jurnalistik.co.id – Tim Traffic Accident Analysis (TAA) Korlantas Polri telah memaparkan sejumlah temuan dari penyelidikan kecelakaan maut yang terjadi di ajang drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, pada Minggu (9/8/2026). Dalam insiden tersebut, delapan orang meninggal dunia.
Menurut hasil analisis TAA, mobil yang terlibat mengalami modifikasi pada bagian mesin dan transmisi. Sementara itu, kondisi sistem pengereman kendaraan disebut masih berada dalam standar pabrikan atau setara standar balap yang dipersyaratkan.
Katim TAA Korlantas Mabes Polri, AKBP Sandhi Weedyanoe, menyampaikan bahwa temuan itu menjadi salah satu dasar bagi pihaknya untuk menilai dinamika insiden. Ia menekankan bahwa peningkatan performa mesin seharusnya dibarengi kemampuan pengereman yang memadai, mengingat kendaraan akan melaju dengan tenaga dan karakter yang berbeda.
AKBP Sandhi Weedyanoe menjelaskan salah satu indikasi penting yang ditemukan saat pemeriksaan. Ia menyatakan bahwa jejak yang ditinggalkan kendaraan dinilai menunjukkan kecepatan tinggi ketika mendekati dan melewati garis finis.
“Hasil tersebut kami menemukan bekas luka yang cukup dalam dari kendaraan. Artinya, bisa kita simpulkan itu merupakan kecepatan yang sangat tinggi,” kata AKBP Sandhi Weedyanoe saat memberikan keterangan di Mapolda Sulut, Rabu (12/8/2026).
Ia juga menguraikan bagaimana TAA menilai aspek kecepatan dan jarak pengereman setelah finis. “Di sana kami menyimpulkan berapa kecepatan tertinggi pada saat melintasi garis finis, kemudian pada jarak berapa meter setelah finis yang bersangkutan melakukan pengereman, kemudian berapa meter kendaraan tidak mampu dikendalikan dengan baik sehingga terjadinya dua titik tabrak,” jelasnya.
Dalam penelusuran tersebut, pihak penyidik menyebut terdapat dua titik tabrakan yang terdampak langsung oleh laju kendaraan. Dua titik itu, kata AKBP Sandhi, berada di gerobak bakso dan di tempat duduk semen yang digunakan warga untuk menyaksikan perlombaan.
Berita Terkait
TAA turut menemukan indikasi bahwa kendaraan tidak dapat dikendalikan dengan baik setelah melewati garis finis. Situasi tersebut kemudian dikaitkan dengan adanya drifting, sebelum akhirnya kendaraan menabrak dua lokasi yang telah disebutkan.
“Faktanya kami menemukan bahwa kendaraan tersebut tidak mampu dikontrol dengan baik sehingga terjadi drifting dan menabrak dua titik. titik gerobak dan masyarakat yang sedang menonton,” tutur AKBP Sandhi.
Untuk memahami konteks kejadian, TAA juga merujuk pada aturan perlombaan yang digunakan dalam ajang tersebut. Berdasarkan rujukan itu, lintasan balap memiliki panjang 201 meter.
Selain panjang lintasan, pihak kepolisian menyampaikan bahwa area perlambatan atau pengereman disiapkan dengan total panjang sekitar 420 meter. Dengan konfigurasi tersebut, TAA menilai peristiwa kehilangan kendali dan tabrakan dapat dipengaruhi oleh kombinasi kecepatan, jarak setelah finis, serta kemampuan kendaraan dalam melakukan pengereman sesuai kondisi yang dialami di lapangan.
Terkait aksi drifting setelah garis finis, TAA menyebut perlu dikaitkan dengan aturan perlombaan dan Kartu Izin Start (KIS) yang digunakan peserta. Namun, meski temuan teknis dan jejak di lokasi telah dipaparkan, AKBP Sandhi menegaskan bahwa penyebab pastinya masih akan didalami melalui tahapan penyelidikan berikutnya.
Paparan ini sekaligus menggambarkan fokus pemeriksaan TAA yang tidak hanya berhenti pada karakter kecelakaan, tetapi juga menilai kondisi komponen kendaraan yang terlibat. Dengan adanya temuan mesin dan transmisi yang dimodifikasi serta pengereman yang disebut masih standar, pihak kepolisian akan melanjutkan penelusuran untuk memastikan rangkaian faktor yang berujung pada insiden maut.
Hingga saat ini, penyelidikan terus berjalan untuk merampungkan analisis terhadap dinamika kecepatan kendaraan, jarak pengereman, serta faktor yang mempengaruhi kemampuan kontrol saat kendaraan melewati garis finis. Dari hasil sementara yang disampaikan, TAA telah mengunci sejumlah temuan teknis dan lokasi tabrakan, sementara kesimpulan penyebab utama masih menjadi bagian dari proses pendalaman.












