jurnalistik.co.id – Jumat nanti, Thomas Tuchel akan mengumumkan skuad pertamanya bersama Inggris sejak Piala Dunia. Pengumuman itu datang 65 hari setelah Inggris menelan kekalahan semifinal dari Argentina, sekaligus menjadi penanda babak baru setelah perjalanan turnamen yang berakhir dengan kemenangan meyakinkan 6-4 atas Prancis di laga perebutan tempat ketiga.
Meski hasil akhir membawa Inggris finis ketiga, setidaknya ada banyak pertanyaan yang tersisa setelah mereka meninggalkan Amerika Serikat. Dalam jeda internasional yang diperpanjang, tim asuhan Tuchel akan menjalani empat pertandingan dalam rentang 11 hari—sebuah momentum yang memberi gambaran awal mengenai bentuk “Inggris berikutnya” di tangan pelatih asal Jerman itu.
Siapa yang masuk atau kembali?
Salah satu hal yang paling menjadi sorotan jelang skuad Jumat adalah apakah beberapa nama yang sebelumnya absen atau belum mendapat kesempatan akan kembali dipanggil. Publik mempertanyakan potensi kembalinya Trent Alexander-Arnold, serta kemungkinan lahirnya debut untuk Alex Scott.
Menurut rilis skuad sementara yang disiapkan Tuchel untuk rangkaian pertandingan Nations League, Rio Ngumoha dan Lewis Hall termasuk di antara pemain yang sudah disebut. Namun, pemanggilan awal ini belum otomatis berarti mereka akan menjadi pilihan final.
Ngumoha, winger Liverpool, sempat ikut dalam rombongan pemain muda yang berangkat bersama tim senior Inggris untuk kamp latihan pra-Piala Dunia di Palm Beach. Ia justru mendapat debut ketika laga pemanasan melawan Selandia Baru, tampil impresif lewat catatan masuk pada babak kedua.
Meski begitu, pemain berusia 18 tahun itu belum pernah terpilih dalam skuad senior penuh sebelumnya. Meski belum “mapan” dalam pilihan utama, ia masih dinilai punya peluang untuk masuk skuad final Tuchel menghadapi Spanyol, Republik Ceko, dan Kroasia dalam pertandingan-pertandingan yang akan datang.
Kasus Lewis Hall juga menarik perhatian. Ketidakhadirannya pada Piala Dunia sempat menjadi bahan diskusi, terutama karena Inggris masuk turnamen tanpa bek kiri yang bisa disebut sebagai opsi natural.
Menjelang penetapan skuad lengkap pada Jumat, prosesnya berjalan melalui pengiriman daftar awal pemain terlebih dahulu, dari sanalah nantinya Tuchel memilih tim final. Dalam daftar diperpanjang itu, juga disebut nama Alex Scott dari Bournemouth, Myles Lewis-Skelly dari Arsenal, serta Kiernan Dewsbury-Hall dari Everton.
Di sektor serangan, dua nama—Cole Palmer dan Phil Foden—juga tercantum dalam daftar yang disiapkan Tuchel. Keduanya termasuk pemain yang pada Piala Dunia justru menjadi salah satu “penghilangan besar” dari skuad Tuchel. Keputusan itu kemudian dinilai keliru oleh sebagian pihak, terutama karena keduanya merupakan salah satu pemain kreatif terbaik sepak bola Inggris.
Sementara itu, Tuchel juga diperkirakan akan tidak memasukkan Jordan Henderson, Dean Henderson, dan John Stones untuk jeda internasional kali ini. Alasan yang dipahami adalah faktor cedera yang membuat ketiga pemain tersebut belum dapat dipakai.
Siapakah pengganti saat Harry Kane tidak ada?
Di balik daftar nama, terdapat persoalan lain yang tampak lebih mendasar: siapa yang akan menjadi opsi ketika kapten sekaligus penyerang utama, Harry Kane, tidak bermain. Pada Piala Dunia, Tuchel dinilai tidak terlalu beralih kepada alternatif lain dalam peran tersebut.
Kane memulai semua tujuh pertandingan Inggris hingga fase semifinal. Ia hanya diganti sebanyak dua kali—itu pun dilakukan pada menit-menit akhir ketika laga sudah berada dalam kendali Inggris. Saat laga perebutan tempat ketiga, Kane justru diistirahatkan dan pilihan yang diutamakan adalah Ivan Toney.
Namun, Toney tidak mencetak gol dalam kemenangan 6-4 atas Prancis. Pada jeda internasional sekarang, Toney bahkan tidak menjadi opsi karena ia telah didakwa melakukan kekerasan yang menyebabkan luka tubuh yang nyata. Proses persidangannya juga dijadwalkan berlangsung pada bulan ini.
Berita Terkait
Sementara itu, masa depan Ollie Watkins juga menjadi bahan pertanyaan setelah kepindahan mengejutkan ke Arab Saudi musim panas ini. Di sisi lain, Dominic Calvert-Lewin disebut sedang berada dalam momentum terbaik, dengan catatan empat gol dalam empat pertandingan bersama Leeds United.
Bagi Tuchel, momen seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk memperluas integrasi pemain muda. Liam Delap dinilai berada di jalur yang relevan: performanya meningkat bersama klub barunya, Nottingham Forest, dan sejauh ini belum pernah mencatat penampilan senior bersama Inggris. Delap juga diketahui mencetak gol pertamanya untuk Forest pada kemenangan akhir pekan lalu melawan Aston Villa.
Seberapa “aktif” Inggris akan bermain?
Persoalan gaya bermain juga dipandang krusial. Tidak lama setelah kekalahan semifinal di Atlanta, Tuchel dan para pemain sempat membahas bahwa mereka bertindak terlalu pasif. Karena itu, saat pengumuman skuad dilakukan, banyak yang menunggu jawaban: apa kesimpulan Tuchel mengenai mengapa inisiatif pertandingan perlahan dilepaskan, termasuk saat Inggris unggul 1-0 dalam waktu lebih dari setengah jam sebelum akhirnya kalah 2-1 dari Argentina.
Nama yang digadang-gadang paling berpotensi kembali adalah Cole Palmer. Ia terlihat mampu menemukan kembali bentuk permainan yang sempat hilang pada musim sebelumnya—sebuah performa yang pada akhirnya menjadi alasan utama mengapa ia tidak masuk skuad Piala Dunia.
Yang ingin dilihat suporter Inggris ketika menghadapi Spanyol di Wembley adalah adanya dorongan yang lebih kuat untuk mengambil inisiatif serta menekan lawan. Pola itu dianggap sangat kurang pada fase-fase akhir laga melawan Argentina di bulan Juli.
Meski demikian, ada juga pertimbangan mengenai kualitas lawan. Apakah Inggris akan menerima rangkaian pertandingan yang menantang? Bagaimanapun, Nations League menghadirkan ujian yang berbeda. Ini harus lebih baik daripada pengalaman kualifikasi fase grup sebelumnya, termasuk format yang mempertemukan mereka dengan tim-tim yang peringkatnya jauh lebih rendah.
Pada musim gugur lalu, Inggris sempat menunjukkan permainan terbaiknya di bawah arahan Tuchel. Pertandingan-pertandingan itu membantu membangun pola dan kepercayaan diri, tetapi tetap ada satu batas: Anda tidak benar-benar tahu kekuatan tim sampai menghadapi tim-tim terbaik.
Itulah sebabnya laga pembuka Nations League—berhadapan dengan juara dunia baru—dipandang sebagai pembuktian awal. Selain itu, rangkaian pertandingan ini juga diposisikan sebagai persiapan menuju Piala Eropa 2028, yang bila Inggris lolos, mereka akan kembali menghadapi lawan-lawan sekelas itu di Wembley. Di sisi lain, kompetisi ini juga memberikan kesempatan meraih trofi, yang akan menjadi cara paling ideal bagi Tuchel dan stafnya untuk melanjutkan langkah setelah finis ketiga di Piala Dunia.
Suasana kamp: setelah kejutan, apakah masih satu arah?
Untuk tiga minggu ke depan, suasana di dalam kamp tim juga akan menjadi tema yang perlu dipantau. Sami Mokbel menilai spirit Inggris selama Piala Dunia berada pada level tinggi, yang terlihat dari kemenangan brilian atas Meksiko di babak 16 besar meski bermain dengan 10 pemain.
Namun, setelah kekalahan semifinal dari Argentina, diskusi dan “pembacaan ulang” muncul secara internal. Saat Inggris memimpin 1-0 lalu berubah menjadi 2-1 pada menit akhir, tim mengalami semacam proses evaluasi dalam bentuk inquest untuk mencari akar masalah—termasuk pertanyaan mengenai pendekatan permainan mereka.
Jauh dari momen emosional bulan Juli, FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) diketahui sedang menyelesaikan proses peninjauan atas kampanye Piala Dunia. FA menekankan bahwa penilaian ini merupakan prosedur standar, bukan pertanda adanya kekhawatiran atau alarm terkait hasil finis ketiga.
Di kalangan FA, turnamen yang membuat Inggris meraih pencapaian terbaik sejak 1966 justru dipandang sebagai keberhasilan. Bahkan organisasi tersebut telah memberikan dukungan kepada Tuchel sebelum fase kualifikasi Euro 2028 dimulai.
Kontribusi Tuchel bersama stafnya juga diserahkan dalam proses peninjauan yang dilakukan di St George’s Park pada akhir Agustus. Pendapat para pemain juga dikumpulkan sebelum laporan disampaikan kepada pimpinan senior FA.
Peninjauan itu akan turut menilai dampak basis permanen tim selama turnamen di Kansas City. Setelah setiap pertandingan, rombongan kembali ke Kansas City, sehingga efek dari perjalanan juga akan dianalisis. Meski hasil tinjauan tidak akan dipublikasikan, tiga minggu ke depan diharapkan memberi petunjuk apakah kekompakan tim masih sekuat “malam di Azteca” ketika mereka menjadi bagian dari momen terbaik sepanjang turnamen.












