menjadi kapten sejak 2023 dan membawa tim ke pencapaian bersejarah dengan membantu Bologna meraih Coppa Italia pertama mereka dalam lebih dari 50 tahun pada 2025.
Meski musim lalu mengalami perubahan tempo, Ferguson tetap menjalankan perannya dengan konsisten. Ia mencatat bahwa kesempatan bermainnya sempat lebih terbatas pada periode setelah pergantian pelatih di era Vincenzo Italiano, ketika ia hanya tampil 17 kali di liga.
Rotasi pelatih membuatnya memikirkan langkah berikutnya
Ferguson menjelaskan bahwa ketika kembali untuk persiapan pramusim, Bologna mulai dengan pendekatan baru. Ia menyebut “masa awal yang segar” setelah kedatangan pelatih Domenico Tedesco, lalu kembali mengalami perubahan ketika Raffaele Palladino mengambil alih.
Berita Terkait
Ia merinci dinamika itu dengan mengatakan, “When I went back for pre-season, we had a new manager [Domenico Tedesco] and it was like a fresh start. “We changed again since [with Raffaele Palladino], so I’ve had three new managers in the last two months [including Sebastien Pocognoli with Scotland].”
Dari rangkaian perubahan tersebut, Ferguson mengaku melakukan evaluasi tentang seperti apa masa depannya. Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa langkahnya tetap berada di Bologna.
Ia menambahkan, “I had a long think about what my future was going to look like and in the end it was still at Bologna. “I’ve loved every moment that I’ve had there. It was just about continuing that journey and seeing where it takes me.”
Kontrak pemain itu juga memperkuat posisinya saat ini. Ferguson tercatat terikat hingga 2028, dengan opsi perpanjangan satu tahun. Musim ini pun ia terlibat penuh, karena ia sudah bermain setiap menit dari lima pertandingan Serie A Bologna sejauh ini.
Rangers tetap jadi bagian dari ceritanya
Meski menolak klaim “kedekatan” untuk pergi dari Bologna, Ferguson tidak menutup kemungkinan terhadap masa depan di Rangers. Ia menekankan bahwa hubungan emosionalnya dengan klub tidak pernah benar-benar hilang.
“It’s no secret that I grew up a fan and my family is involved in the club. “It was a dream of mine as a kid and that’s not changed but I don’t want to speak about that while I’m a player at Bologna. “In the future, you never know. It might happen, it might not, but it’s always been something in the back of mind.”
Ikatan keluarga Ferguson dengan Rangers bukan sekadar cerita masa kecil. Ayahnya, Derek, dan pamannya, Barry, pernah bermain untuk Rangers; Barry juga pernah menjadi kapten dan pada satu periode sempat menangani Ibrox.
Dalam konteks yang sama, pada Juli lalu manajer Rangers yang baru, Derek McInnes, pernah menyebut adanya “obvious link” dengan Ferguson. McInnes menyandarkan pernyataannya pada pengalaman bekerja dengan pemain tersebut ketika bersama Aberdeen.
Bagi Ferguson, sorotan dari Rangers menjadi pengingat tentang ambisinya sendiri. Ia tetap menjaga harapan untuk kembali suatu waktu, tetapi pilihan praktis musim panas ini jelas: melanjutkan perjalanan yang sudah ia mulai di Bologna, seiring perubahan pelatih dan tantangan kompetisi yang terus bergulir.












