jurnalistik.co.id – Debut Arthur Fery di musim US Open 2026 tidak berjalan sesuai harapannya. Petenis berusia 24 tahun itu akhirnya harus angkat raket lebih cepat setelah kalah di babak pertama melawan Lorenzo Musetti.
Fery datang dengan catatan yang sedang naik tajam. Ia sempat membuat gebrakan di Wimbledon, lalu lari sampai semifinal sehingga posisinya melonjak dari peringkat 114 menjadi berada di dalam persaingan papan atas, tepatnya mendekati kelompok 40 besar.
Meski begitu, Fery masih āsedikitā kurang untuk mendapatkan status unggulan di New York. Turnamen mengatur peringkat 32 teratas sebagai penerima seeded position, dan ia masih berada di luar batas itu, sehingga harus menempuh laga perdana tanpa perlindungan peringkat.
Pilihan undian mempertemukannya dengan Musetti, unggulan ke-13 dari Italia. Bagi Fery, ini menjadi ujian berat karena Musetti bukan sekadar lawan berperingkat, melainkan pemain serba bisa yang mampu mengubah ritme permainan sejak awal.
Musetti sendiri sempat absen di dua ajang mayor terakhir. Ia melewatkan dua turnamen besar sebelumnya akibat cedera paha (thigh injury), namun kembali dengan modal kenangan pada perjalanan 12 bulan lalu ketika ia mencapai perempat final.
Menunggu lebih lama sebelum memulai
Fery juga harus menunggu jadwal lebih dari yang mungkin ia bayangkan. Ia memulai pertandingannya pada hari ketiga yang sempat tertunda hujan, lalu pertandingan akhirnya bergulir di kondisi panas dan lembap di Flushing Meadows.
Di Grandstand, yang dikenal sebagai arena terbesar ketiga dalam US Open, Fery terlihat menjaga fokus dengan cara yang sudah ia pakai ketika menghadapi Wimbledon. Ia mengenakan ear plugs pada setiap pergantian sisi sebagai upaya meredam distraksi di sekitar lapangan.
Namun, Musetti tampak ātenangā dalam membaca momen. Alih-alih terpancing, ia menunggu kesempatan dan meminimalkan kesalahan begitu peluang mulai terbuka.
Dari sisi strategi, Musetti memberi masalah nyata terutama lewat permainan tangan satu di backhand-nya. Gaya tersebut berulang kali mengganggu Fery dan membuat pengembalian lawan terasa tidak mudah untuk ditempatkan.
Fery sempat mencoba membangun ritme, tetapi di momen-momen kunci ia justru memberikan celah. Di set pertama, ia menyerahkan momen penting lewat double faults beruntun, sebelum akhirnya harus kehilangan servis lagi dan membuat Musetti unggul 1 set.
Berita Terkait
Keputusan Musetti di set berikutnya memperjelas bahwa ia layak dianggap sebagai ancaman yang serius. Pada kesempatan break poin pertamanya di set kedua, ia mengambil kendali, lalu bertahan saat Fery menekan dengan empat peluang untuk merebut set.
Musetti akhirnya mampu menjaga keunggulan sampai memimpin 5-2. Memasuki set ketiga, Fery tidak langsung menyerah, dan ia sempat mengibarkan harapan dengan mematahkan servis untuk mengambil keunggulan 2-0 setelah tertinggal dua set.
Upaya kebangkitan tidak bertahan lama
Namun, kebangkitan itu tidak berlangsung lama. Musetti segera merespons dengan rangkaian empat gim untuk kembali menjauh, ketika kesalahan mulai merayap pada permainan Fery.
Fery tetap mencoba bertahan di bawah tekanan. Saat menghadapi match point pertama di servisnya, ia menolak menyerah, dan kemudian memancing momen dengan mematahkan servis untuk menyamakan kedudukan menjadi 5-5.
Meski sempat memberi perlawanan yang membuat pertandingan lebih hidup, Musetti akhirnya menemukan jalan pada match point ketiganya. Ia pun menutup laga dengan kemenangan 6-3, 6-3, 7-5 dan memastikan tempatnya melaju ke babak kedua.
Setelah memastikan kemenangan, Musetti mengarahkan selebrasi ke kepalanya sebagai tanda keberhasilan. Ia kini akan menghadapi Dane Sweeny, petenis asal Australia, pada laga babak berikutnya.
Bagi Fery, hasil ini memang mengecewakan karena ia ingin melanjutkan momentum besar yang dibawanya dari Wimbledon dan juga dari penampilan di Winston-Salem Open, tempat ia meraih final ATP Tour pertamanya. Meski demikian, ia tetap membawa pengalaman berharga dari tur luar negeri yang baru kedua kalinya ia jalani di ajang mayor.
Catatan tambahan yang memperjelas perjalanan Fery adalah loncatan peringkat yang terjadi dalam setahun terakhir. Ia pernah berada di luar top 200 setahun lalu, lalu menjadi salah satu kejutan Wimbledon dengan status wildcard dan tercatat sebagai wild card putra pertama yang mampu menembus semifinal dalam 25 tahun terakhir.
Dalam refleksi tentang permainan, Musetti juga menggambarkan gaya bertandingnya sebagai āvintageā. Fery menghadapi pemain dengan karakter yang begitu khas, termasuk efektivitasnya di depan net sejak fase awal pertandingan yang sempat membuat Musetti menghasilkan tekanan berkelanjutan.
Sementara Fery harus berhenti di babak pertama, perhatian penonton tenis Inggris kini bergeser kepada nama-nama lain yang masih bersaing di nomor tunggal putra. Kompetisi masih menyisakan Jacob Fearnley dan Toby Samuel, serta Jan Choinski yang akan bermain lebih belakangan pada hari Selasa.
Untuk Fery, turnamen ini menjadi bagian dari proses panjang menuju puncak yang lebih mapan. Ia mengisyaratkan bahwa ia punya target untuk terus naik level pada 2027, setelah menunjukkan ketangguhan saat nyaris meraih gelar ATP pertamanya di North Carolina.











