jurnalistik.co.id – Which? memperingatkan tren “skimpflation” yang terlihat dari pergeseran penjualan makerel kalengan menuju alternatif yang lebih murah, tetapi dinilai kurang bernutrisi. Dalam penilaian kelompok konsumen itu, perubahan semacam ini membuat pelanggan berisiko membayar harga yang sama untuk kualitas gizi yang lebih rendah.
Which? menyoroti bahwa Princes—pemasok untuk supermarket besar—mengganti ikan yang digunakan menjadi jack mackerel. Jack mackerel kemudian dijual sebagai alternatif dari tinned mackerel, termasuk yang juga dipasarkan Lidl dengan merek dagangnya.
Pergeseran ini dipicu oleh menipisnya stok Atlantic mackerel akibat bertahun-tahun overfishing. Menurut uraian yang disampaikan, padanan dari Chile dinilai lebih berkelanjutan dan harganya hanya sekitar sepertiga dibanding Atlantic mackerel.
“It’s a real concern when manufacturers quietly downgrade everyday staples like these as shoppers can end up paying the same price for a product that delivers significantly less nutritional quality,” ujar Sue Davies, head of food policy di Which?.
Which? menyebut jack mackerel mengandung sekitar setengah jumlah omega-3 dan hanya sekitar sepertiga vitamin B12 dibanding mackerel tradisional. Karena itu, penggantian resep memunculkan kritik dari sebagian konsumen terkait perbedaan rasa dan tekstur.
Keluhan lain datang dari kekhawatiran soal seberapa jelas produk pengganti itu diberi label. Davies menilai tanggung jawab keterbukaan penting terutama ketika perubahan bahan dilakukan secara “diam-diam”.
Princes mengumumkan pada bulan Oktober lalu bahwa seluruh produk tinned mackerel mereka akan dialihkan menjadi jack mackerel. Perusahaan menyatakan spesies tersebut memenuhi standar keberlanjutan Marine Stewardship Council (MSC).
Princes juga menyebut produk jack mackerelnya “clearly identified” dan diperkenalkan setelah pengujian produk serta konsumen secara ekstensif. Dalam pengumuman tersebut, Princes menggambarkan produk barunya memiliki “a milder flavour and meatier texture”.
Lidl menjual jack mackerel dengan brand rumahnya. Lidl GB mengatakan pihaknya “committed to sourcing fish and seafood from responsibly managed fisheries”.
“While manufacturers face genuine supply chain pressures and sustainability challenges, they have a responsibility to shoppers to be completely upfront when they change a product’s recipe,” tambah Davies. Ia menambahkan, “Skimpflation – quietly changing ingredients to cut costs – has become increasingly common, but it can feel particularly sneaky as shoppers may not realise a product has changed until they get it home and eat it.”
Berita Terkait
Jack mackerel bukan mackerel “yang sama”
Meskipun namanya mengandung kata mackerel, jack mackerel sebenarnya bukan tipe mackerel. Jack mackerel termasuk keluarga Carangidae, sementara mackerel tradisional berada di keluarga Scombridae.
Hingga Desember 2025, menurut hukum Inggris, spesies Carangidae hanya boleh dipasarkan dengan sebutan “jack”, “scad”, “trevally” atau “horse mackerel”. Setelah Princes meluncurkan produknya dengan sebutan “jack mackerel”, Department for Environment, Food and Rural Affairs kemudian mengubah aturan untuk mengizinkan pelabelan tersebut.
Angka industri yang dipublikasikan kembali oleh platform intelijen pasar seafood Undercurrent menunjukkan bahwa harga grosir jack mackerel dari Chile kira-kira “one-third” lebih murah dibanding Atlantic mackerel. Pergantian spesies itu selaras dengan kondisi stok yang terus menekan ketersediaan mackerel tertentu.
“Mackerel war” dan penurunan stok di Atlantik Utara Timur
Perubahan ini berkaitan dengan apa yang disebut “mackerel war”, yaitu sengketa berkepanjangan soal kuota tangkapan mackerel bersama. Sengketa tersebut melibatkan Inggris, Islandia, Greenland, Norwegia, Kepulauan Faroe, Uni Eropa, dan Rusia.
Negara-negara tersebut berulang kali gagal menyepakati sistem terpadu untuk berbagi stok dan menetapkan batas tangkapan sesuai saran ilmiah. Marine Stewardship Council (MSC) mencatat, tangkapan mackerel di Atlantik Utara Timur pernah melampaui tingkat yang disarankan ilmuwan rata-rata sebesar 39% selama 15 tahun terakhir.
Menurut International Council for the Exploration of the Sea (Ices), stok telah turun sekitar tiga perempat selama satu dekade. Badan antarpemerintah itu juga menyarankan pemangkasan jumlah mackerel Atlantik Utara Timur yang ditangkap pada 2026 sekitar 70% agar stok punya kesempatan pulih.
Tahun lalu, Marine Conservation Society menyebut populasi Atlantic mackerel berada pada “breaking point”. Penurunan drastis jumlah mackerel membuat ikan itu kehilangan sertifikasi MSC, sehingga tidak lagi memenuhi kebijakan keberlanjutan banyak peritel.
Sebaliknya, jack mackerel dari Chile dinyatakan berstatus MSC-certified. Di Februari, Waitrose menyatakan akan menangguhkan penjualan mackerel segar, dingin, dan beku karena kekhawatiran overfishing, sementara produk kalengan akan dihentikan secara bertahap sesuai penjualan stok yang ada.
Marine Conservation Society menyambut langkah itu sebagai “leading and decisive”. Pergantian spesies juga mulai terasa di luar Inggris, termasuk ketika supermarket di Belanda menghentikan penjualan Atlantic mackerel dan setidaknya satu supermarket di Swedia beralih ke jack mackerel.












