jurnalistik.co.id – Menjelang Piala Dunia yang tinggal satu tahun lagi, Inggris tampak sedang merapikan kebutuhan paling nyata dari kriket 50-over: kebiasaan, ritme, dan kombinasi yang akan dipakai saat turnamen benar-benar dimulai.
Pelatih Brendon McCullum menegaskan bahwa rencana musim dinginnya mencakup uji coba berformat 50-over. “We are also trying to include a number of warm-up games as well,” ujarnya kepada BBC Test Match Special saat membahas rancangan persiapan jelang musim mendatang.
Ia menambahkan alasan di balik gagasan tersebut. Menurut McCullum, banyak pemain “just haven’t played a lot of white-ball cricket,” sehingga pertandingan latihan berdurasi dan format yang tepat dinilai jadi celah yang perlu ditutup.
Usulan McCullum ini menarik, terutama karena itu juga menjadi sinyal perubahan cara pikir dibanding musim-musim sebelumnya. Dalam periode sebelum musim lalu Ashes, Inggris hanya punya satu pertandingan warm-up di lingkungan tim sendiri. Ia juga menyebut staf belakang yang diperkuat pada musim ini, serta perhatian yang lebih besar terhadap aspek kebugaran setelah laga di The Oval.
Dari sisi hasil, Inggris juga terlihat membangun momentum di format yang sering menjadi evaluasi utama. Setelah berada dalam periode sulit—mereka kalah enam dari tujuh seri ODI antara pertandingan terakhir Piala Dunia 2023 sampai akhir tahun lalu, termasuk tersingkir dari Champions Trophy tanpa meraih satu pun kemenangan—kini mereka berhasil memenangkan seluruh tiga seri 50-over pada tahun ini.
Bukan berarti Inggris sudah menjadi tim terbaik secara mutlak di format ini, tetapi kondisi mereka tidak lagi dianggap sebagai “underdog” terbesar. Phil Tufnell, mantan spinner Inggris, berkata bahwa dengan sedikit keberuntungan, tim ini “might be in with a shout.” Harapan memang kembali, meski sejumlah persoalan masih harus dibereskan.
Pembuka, kombinasi dengan Bethell, dan arah menuju pitch Afrika Selatan
Di lini pukul, Ben Duckett menjadi nama yang terus dipertahankan meski beberapa statistik musimnya tampak berfluktuasi. Ia pernah mencatat 149 saat melawan India pada musim panas sebelumnya, juga meraih 141 melawan India dalam ODI di Lord’s. Namun, dalam 15 inning lainnya, ia mengakhiri dengan sembilan skor di bawah 20.
Rata-rata Duckett sejak periode itu tercatat 27.15 di lintas format, sehingga wajar ada debat mengenai konsistensi. Meski demikian, Inggris dinilai “retretent” untuk menjatuhkan pemain yang sudah menunjukkan puncak performa seperti itu, apalagi ia merupakan pemain senior dengan pengalaman List A sebanyak 111 pertandingan.
Duckett juga memiliki konteks yang kuat dalam susunan pembuka: bersama Jacob Bethell, ia berbagi kemitraan awal 192 pada penentuan seri melawan India di Lord’s. Namun, dinamika di sisi ODI menunjukkan kemungkinan skenario berbeda dari yang terjadi pada tim Test.
Jika di skuad Test tempat Emilio Gay sebagai partner Duckett belum sepenuhnya aman, maka di format 50-over, Tom Banton dan Bethell justru menunjukkan bahwa ada alternatif yang sama-sama bisa bekerja. Bethell—yang mencetak 91 pada ODI ketiga melawan India—tidak tampil pada seri Sri Lanka karena cedera lutut, tetapi tetap disebut sebagai figur senior di grup meski usianya baru 22 tahun.
Sementara itu, Banton mencetak satu abad pertamanya untuk Inggris pada laga Minggu. Cara ia memukul dari bagian awal—dengan karakter memukul yang “top of the bounce”—dipandang cocok untuk pitch-pitch yang cenderung memantul di Afrika Selatan, tempat sebagian besar pertandingan Piala Dunia akan berlangsung.
Sebaliknya, Duckett rata-rata 23.4 pada permukaan yang dikategorikan “high bouncing” sejak awal 2023. Seri Test musim dingin di Afrika Selatan, menurut narasi tersebut, diharapkan memberi petunjuk lebih jelas tentang seberapa adaptif Duckett menghadapi tipe lapangan yang sama.
Adil Rashid, peluang Rehan Ahmed, dan tekanan pada spinner
Persaingan spinner juga menjadi bagian dari pekerjaan rumah Inggris. Rehan Ahmed pada dasarnya “seharusnya” mendapatkan kesempatan yang ditunggu-tunggu ketika Adil Rashid mengalami cedera.
Berita Terkait
Namun, Ahmed justru dikeluarkan dari rangkaian penentuan seri. Ini menjadi perhatian, terutama karena kualitas bowling-nya sempat memberi tanda positif: pada ODI pertama, ia menghasilkan angka 1-46 yang dinilai lebih baik dari figur yang terbaca, meski pada ODI kedua ia sempat “flattered” oleh kembalinya 2-48 dari delapan overs.
Di The Oval, peran itu diisi Liam Dawson yang mengambil 3-26. Dawson dibantu kondisi lapangan yang menawarkan kombinasi turn dan bounce, sesuatu yang belum ia dapat di bagian awal seri saat Ahmed bermain.
Angka akurasi panjang juga mempertegas evaluasi. Disebutkan Ahmed hanya menempatkan 39% delivery pada panjang yang tergolong “good” untuk seorang spinner, sedangkan pada dua pertandingan sebelumnya ia hanya mencapai 22%. Meski begitu, penilaian keseluruhannya tetap menyatakan Ahmed berbakat, tetapi belum menunjukkan kemajuan yang cukup sebagai pemain internasional.
Disebutkan pula faktor yang turut merugikannya: “sloppy run-out” di Durham dan lima bola duck di fase pengejaran Headingley. Dengan kondisi itu, Rashid menjadi semakin penting untuk rencana Piala Dunia. Rashid akan berusia 39 tahun saat turnamen berlangsung, sehingga peran dan kepercayaan pada spesialisnya dinilai tidak bisa berkurang.
Kedalaman skuad, kembalinya Sam Curran, dan opsi lini cepat
Di luar perdebatan pilihan individu, kemenangan Inggris di laga Minggu juga dipandang signifikan karena kontribusi dari nama-nama yang biasanya masuk kategori penopang. Memang ada statistik mengkhawatirkan: Inggris hanya menang satu dari sembilan ODI terakhir ketika kapten Harry Brook dan nomor tiga Joe Root sama-sama gagal mencapai skor lima puluh.
Tetapi, kali ini mereka bisa mendorong permainan melewati Sri Lanka. Banton meletakkan fondasi dengan 355-7, lalu Jordan Cox melanjutkan momentum lewat 52-ball 76 yang memperbesar kendali sebelum innings berakhir.
Kesempatan Cox juga lahir dari situasi cedera: Jos Buttler mengalami cedera hamstring pada ODI kedua. Melalui bukti permainan tersebut, Inggris terlihat punya understudy yang mampu bekerja ketika Buttler harus absen. Buttler, dengan batas-batas (boundary) yang tajam sebelum dipotong cedera di ODI kedua, memberi sinyal bahwa “hari terbaiknya” tidak selalu sudah berlalu. Namun, cedera itu juga pengingat bahwa tidak ada siapa pun yang bisa terus bertahan sepanjang waktu.
Dengan Cox yang merasakan musim terobosan lintas format, serta Banton yang diperkirakan mendapat lebih banyak peluang sebelum Bethell kembali, Inggris mulai membangun kedalaman yang dianggap menjanjikan.
Dalam pertarungan menuju Piala Dunia, kembalinya Sam Curran dari cedera groin disebut bisa menjadi faktor pemadat pilihan. Curran masih dipandang penting sebagai opsi kidal di lini atas sampai tujuh, sekaligus membawa kemampuan seam bowling. Ketika ia kembali ke kondisi terbaiknya, ia dinilai dapat memperbaiki keseimbangan tim yang sedikit condong ke sisi bowling pada rangkaian seri tersebut.
Jika Curran kembali, Inggris mungkin perlu mengorbankan dua pemain dari Jofra Archer, Gus Atkinson, Jamie Overton, Josh Tongue, dan Sonny Baker untuk membentuk XI andalan. Bahkan ketika seri terakhir terasa “quiet” bagi Archer sepanjang akhir musim panas yang panjang, Archer tetap digambarkan sebagai kartu andalan Inggris.
Atkinson disebut paling akurat, dengan 49% powerplay deliveries yang mengenai panjang “good,” serta berperan sebagai new-ball bowler yang ekonomis. Overton, di sisi lain, tampaknya diberi tugas sebagai penegak di fase middle-over, sehingga fungsinya jelas dalam struktur permainan.
Hal paling menarik justru datang dari cara Sonny Baker membuka spell di The Oval. McCullum mengatakan Baker didatangkan untuk memberikan “X-Factor” pada fase new ball, dan disebut bahwa hanya Atkinson (lima) yang mengambil lebih dari satu wicket di powerplay sepanjang ODI Inggris pada musim panas itu.
Dengan delivery yang berayun dan muncul (swinging, rising), Baker menyentuh edge Pathum Nissanka dan mengambil wicket pertamanya pada delivery kedua. Meski baru tampil di dua ODI, ia tercatat sebagai salah satu dari hanya lima bowler yang rata-ratanya lebih dari 85 mph dan ayunan lebih dari satu derajat di powerplay untuk format ini. Nama-nama pembandingnya disebut mencakup Mohammed Siraj dan Mohammed Shami (India), Alzarri Joseph (West Indies), serta Mitchell Starc (Australia).
Dengan profil seperti itu, Baker diposisikan sebagai wildcard yang harus dipertimbangkan Inggris saat menyusun puzzle mereka lewat sekitar 20-an ODI sebelum Piala Dunia dimulai.












