Olahraga

Jeda internasional tiga pekan: akankah menambah tekanan pada para manajer?

×

Jeda internasional tiga pekan: akankah menambah tekanan pada para manajer?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: International break: Will the three-week interlude put more pressure on managers?

jurnalistik.co.id – Jeda internasional kali ini hadir lebih panjang dari biasanya, yaitu tiga pekan. Bagi klub yang sedang kesulitan meraih hasil, rentang waktu tersebut justru bisa menambah beban karena manajer kehilangan momentum untuk segera memperbaiki performa di lapangan.

Musim ini sudah memperlihatkan bahwa ruang untuk coba-coba tidak lagi sebesar yang dibayangkan. Paul Heckingbottom harus angkat kaki dari Preston North End, sementara Michael Duff juga tidak bertahan lama di Wycombe Wanderers. Menjelang jeda yang diperpanjang, sejumlah manajer lain pun menatap jeda internasional dengan perasaan yang serupa—waswas menanti, sekaligus berharap timnya tetap bisa “mengunci” kepercayaan jelang kompetisi kembali bergulir.

Seperti yang terjadi pada pekan-pekan sebelumnya, momen sebelum pemain terbang bersama timnas kerap menjadi penentu ritme. Pada laga Minggu, Fulham dan Manchester United bertemu di Craven Cottage sebagai pertandingan terakhir sebelum para pemain mengikuti agenda negara masing-masing. Bagi Alvaro Arbeloa dan Michael Carrick, duel itu terasa seperti jeda yang menuntut bukti—bukan sekadar menunggu.

Arbeloa sendiri akan menghadapi situasi yang tidak mudah sejak ia mengambil alih kursi kepelatihan Fulham pada musim panas. Ia baru memimpin dalam 28 pertandingan sebagai pelatih Real Madrid pada paruh kedua musim terakhir, namun kini langsung berhadapan dengan tekanan yang datang dari hasil di awal Premier League. Dalam empat laga pertama, Fulham belum meraih kemenangan dan menelan tiga kekalahan. Di luar angka, ada pula spekulasi tentang keresahan di dalam skuad yang berkaitan dengan aktivitas media sosial pemain.

Untuk Carrick di Old Trafford, tekanan juga terasa membesar setelah tersingkirnya Manchester United di Piala EFL. United kalah 3-2 dari Brighton pada Rabu, sebuah hasil yang mengakhiri momen ketika mereka unggul di kandang dengan selisih dua gol namun akhirnya kalah. Itu pertama kalinya sejak kekalahan 3-2 dari Tottenham pada tahun 1976. Kekalahan tersebut juga datang setelah United menelan kekalahan 1-0 dari Manchester City yang bermain dengan 10 pemain.

Dalam musim ini, United baru mengemas kemenangan dari dua laga, masing-masing melawan Ipswich Town dan Sabah. Karena itu, duel terakhir sebelum pemain berangkat ke timnas berpotensi menjadi semacam halaman pembuka kembali: bila hasilnya tidak berpihak, sorotan biasanya tidak berhenti pada satu pertandingan, tetapi merembet ke evaluasi lebih panjang saat kompetisi resume.

Jeda internasional: apakah benar bisa memicu pergantian cepat? Secara statistik, pergantian manajer di awal kampanye Liga Primer Inggris sebelum jeda internasional tergolong jarang. Dalam 10 tahun terakhir, hanya sedikit manajer yang harus kehilangan pekerjaan sedini itu, dan lebih jarang lagi pergantian terjadi tepat pada fase jeda.

Pola itu tampak berpotensi berubah pada tahun ini karena jadwal jedanya berbeda. Jeda pertama kali ini berlangsung tiga pekan, bukan dua, dan datang lebih lambat dari kebiasaan sebelumnya. Pada slot September, klub umumnya hanya sudah memainkan tiga pertandingan liga. Dalam 10 tahun terakhir, hanya dua manajer yang berpisah dari jabatan mereka selama jeda tersebut: Javi Gracia bersama Watford pada 2019, serta Nuno Espirito Santo di Nottingham Forest pada musim lalu.

Lalu, bagaimana dengan jeda Oktober? Di periode yang sama dalam sejarah, juga hanya dua manajer yang kehilangan pekerjaannya: Francesco Guidolin saat menangani Swansea pada 2016, serta Xisco Munoz di Watford pada 2021. Dengan demikian, indikasinya adalah klub tidak cenderung memakai jeda internasional sebagai “waktu pindah manajer”.

Namun, bukan berarti manajer aman sepenuhnya. Perubahan yang lebih sering terjadi justru muncul pada bulan November. Dalam rentang 10 musim terakhir, enam pelatih diganti pada periode itu. Catatannya penting: pergantian belum tentu dilakukan di sela jeda, tetapi bisa disiapkan dan dilakukan ketika kompetisi memasuki fase berikutnya.

Dalam 10 kampanye terakhir, sembilan pelatih sudah angkat kaki sebelum jeda internasional kedua tiba. Di musim ini, kondisi yang tengah dialami beberapa klub mengarah pada kemungkinan tekanan makin intens jika hasil tidak kunjung bergerak membaik dalam tiga pekan ke depan.

Mengapa jeda internasional sering terasa “menyulitkan”? Jeda memberi klub kesempatan untuk menata ulang rencana, terutama jika mereka memutuskan mengganti manajer. Tonjolan gagasan itu disampaikan Tony Pulis, yang pernah memimpin Stoke, West Brom, dan Middlesbrough. Menurutnya, ada beberapa “titik menempel” ketika tekanan bisa terbentuk bagi manajer yang sedang kesulitan—yaitu jeda internasional pada Oktober dan November, jeda setelah libur Natal, serta awal Maret.

Penjelasan logikanya cukup jelas. Ketika kalender berhenti sebentar, klub memperoleh ruang waktu untuk menunjuk pelatih baru agar bisa menyerap situasi, menilai staf, serta mempersiapkan pertandingan pertama setelah pergantian. Setelah Natal, pertandingan pertama sering kali berupa laga Piala FA, sehingga pelatih baru mendapat waktu untuk melihat apa yang benar-benar bisa dikerjakan di skuad.

Pada akhirnya, cara klub mengelola jeda tidak hanya soal jadwal. Di momen jeda, manajer yang sedang terhimpit kerap mendapati transisi semakin terasa. Mereka tidak punya kesempatan untuk “mengunci” perbaikan melalui rangkaian pertandingan, sementara evaluasi internal dan opini publik cenderung bergerak lebih cepat.

Meski jeda kali ini belum tentu berarti lampu merah untuk semua manajer, gambaran umumnya tetap sama: jeda internasional yang datang terlalu awal tidak selalu membantu. Baik tim sedang menang maupun sedang kalah, situasinya bisa berubah menjadi ujian tersendiri. Saat menang, dorongan biasanya adalah tetap bermain, sedangkan ketika awal musim buruk, manajer justru membutuhkan tambahan waktu untuk membetulkan semuanya sebelum terlambat. Perjalanan pemain serta peluang cedera pada fase awal juga dianggap menambah kompleksitas—sebuah dinamika yang membuat kondisi semakin tidak ideal.

Manajer yang mulai merasakan panas Walau bukti statistik menunjukkan klub biasanya tidak langsung mengganti manajer hanya karena jeda, beberapa nama di musim ini tetap berada dalam sorotan karena hasil yang kurang memuaskan.

Untuk Manchester United, Carrick disebut tidak sedang berada pada posisi “langsung menentukan nasib” hanya dari satu pertandingan, terutama karena ia pernah mendapat kepercayaan musim lalu dengan membawa United ke Liga Champions. Ia juga menilai anggapan bahwa laga tertentu bisa menjadi “momen penentu” bagi pekerjaannya adalah hal yang “ridiculous”. Namun, United memiliki karakter sorotan yang lebih intens dibanding banyak klub lain. Bila United kalah di Craven Cottage—yang akan menjadi pertandingan tandang pertama mereka tanpa kemenangan sejak 2009—terutama melawan tim yang hanya mengemas satu poin dan berada di dasar klasemen, pembahasan publik dan evaluasi internal bisa langsung melebar, lalu kembali membentuk tekanan ketika kompetisi resume untuk menghadapi Tottenham pada 10 Oktober.

Di Fulham, tingkat risiko Arbeloa memang belum sepenuhnya terlihat secara pasti, tetapi ada indikasi ketidakpuasan di dalam skuad sejak awal musim. Perubahan taktis yang cukup besar yang dilakukan Arbeloa setelah menggantikan Marco Silva membuat pertahanan terasa lebih rentan. Walau Fulham menampilkan permainan yang lebih kokoh pada laga tanpa gol saat bermain di kandang Liverpool pekan lalu, jejak performa awal tetap menjadi bahan pertanyaan. Silva sendiri menghabiskan lima tahun bersama Fulham, sehingga pergantian gaya dan transisi skuad biasanya butuh waktu yang tidak selalu diberikan.

Aspek yang memperbesar kecemasan datang dari riwayat pemilik Shahid Khan dalam membuat keputusan manajerial. Claudio Ranieri bertahan hanya 106 hari, sementara Felix Magath dipecat pada September 2014, meski ia baru ditunjuk pada musim sebelumnya. Dengan latar itu, jeda internasional bisa menjadi ruang waktu bagi klub untuk menilai ulang arah sebelum terlambat.

Tottenham juga menghadapi situasi yang bertolak belakang dalam hal “cara membaca tekanan”. Hasil mereka dari waktu ke waktu justru makin tidak sedap dipandang, meski dana investasi pada bursa musim panas disebut sekitar £300 juta untuk mendatangkan pemain baru. Meski angka investasi besar, poin dan gol yang dihasilkan belum memberi kepuasan. Meski demikian, tidak ada indikasi bahwa Roberto de Zerbi tengah berada dalam tekanan yang sama seperti yang dialami klub lain—setidaknya dari cara tim memandang prosesnya. Dalam enam pertandingan, Tottenham belum meraih kemenangan, tetapi menurut gambaran suasana internal, cara bermain dianggap masih positif dan ada keyakinan bahwa hasil baik hanya tinggal menunggu waktu. Meski begitu, bagi Tottenham, waktu agar “klik” menjadi kenyataan harus lebih cepat daripada nanti.

Di Crystal Palace, Pierre Sage disebut mengalami awal yang tidak terlalu meyakinkan. Hanya satu kemenangan liga sejauh ini kurang diterima secara internal, dan pertahanan yang mudah kebobolan juga menjadi sorotan sejak kedatangan pelatih dari Lens. Namun, pihak klub kemungkinan mempertimbangkan ketidakhadiran dua penyerang, Ismaila Sarr dan Jean-Philippe Mateta, untuk beberapa alasan yang relevan. Kemenangan 4-0 atas Lech Poznan di Liga Europa pada Kamis sempat meredakan sebagian beban, tetapi kekalahan dari Leeds pada pertandingan Minggu disebut bisa menjadi momen yang paling tidak diinginkan bagi Sage.

Burnley juga masuk daftar yang membuat bursa spekulasi makin ramai. Nicky Hayen, yang meninggalkan Genk untuk memimpin upaya kembali ke Premier League pada percobaan pertama, justru memulai musim dengan hasil yang mengecewakan. Burnley sempat diprediksi sebagai kandidat ketiga promosi, di bawah West Ham dan Wolves, tetapi mereka tidak menang dalam delapan pertandingan awal. Dalam konferensi pers sebelum pertandingan pada Jumat, Hayen mengakui bahwa ia berada di bawah tekanan, dan laga melawan Derby pada Sabtu dinilai sebagai pertandingan yang “wajib menang”. Namun, hasil imbang 1-1—dengan Derby mencetak penyama kedudukan pada masa injury time—membuat Burnley masuk jeda sebagai juru kunci. Situasi itu membuat papan klub kemungkinan sedang mengevaluasi berbagai opsi. Derby sendiri, dengan manajer John Eustace, juga disebut tidak sepenuhnya aman karena klub berada di zona degradasi.

Sementara itu, Watford tidak pernah benar-benar “berhenti khawatir” untuk urusan kursi pelatih. Alessio Dionisi, yang ditunjuk pada musim panas, kini menjadi manajer permanen ke-27 Watford dalam waktu kurang dari 18 tahun. Kekalahan pada Jumat dari Bristol City membuat Watford hanya meraih dua kemenangan dari delapan laga liga pertama di bawah Dionisi. Dengan posisi mereka berada di peringkat 19, tiga poin di atas zona degradasi, pemilik Gino Pozzo disebut mungkin tidak akan terlalu lama menunggu jika perubahan dianggap perlu segera.