Entertainment

Di studio bersama Kasabian: “Kami tak pernah menyangka kesuksesan akan kembali”

×

Di studio bersama Kasabian: “Kami tak pernah menyangka kesuksesan akan kembali”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: In the studio with Kasabian: 'We never thought we'd see success again'

jurnalistik.co.id – Serge Pizzorno menyebut ada satu hal sederhana yang membuatnya tetap bergerak: sedikit rasa lapar. “A little bit of hunger is good for you,” katanya, “Keeps you going.” Ia memandangnya sebagai prinsip yang menahan laju waktu sekaligus menjaga fokus saat menyiapkan musik.

Di rumahnya, Kasabian tidak sedang “mencari inspirasi” dengan cara dramatis. Frontman band rock itu menggambarkan rutinitas rekaman di studio pribadinya yang terletak di pedesaan Leicestershire, jauh dari gangguan sehari-hari. Ia melarang camilan dan ponsel, lalu bekerja cepat—empat atau lima jam dalam sehari.

“No distractions, four or five hours a day. I like to work fast,” ujarnya. Ia bahkan memotong istirahat makan siang agar ritme kerja tidak putus. Namun bukan berarti studio selalu dipenuhi kesunyian; kadang film ikut berjalan di latar, biasanya karya David Lynch.

Perubahan itu terasa kontras dengan fase awal Kasabian, ketika Pizzorno pernah “live the French poet life”. Masa itu ia ceritakan sebagai hari-hari yang bisa dilalui dengan begadang berhari-hari—tiga hari penuh—untuk menunggu ide datang pada batas kemampuan fisik. “That can be great,” katanya, “It adds to the atmosphere of a record.”

Meski begitu, untuk tiga album terakhir, ia memilih pola yang lebih terstruktur. “I’ve pretty much led a structured life, and I’m really digging it,” ucapnya. Kini, studio bukan sekadar tempat membuat lagu, tetapi ruang untuk menjalankan proses yang ia kendalikan.

Pizzorno membuka pintu studionya untuk BBC guna menampilkan gambaran awal album kesembilan mereka, Act III, sepuluh hari sebelum perilisan. Ia membawa tamu ke area rumah berpagar, tempat istrinya, Amy, menyambut kedatangan, disertai dua anjing yang menurutnya “unruly”. Di kaki tangga, foto konser Finsbury Park Kasabian baru-baru ini terbungkus pelindung bubble wrap.

Dapur dipenuhi karya seni milik Pizzorno, dari gambar “Count Duckula” yang terdistorsi hingga lemari apoteker model lama. Ia kemudian mengajak keluar, melewati tumpukan mainan Nerf gun yang sudah dibuang. Setelah sebuah gerbang, tamu masuk ke taman dinding yang lebih mirip area rahasia.

Di titik itulah studio berdiri: kubus hitam yang tegas menonjol di tengah bentang alam. Studio itu dijaga patung gorila berukuran besar, sementara pada hari-hari ketika percikan belum muncul, ada lapangan bola basket tepat di luar. “The musician built the studio so he could work whenever inspiration struck,” demikian ia membayangkan fungsi ruangan itu.

Begitu masuk, penamaan studio langsung terasa bercanda sekaligus serius. Di sudut ruangan, sebuah papan seperti tanda apoteker menyala dengan julukan “The Sergery”, permainan kata yang menurut catatan muncul dalam konteks ketika Serge menjadi “honorary doctor of music” pada 2025. Di sana pula sebuah gong tergeletak dalam diam, menunggu saatnya dipukul.

Di dekatnya, ada empat boneka kepala Kasabian (bentuk bobblehead) yang diselamatkan dari video “Call”, dan mereka tampak mengangguk serempak saat Pizzorno menyalakan musik baru. Ia memutar Soulmate, sebuah lagu penghormatan yang lucu sekaligus penuh kasih untuk Amy, dengan pengantar riff gitar yang terasa “percaya diri”.

Berikutnya adalah Say You (Closer), dengan pesan kebersamaan yang mengalir lewat harmoni tiga bagian. Pizzorno mengaku ada bagian yang membuat musik itu terdengar mendekati gaya The Eagles, meski ia juga menyebut sisi lain terdengar seperti suasana percakapan yang “meledak” di pub—dan ia tertawa ketika membayangkan tantangan menirukan nuansa tersebut di panggung.

“In rehearsals, ‘there are moments where it does sound like the Eagles, and there are moments where it sounds like three pissed up people in a pub,’” katanya. Lalu ia menyimpulkan targetnya: “What I’m going to do, hopefully, is get the crowd to do that bit.”

Ia menyebut album ini mengusung gagasan Tunes You Can Sing™ sebagai pilihan yang disengaja. “I feel like it’s not a very melodic time in music,” katanya, lalu ia menjelaskan keinginannya pada hook dan rangka bait yang sekuat chorus. Ia bahkan membandingkan rasa yang ia cari dengan sebuah lagu Elton John—melodi yang mampu “mematahkan hati”.

Kutipan itu terasa nyata lewat single Hippie Sunshine. Pizzorno menyukai chorus yang “loud” dan dibawakan dengan cara dinyanyikan bersama, tetapi ia menyoroti momen ketika bagian itu justru berhenti—lalu berganti menjadi jeda piano yang berkilau. “I love those 60s songs like Good Vibrations and Baron Saturday,” tuturnya, “where the middle is just a handbrake turn, and you go, ‘Where the hell am I now?’”

Baginya, awalnya pendengar mungkin merasa itu “aneh”, tetapi setelah terbiasa, justru bagian tersebut menjadi bagian yang menegangkan—momen yang dinantikan semua orang. Ia menempatkan kontras di lagu sebagai kunci yang memperkuat pengalaman mendengar.

Namun, perbedaan musikal di Hippie Sunshine memiliki tujuan lebih jauh. Di bagian verse, ia menulis kritik terhadap para oligark teknologi yang berjalan tanpa jiwa, dengan algoritme yang “menentukan” jalannya hidup. “The heroes are running on empty,” ia kesal, lalu menjelaskan jembatan lagu sebagai kebangkitan yang lebih tenang: elite itu akhirnya menyadari, “I’m a stone-cold killer”.

Pizzorno mengingatkan bahwa manusia bisa berada di bawah kendali keputusan yang tidak sepenuhnya dipahami tujuannya. “We find ourselves, somehow, at the whim of people whose intentions we don’t really understand,” ujarnya. Menurutnya, mereka “bermain” dengan budaya tanpa jelas mengarah ke mana semuanya akan berakhir.

Ia juga melihat efeknya pada anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia menyebut kalimat tegas seperti “Get off your phone” tidak otomatis membuat orang ingin mendengar. “But you can subtly educate them,” katanya, bahwa menghabiskan sepuluh jam di layar tidak akan memberi keuntungan.

Dari situ, ia menggambarkan momen kecil yang menumbuhkan pilihan lain: remaja itu duduk di halte, dan alih-alih mengambil ponsel, mereka memilih untuk memberi ruang pada pikiran. “Then they sit at a bus stop and, rather than get the phone out, they go, ‘You know what? I’m just going to sit in these thoughts for a minute’.”

Ia menutup kisahnya dengan refleksi pribadi tentang perjalanan menuju titik sekarang. “I definitely wouldn’t have got to where I am now,” ujarnya, “without moments where I was just alone, thinking, ‘How do I get out of this place? I want more’.”

Meski berbicara tentang teknologi dan kebiasaan, Pizzorno tegas soal kecintaannya terhadap kerja kreatif langsung. Ia tidak menyukai gagasan AI menulis lagu untuknya. “For it to write your songs for you, I just personally find that that’s taking away the bit that I like doing. Like, why would I?”

Ia menilai kesalahan besar perusahaan AI adalah menyamakan “menulis” dengan rasa membosankan. Bagi Serge, studio justru adalah playground yang memberi ruang bagi “spark” kecil. Ia menolak kebutuhan akan kebesaran yang dibuat-buat, cukup melihat sesuatu di sudut ruangan lalu mencoba menyalakannya, mengutak-atiknya selama sepuluh menit, dan melihat apa yang terjadi.

Dalam kesempatan yang sama, ia menunjukkan perangkat terbaru: Moog DFAM, sebuah synth desktop berukuran kecil. Ia mengaku tidak bisa membaca buku panduan, tetapi menonton tutorial YouTube. Dari sana ia memancing garis bass yang menggertak, seolah menjadi isyarat awal sebuah lagu baru: “You see! That’s a song right there!”

Salah satu lagu yang ia sebut terinspirasi adalah Nothing Better Than This. Lagu itu lahir dari “secret set” Kasabian saat Festival Glastonbury 2024, ketika kerumunan begitu besar hingga Woodsies Stage harus ditutup. Untuk menangkap momen-momen semacam itu, seluruh aktivitas di studio direkam secara otomatis.

Pizzorno menjelaskan, meski rekaman terkumpul banyak, band selektif soal musik yang dirilis. Act III tersusun ringkas dengan sepuluh lagu, dengan prinsip bahwa setiap lagu harus cukup kuat untuk masuk daftar setlist. Sepanjang musim panas, mereka mempratinjau album dari Jepang hingga Turki, sebelum menghadirkan konser headline terbesar dalam karier mereka.

Konser itu terjadi pada bulan Juni di London, tepatnya Finsbury Park. Pizzorno menyebutnya sebagai peristiwa yang luar biasa, mengingat enam tahun sebelumnya Kasabian memecat penyanyi Tom Meighan satu hari sebelum ia divonis karena penyerangan terhadap pasangannya. “The pain was unbearable,” katanya, namun mereka tidak ingin cerita berhenti begitu saja. “This is my life’s work,” ujarnya, “so we had to give it a go.”

Serge kemudian melangkah sebagai frontman, dan ia terkejut melihat Kasabian memperoleh kehidupan baru. Di masa sekarang, pertunjukan mereka lebih teatrikal dan lebih komunal, dengan mengurangi—setidaknya sebagian—keriuhan yang dulu dibalut kebiasaan minum bir tanpa kendali. Ia menekankan bahwa perubahan itu bukan sekadar estetika, tetapi juga cara mereka merangkai hubungan dengan penonton.

Secara komersial, band berada di puncak permainan. Pizzorno menyebut jika Act III menempati tangga teratas minggu depan, Kasabian akan melampaui rekor Led Zeppelin dalam album studio nomor satu beruntun—sejumlah tujuh. “That’s why Finsbury Park meant so much, because we never thought we’d have days like that again,” katanya.

Bagi Serge, menjadi frontman “changed my life completely”. Ia mengubah cara persiapan dari minum sebelum tampil menjadi berlari, terinspirasi oleh Amy yang hanya berjarak 46 detik dari posisi juara di London Marathon. “It’s been a seismic shift in my whole being,” katanya, dan ia menggambarkan komitmennya agar penonton menyimpan kenangan yang “terpahat” dalam ingatan untuk waktu yang lama.

Ia juga menilai sulit membayangkan dirinya di masa sekolah seperti sekarang. “If you saw the kid I was at school, you wouldn’t be like, ‘Okay, that’s definitely someone that’s gonna be a singer’.” Namun menurutnya, begitu berada di panggung, energi itu muncul secara alami karena musik yang ia rasakan.

Ia menyatakan bahwa pengerjaan album berikutnya sudah dimulai. Ketika ditanya apakah energi itu akan dibawa untuk kemungkinan konser Knebworth bersama Oasis musim panas depan, Serge menjawab ia belum mendengar rumor tersebut. Tetapi ia menambahkan, “But who wouldn’t do it if they were asked?”

Di studio, ada rencana yang lebih panjang lagi. Di papan tulis kecil, mereka bahkan membahas album kesepuluh. Serge tertawa saat menyebutnya—ia seperti sedang menyiapkan layar untuk tangkapan berikutnya: “The fishing rod is out, and I’m looking for a big fish.”