jurnalistik.co.id – Allan Saint-Maximin memilih untuk tidak diam setelah anak-anaknya mengalami pelecehan rasial di Meksiko awal tahun ini. Ia menyampaikan pesan tegas bahwa tidak ada alasan bagi siapapun—termasuk anak-anak—untuk menerima perlakuan seperti itu.
Winger asal Prancis itu mengatakan kepada BBC Sport bahwa ia merasa perlu “to step up” dan angkat suara. Ia menegaskan, “Whatever your colour is, you don’t have to accept this,” sebagai respons atas kejadian yang menimpa keluarganya.
Pada Januari, Saint-Maximin juga mempublikasikan pernyataan di Instagram. Dalam unggahannya, ia menyebut bahwa “hatred and discrimination have no place in our society”, dan postingan panjang itu mendapatkan respons luas, disukai lebih dari 159,000 orang.
Di antara yang memberi dukungan adalah rekan-rekannya yang pernah satu skuad di Newcastle United, Kieran Trippier dan Joelinton. Saint-Maximin belum merinci seluruh detail peristiwa tersebut, tetapi ia menjelaskan garis besar dampaknya terhadap anak-anaknya.
Saat masih bermain untuk klub Meksiko, Club America, ia mengatakan, “some stuff happened with my kids in the school”. Ia menyatakan bahwa ia sudah menjelaskan situasinya kepada anak-anak, dan menurutnya mereka “knew already”.
Menurut Saint-Maximin, kejadian itu membuat anak-anaknya tidak merasa nyaman. Ia menambahkan bahwa mereka “were not really happy about that”, dan ia sendiri sempat merasa sedih, terutama melihat kondisi putranya.
Ia juga menempatkan pengalaman tersebut dalam perspektif yang lebih luas. “I was a bit sad about my son, but in every place there is these type of things, even in France, the country where I am from,” ujarnya, sambil menekankan bahwa kejadian seperti itu tidak seharusnya diterima.
Saint-Maximin menjelaskan bagaimana ia merespons dengan mengajari anak-anaknya bahwa pelecehan bukan sesuatu yang “normal”. “As I said to them, it’s something they don’t have to accept,” katanya.
Ketika ia kemudian pindah kembali ke Eropa untuk bermain bagi Lens, situasinya memang terasa membaik. Ia menilai ada perbaikan, namun juga melihat bahwa masalah sosial bisa muncul dengan bentuk yang berbeda di banyak tempat.
“After, when we moved to Lens, it was good but you see some stuff and you are like, ‘in every place, there are some things different or some things you are not going to like’.” Dari pengalamannya, ia menyimpulkan bahwa mengejar tempat yang benar-benar sempurna bukanlah pendekatan yang realistis.
Ia menutup pemikiran itu dengan kalimat yang menekankan sikap, bukan fantasi lokasi: “If you are waiting for the perfect place, you are wrong.”
Tanggapan Klub dan Sikap Saint-Maximin
Club America, melalui sebuah pernyataan, menyatakan dukungan penuh kepada Saint-Maximin dan keluarganya. Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan “absolute solidarity” serta menyebut tim memiliki “the support of everyone who is part of this institution”.
Di pertandingan kontra Necaxa, rekan-rekan setim Saint-Maximin juga mengangkat spanduk bertema “No to racism”. Itu menjadi simbol bahwa klub dan pemain ingin menolak segala bentuk pelecehan.
Meski demikian, Saint-Maximin menekankan bahwa masalah yang ia hadapi bukan kesalahan klub. “It was not the fault of Club America,” katanya, dan ia menambahkan, “I have nothing against them, the players or the Mexican people. I love the club.”
Ia bahkan menyebut Club America sebagai tempat yang berharga dalam perjalanan kariernya. “It was one of the best places I’ve been with my family,” ujarnya.
Menurutnya, yang terjadi datang dari “some random people” yang berupaya menyerang keluarganya. “You never really know who they support or why they do this, but when this affects your kids there are not many choices to take,” katanya.
Ia mengakui keputusan yang harus diambil itu tidak mudah bagi dirinya dan keluarga. “It was a difficult choice for me and my family,” ujarnya, namun ia menegaskan bahwa ia tetap bertanggung jawab atas sikap yang ia pilih.
“I take my responsibility because I always say I will never accept stuff like this.” Saint-Maximin menilai penting bagi publik, terutama dalam posisinya, untuk melihat bahwa ia mungkin kehilangan banyak hal, tetapi ia tetap tidak akan menerima pelecehan rasial.
Ia menegaskan, “It was important to show to people, especially in my situation, that I can lose a lot of things, but I will never accept this.”
Berita Terkait
Perjalanan Karier Setelah Lens dan Langkah ke Charlotte
Saint-Maximin bergabung dengan Lens melalui kesepakatan jangka pendek pada paruh kedua musim sebelumnya. Ia membantu tim meraih trofi Piala Prancis untuk pertama kalinya dalam sejarah 120 tahun klub, serta finis kedua di Ligue 1.
Setelah itu, ia menerima sejumlah tawaran pada musim panas. Namun, ia memilih untuk melanjutkan karier ke Major League Soccer bersama Charlotte.
Ia memandang keputusan tersebut sebagai pilihan keluarga yang paling utama. “My family have always followed me to every single place,” katanya, sehingga langkahnya kali ini menjadi “more of a family choice”.
Baginya, kepindahan ke Charlotte juga merupakan cara untuk membalas dukungan yang ia terima sejak memulai karier. “It was a way for me to give back what they have given to me since I started my career.”
Di Charlotte, ia mulai bekerja sama dengan Dean Smith, mantan manajer Aston Villa. Saint-Maximin menggambarkannya sebagai seseorang yang langsung dan jujur, “straightforward guy” yang “is going to tell you the truth straight away”.
Ia juga menyebut dirinya adalah salah satu dari “the club’s two ‘designated players’”. Dengan peran itu, ia ingin membangun jejak kontribusi yang lebih panjang dan membantu orang-orang di sekelilingnya berkembang.
Ia menambahkan bahwa Charlotte juga harus menikmati permainan. “To see some robot play doesn’t make sense to me,” ujar Saint-Maximin, menekankan bahwa sepak bola baginya tidak boleh kehilangan karakter.
Newcastle, Dukungan Suporter, dan Kehangatan yang Membentuknya
Saint-Maximin juga dikenal sebagai sosok yang hidup dan sulit dipetakan dalam satu gaya. Ia membuktikan hal itu saat Newcastle bertarung keras untuk tetap bertahan di Premier League selama sebagian besar waktunya.
Ia merasakan sisi terbaik ketika Newcastle kembali bangkit dan memastikan tiket Liga Champions di kampanye terakhirnya di Tyneside pada 2023. Namun, ia juga memahami konsekuensi besar ketika performa tim belum stabil.
Menurut Saint-Maximin, peluang terasa “berat” karena bisa berdampak pada pekerjaan banyak orang. “When you feel that opportunity, that feeling on your shoulder, you are like, ‘this is heavy’,” katanya.
Ia lantas merangkul tanggung jawab tersebut dengan menjalin kedekatan bersama suporter sejak kepindahannya dari Nice. Ia menyempatkan diri untuk bekerja sukarela di foodbank kota itu dan bahkan memberikan hadiah kepada fans, termasuk Rolex watches.
“If I was able to give all of my money to them, I would because there is nothing better than the feeling they give you,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perasaan dukungan itu tidak bisa dibeli, dan ia sudah mencoba membuktikannya lewat pengalaman langsung.
Saint-Maximin menggambarkan momen di lapangan ketika dukungan datang dari belakang. “The love they give to you, when I ran with the ball, I had the feeling of people behind me and I ran because of them.”
Ia menilai rasa tersebut “incredible” dan berharap itu bisa dirasakan oleh pemain lain. “This feeling is incredible. I wish the same for every single player because they can bring the best out of you.”
Ia menghabiskan empat tahun bersama Newcastle, periode terpanjang dalam kariernya yang cukup berpindah-pindah. Setelah itu ia bergabung dengan klub Liga Pro Arab Saudi, Al-Ahli.
Ia juga pernah bekerja dengan Matthias Jaissle, pelatih kepala Newcastle saat ini. Jaissle mengambil alih posisi dari Eddie Howe pada musim ini, dan Saint-Maximin menyebut ia berharap staf dan tim menikmati momen di St James’ Park.
“Newcastle is my dream club,” katanya, dan ia mengaku menonton setiap pertandingan. “They gave me what no-one gave to me and I’ll never forget that,” lanjutnya, sambil menekankan kesetiaannya.
Ia mengakui ada banyak kesempatan untuk kembali ke Premier League, tetapi ia tidak mengambilnya. “I had many opportunities to come to the Premier League, but I didn’t because of them,” ujarnya, menutup dengan rasa hormat kepada dukungan yang ia terima.












