jurnalistik.co.id – Stephen Fleming memulai babak pertamanya sebagai pelatih Tes Inggris dengan satu pesan yang langsung terdengar di awal: ia ingin timnya memiliki hasrat yang sama seperti yang selama ini melekat pada Ashes. Dalam pertemuan dengan media untuk pertama kali sejak penunjukannya pada Juli, Fleming menegaskan targetnya adalah “beat the Aussies”.
Ia datang ke peran barunya dengan konteks yang tidak sederhana. Pelatih yang ditunjuk Januari? tidak; Fleming ditunjuk pada Juli, dan mulai memimpin jelang tur Afrika Selatan Desember. Keputusan itu membuatnya harus cepat beradaptasi dengan tekanan performa tim yang sedang mencari kestabilan.
Fleming juga menarik benang merah soal kedekatannya dengan Inggris, sekaligus hubungan yang lama terjalin dengan Australia. Seperti Brendon McCullum, ia berasal dari Selandia Baru—disebutnya sebagai “little cousin” bagi Australia—dan keyakinannya itu ia kaitkan dengan cara Inggris menjalani rivalitas Ashes.
Ketika ditanya apakah Inggris terlalu terobsesi mengejar Australia, Fleming menjawab tegas. “No, because I have an obsession with it as well. New Zealand has an obsession with it, we love it.” Ia menambahkan, “We want to beat the Aussies.” Ia menggambarkan obsesi itu bukan sekadar target pertandingan, melainkan dorongan untuk mengalahkan Australia dalam segala hal karena keterhubungan budaya dan kompetitif tersebut.
Fleming mengatakan kesempatan seperti ini tidak muncul berkali-kali. “You don’t think you’re ever going to get that opportunity. To have that opportunity and be part of it, I can’t wait.” Ia juga menyatakan ingin menjadi versi terbaik dirinya sekaligus membentuk tim yang menunjukkan jati diri dengan cara yang tepat.
Secara statistik dan sejarah, harapan itu tiba di tengah evaluasi yang tajam terhadap periode sebelumnya. Fleming menggantikan McCullum yang sacked sebagai pelatih Tes pada musim panas ini, sementara ia tetap memegang peran di tim white-ball. Dalam 10 Tes terakhir McCullum, Inggris hanya menang dua kali—termasuk kekalahan besar “hammering” saat lawan Australia.
Dalam pembacaan situasi tersebut, Fleming menyebut kritik terhadap Inggris berada pada ketidakmampuan beradaptasi dengan situasi yang terus berubah dalam kriket Tes, serta kurangnya perhatian terhadap detail. Ia juga mengangkat hubungan personal dengan McCullum yang menurutnya menjadi elemen penting, karena mereka adalah teman dekat dan sekaligus mitra bisnis.
Fleming merangkum perbedaan mereka lewat kalimat yang terdengar seperti filosofi. “I’ll bet on the favourite and he’ll bet on the longest odds possible.” Maksudnya, meski keduanya memiliki cara pandang yang berbeda, kedekatan hubungan itu diharapkan membuat dinamika kerja lebih matang.
Terkait arah tim, ia menolak gagasan bahwa sebuah tim perlu memiliki “brand” atau gaya tertentu. “I don’t think so. The greatest thing for a team to do is to be able to play conditions and situations.” Meski ia berharap ada perencanaan yang rapi, disiplin, serta struktur dasar yang kuat, ia juga mengakui kebutuhan ruang untuk “flair”.
Di luar lapangan, musim ini juga diwarnai isu disiplin. Fleming menyinggung bahwa bulan-bulan terakhir era McCullum disertai kontroversi yang berkaitan dengan minum larut malam, dan pola itu disebut berlanjut setelah perubahan pelatih. Pada Jumat, Derbyshire Police mengumumkan penutupan penyelidikan yang melibatkan bowler cepat Inggris Brydon Carse setelah adanya tuduhan penyerangan bulan lalu.
Berita Terkait
Menurut kabar polisi tersebut, Carse tidak menghadapi tindakan dari kepolisian, tetapi ia kini menghadapi penyelidikan dari Cricket Regulator. Ia tetap tersedia untuk pilihan skuad, meski sejak insiden di Derby, ia tidak tergabung dalam skuad dalam format apa pun.
Dalam konteks standar, Fleming menekankan bahwa disiplin tidak bisa bersifat selektif. “There are standards,” katanya, dan ia menambahkan bahwa fokus utama tetap pada “runs and wickets,” namun tetap ada standar perilaku yang harus ditegakkan. Ia mengilustrasikan konsep itu sebagai pemahaman bahwa pemain berada pada posisi yang istimewa, sehingga tindakan yang benar tidak boleh hanya muncul ketika “it suits you”.
Fleming juga menegaskan praktik sehari-hari sebagai kunci: “You’ve got to live it every day.” Jika tim mampu membentuk budaya yang konsisten untuk dijalani setiap hari—dan terus membaik—maka perubahan itu menjadi kekuatan yang nyata.
Ia sendiri baru berada di Old Trafford untuk laga ketika Inggris mengalahkan Sri Lanka pada T20 ketiga hari Sabtu. Sebelumnya, ia juga mengunjungi sejumlah county dan bertemu Ben Stokes saat Durham bermain imbang melawan Worcestershire.
Stokes pensiun mendadak dari kriket internasional pada Juli. Fleming menyebut ada hubungan sebelumnya dengan Stokes dari masa mereka bersama di Chennai Super Kings pada Indian Premier League. Namun, ia menegaskan sikapnya terhadap keputusan Stokes: “But Fleming said he had too much ‘respect’ for Stokes’ decision to attempt to coax him out of retirement.” Ia menilai Stokes berada dalam ruang yang baik, menikmati waktunya bersama Durham, serta memiliki musim dingin yang terencana bersama keluarga.
Fleming menegaskan penghormatannya pada keputusan tersebut. “When a player makes that decision to retire, I respect that decision 100%. ‘To try to turn that around and question that is wrong. I know how much goes into that type of decision, and I respect that.’” Dengan demikian, pesan yang muncul bukan upaya pembalikan, melainkan penerimaan.
Dari gambaran yang ia sampaikan hampir dua bulan setelah resmi diangkat, Fleming juga terlihat membawa gaya kepemimpinan yang tenang dan terukur. Ia sempat bercanda tentang “stress fracture of the left ear” setelah berbagai telepon dengan orang-orang yang terhubung dengan lingkungan Inggris, lalu tertawa mengingat kebiasaannya sesekali hadir dengan kostum saat bersama Chennai Super Kings untuk meredakan suasana.
Ia juga menyinggung sejumlah aspek yang mungkin menentukan wujud timnya: ia tidak berniat membujuk Stokes keluar dari masa pensiun, ia ingin World Test Championship mendapat penghormatan yang levelnya belum terlihat pada tim-tim Inggris sebelumnya, serta ia menyebut dirinya tidak hadir pada seri Pakistan karena urusan keluarga dan komitmen komersial.
Dalam pembahasan disiplin, isu “standards” kembali mengemuka, termasuk pertanyaan tentang prospek cepat Brydon Carse kembali ke set-up. Ada pula topik “Flemball” yang sempat ditolak dengan penjelasan “medical condition”.
Kesimpulannya, berdasarkan sinyal yang muncul dari pernyataannya, Inggris di era Fleming digambarkan akan tampil lebih assured, lebih matang, dan lebih stabil dibanding tim yang dipimpin McCullum. Meski mungkin lebih sedikit terasa “fun”, prioritas paling penting tetap jelas: memenangkan lebih banyak pertandingan, dimulai dari tur Afrika Selatan pada Desember.












