Olahraga

US Open 2026: Djokovic Menangis Usai Kalah Sengit di Babak Pertama dari Mariano Navone di New York

×

US Open 2026: Djokovic Menangis Usai Kalah Sengit di Babak Pertama dari Mariano Navone di New York

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Open 2026: Novak Djokovic breaks down in tears during difficult loss to Mariano Navone in New York

jurnalistik.co.id – Novak Djokovic harus mengakhiri perjalanan di US Open 2026 lebih cepat dari yang ia bayangkan. Unggulan keempat itu kalah di babak pertama dari Mariano Navone, dan momen yang menyertainya membuat stadion merasakan betapa beratnya kekalahan tersebut.

Djokovic, petenis 39 tahun berstatus juara 24 kali Grand Slam, tumbang dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 7-6 (7-5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1. Di set penentuan, ia terlihat terpukul hingga akhirnya menangis, setelah sebelumnya menampilkan upaya untuk tetap bertahan di tengah kondisi fisik yang terus mengganggu.

Kekalahan ini juga menandai catatan bersejarah yang sulit diterima oleh Djokovic. Ini menjadi pertama kalinya ia kalah pada babak pembuka di Flushing Meadows, sekaligus untuk pertama kalinya ia tersingkir di ronde awal turnamen Grand Slam sejak 2006.

Navone menjadi aktor utama yang mengubah jalannya laga. Petenis asal Argentina berusia 25 tahun itu, yang menempati peringkat dunia ke-49, berhasil meraih kemenangan besar yang akan dikenang sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya.

Djokovic memulai laga dengan sinyal positif. Ia sempat merebut servis Navone pada percobaan pertama untuk unggul 2-0, namun keunggulan tersebut tidak bertahan lama karena situasi justru berbalik ketika ia mulai kesulitan mengimbangi tempo permainan.

Seiring pertandingan berjalan, kondisi lembap di New York ikut terasa. Setelah reli panjang yang menguras tenaga, Djokovic mulai terlihat membutuhkan waktu lebih untuk pulih, baik dalam gerak maupun saat menyiapkan serangan dari baseline.

Di titik ketika ia makin tampak tidak nyaman, Djokovic bahkan harus memanggil dokter setelah melewati permainan ke-9. Setelah mendapat bantuan berupa tablet, ia mencoba melanjutkan pertandingan, tetapi ekspresi yang tertahan menggambarkan bahwa masalah fisik masih belum sepenuhnya selesai.

Set pertama akhirnya bergerak menuju tie-break setelah permainan berlangsung 1 jam 13 menit. Pada momen penentuan itu, Djokovic terlihat berjuang keras: ia sering menunduk dan membungkuk di sela poin, sementara Navone tetap menjaga fokus hingga merebut set 7-6 (7-5).

Suasana di Arthur Ashe Stadium ikut berubah. Ketika Djokovic terus bekerja keras di bawah tekanan fisik, hening terasa seperti menjadi tanda bahwa penonton mulai khawatir terhadap empat kali juara turnamen itu.

Di set kedua, Djokovic sempat menemukan ritme yang membuatnya lebih berani. Ia menciptakan break point yang hanya terjadi pada fase itu, dan setelah melewatkan peluang di permainan ke-3 dan ke-5, ia akhirnya menggenggam keunggulan 6-5 lalu menutup set dengan servis hingga meraih kemenangan 5-7 untuk menyeimbangkan kedudukan.

Awal set ketiga memperlihatkan perubahan kecil pada intensitas Djokovic. Geraknya terlihat lebih hidup, seolah ia mulai kembali seperti versi terbaiknya, meskipun situasi tidak berlangsung lama.

Ketika kedudukan menjadi 3-3, Djokovic kembali terlihat tidak stabil saat melangkah. Dari sana, ia tidak mampu mempertahankan kendali seperti yang biasanya ia lakukan pada posisi-posisi krusial: ia berhasil memanfaatkan game servis Navone yang kurang baik untuk mematahkan servis dan memimpin 5-4, lalu menjaga keunggulan agar masuk fase berikutnya dengan keunggulan set.

Namun, justru di bagian yang biasanya menjadi kekuatan Djokovic, ia gagal mengunci kemenangan. Navone, yang sebelumnya tidak pernah melangkah melewati babak kedua di New York, tetap menahan tekanan dan membuat pertandingan berubah arah menjadi semakin sulit bagi sang juara.

Djokovic kemudian harus menghadapi kenyataan pahit ketika laga cepat lepas kendali. Kekalahan bukan hanya soal skor, tetapi juga gambaran dari pertarungan fisik yang tidak kunjung hilang, termasuk saat ia dikabarkan mengalami kesulitan sepanjang pertandingan hingga sempat muntah ke tempat handuk di tengah kondisi yang terus mengganggu.

Menjelang akhir pertandingan, suasana stadion kembali meredup. Ketika tampak jelas Djokovic tidak akan bisa menemukan jalan keluar untuk membalikkan keadaan, ia akhirnya menerima kekalahan dengan skor 6-2 dan 6-1 pada dua set terakhir.

Meski demikian, ia tetap menunjukkan sikap sportif setelah laga. Djokovic sempat tersenyum dan memberi selamat kepada Navone, yang baru berusia 25 tahun, atas kemenangan yang akan menjadi salah satu yang terbesar dalam kariernya.

Sayangnya, setelah upacara singkat itu, beban emosional Djokovic tidak bisa lagi ia tahan. Ia terlihat sangat terpukul—mendekati air mata lagi—saat berjalan kembali menuju ruang ganti, menutup penampilan yang berakhir dengan tangis di malam yang seharusnya penuh kejayaan.