jurnalistik.co.id – Range Rover telah memperkenalkan model listrik penuh pertamanya, setelah rencana peluncuran mengalami penundaan selama setahun. Pengembangan ini ditandai sebagai langkah besar dalam program elektrifikasi merek tersebut.
Model yang dinamai Range Rover Electric akan diproduksi di pabrik JLR di Solihull, West Midlands. Peluncuran ini sekaligus menjadi bagian dari upaya peremajaan skala besar di berbagai fasilitas perusahaan di wilayah yang sama.
Dalam pernyataannya, Jaguar Land Rover (JLR) menyebut telah melakukan peningkatan keterampilan bagi 10.500 pekerja agar siap untuk produksi kendaraan listrik. Langkah tersebut ditempuh sambil perusahaan menghadapi tekanan keuangan serta rencana pemotongan pekerjaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Pada saat yang sama, perusahaan berhadapan dengan persoalan yang lebih luas bagi industri otomotif, termasuk gangguan rantai pasok dan proses restrukturisasi. JLR juga menyinggung dampak dari serangan siber tahun lalu yang menghentikan produksi selama lebih dari sebulan.
JLR menyatakan peluncuran Range Rover Electric didukung oleh jalur produksi baru untuk baterai dan unit penggerak listrik. Perusahaan juga mengalokasikan pelatihan bagi sekitar 9.000 karyawan di Solihull, serta melatih tambahan 1.500 orang di wilayah regional yang lebih luas.
Di fasilitas Electric Propulsion Manufacturing Centre milik JLR di Wolverhampton, produksi baterai dan unit penggerak listrik kini berjalan berdampingan dengan pembuatan mesin berbahan bakar minyak. Dengan pola ini, pusat manufaktur tersebut menjadi bagian dari transisi bertahap menuju elektrifikasi.
Martin Limpert, managing director Range Rover, menggambarkan model baru ini sebagai hasil dari pengalaman panjang yang dipersiapkan dengan matang. Ia menyebutnya sebagai “considered engineering” yang diraih selama satu dekade.
Berita Terkait
Peluncuran ini datang di tengah periode yang tidak sepenuhnya stabil bagi Coventry-based carmaker tersebut. Perusahaan melaporkan penurunan profit yang turun menjadi ÂŁ66m pada kuartal pertama, yang terjadi setelah kebakaran di pemasok kunci asal Norwegia.
Selain itu, JLR juga mengonfirmasi adanya restrukturisasi dalam perusahaan. Dalam rencana yang dipaparkan, jumlah peran yang akan dikurangi diproyeksikan kurang dari 300 posisi dalam waktu kurang dari satu tahun setelah serangan siber yang memukul aktivitas produksi.
Pada saat pelaporan hasil keuangan, perusahaan menyampaikan bahwa peluncuran produk baru akan membuat “JLR in good shape whilst acknowledging the continuing geopolitical, inflationary and regulatory challenges the industry faces”. Pernyataan itu menegaskan bahwa perusahaan tetap melihat prospek perbaikan sambil mengakui tantangan geopolitik, tekanan inflasi, serta dinamika regulasi yang terus berlangsung.
Dari sisi jadwal, Range Rover Electric hadir setelah rencana peluncurannya tertunda selama setahun. Di industri yang bergerak cepat, penundaan semacam ini biasanya mencerminkan penyesuaian pada kesiapan produksi, kesiapan rantai pasok, dan proses adaptasi pabrik untuk spesifikasi kendaraan listrik.
Dengan memusatkan produksi di Solihull, perusahaan menempatkan wilayah West Midlands sebagai salah satu titik penting dalam transisi elektrifikasi. Penyiapan tenaga kerja yang besar, ditopang oleh lini produksi baterai dan unit penggerak baru, menjadi fondasi agar manufaktur kendaraan listrik dapat berjalan pada skala yang lebih luas.
Dalam konteks yang lebih luas, peluncuran model listrik penuh pertama Range Rover juga mencerminkan strategi JLR untuk terus memodernisasi operasi pabrik meski sedang menghadapi gangguan eksternal. Penambahan pelatihan karyawan dan penguatan infrastruktur produksi disebut sebagai upaya untuk memastikan perubahan tersebut tidak berhenti pada level perencanaan.
Seiring model listrik penuh ini mulai diperkenalkan ke publik, perusahaan akan terus menyeimbangkan dua kebutuhan sekaligus: mengejar target elektrifikasi dan meredam dampak dari tekanan bisnis yang muncul belakangan. Langkah di Solihull, ditambah produksi di Wolverhampton, menunjukkan bahwa transisi JLR diarahkan melalui kombinasi pembenahan kapasitas serta kesiapan sumber daya manusia.












