Bisnis & Ekonomi

Otto Toto Sugiri, “Bill Gates” Indonesia Masuk Top 10 Orang Terkaya RI: Ini Profilnya

×

Otto Toto Sugiri, “Bill Gates” Indonesia Masuk Top 10 Orang Terkaya RI: Ini Profilnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: "Bill Gates" Indonesia Masuk Daftar 10 Orang Terkaya Tanah Air, Ini Profilnya

jurnalistik.co.id – Otto Toto Sugiri kembali masuk daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes per 14 Juli 2026. Ia menempati peringkat ketujuh dengan kekayaan bersih senilai 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 144,5 triliun.

Dalam pemeringkatan global, Otto berada di posisi ke-460 dari daftar orang terkaya dunia. Nama pengusaha teknologi ini juga kerap muncul dengan julukan “Bill Gates” Indonesia.

Julukan itu melekat karena kiprahnya yang panjang di industri teknologi. Perjalanan Otto dinilai beririsan dengan dua tonggak besar: membangun penyedia internet pada masa awal internet mulai dikenal luas, serta merintis pusat data berstandar tinggi yang pertama di wilayah Asia Tenggara.

Kembali jadi sorotan Forbes

Forbes menempatkan Otto Toto Sugiri sebagai salah satu figur yang tetap konsisten di ranah bisnis teknologi. Pada daftar kali ini, posisi peringkatnya berada tepat di tengah persaingan para konglomerat dalam negeri.

Dengan nilai kekayaan bersih 8 miliar dollar AS, Otto juga memperlihatkan bahwa portofolio investasinya masih bertumpu pada sektor yang terus berkembang. Kendati begitu, perusahaan yang dikelolanya membawa karakter bisnis yang berbeda dari industri konvensional.

Profil Otto Toto Sugiri

Otto merupakan co-founder sekaligus direktur PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Perusahaan tersebut dikenal sebagai pengelola pusat data (data center) yang menjadi fondasi dari sebagian besar kekayaannya.

Untuk memahami bagaimana Otto membangun posisinya, rujukan awalnya berawal dari pendidikan teknik. Ia menyelesaikan Master of Science in Engineering di RWTH Aachen University, Jerman, pada 1980.

Setelah kembali ke Indonesia, Otto mulai merintis proyek perangkat lunak lokal. Ia mengembangkan program untuk perusahaan minyak serta pengerjaan kebutuhan pengelolaan pencairan pinjaman nelayan di Papua.

Dari perangkat lunak ke perbankan

Pada tahun 1983, Otto bergabung dengan Bank Bali untuk mengembangkan perangkat lunak akuntansi. Fokusnya pada efisiensi proses operasional perbankan menjadi bekal penting sebelum ia membangun usaha sendiri.

Enam tahun kemudian, Otto mendirikan Sigma Cipta Caraka pada 1989 bersama enam mantan rekan kerja di Bank Bali. Salah satu nama yang ikut berada di lingkaran awal itu adalah Marina Budiman.

Modal awal perusahaan tersebut tercatat 200.000 dollar AS. Sigma Cipta Caraka kemudian berkembang cepat ketika momentum deregulasi mendorong perubahan lanskap perbankan di Indonesia.

Dereglasi tersebut berdampak pada peningkatan jumlah bank yang semula relatif lebih kecil menjadi 240 bank. Otto memanfaatkan dinamika itu untuk memperkuat bisnis perangkat lunaknya di sektor keuangan.

Jejak Telkomsigma dan platform Indonet

Perusahaan Sigma Cipta Caraka pada akhirnya diakuisisi Telkom Indonesia pada 2008 senilai 35 juta dollar AS. Setelah transaksi itu, bisnisnya dikenal dengan nama Telkomsigma.

Salah satu capaian yang menonjol dalam karier Otto adalah pendirian Indointernet (Indonet) pada 1994 bersama Marina Budiman. Saat itu, Indonet disebut sebagai layanan penyedia internet (ISP) pertama di Indonesia.

Indonet memberi akses bagi masyarakat untuk menjelajahi internet pada fase awal. Perusahaan tersebut kemudian melantai di bursa saham pada 2021.

Setahun lebih belakangan, tepatnya pada 2023, Otto dan para pendiri lain menjual kepemilikan saham mereka kepada Digital Edge, perusahaan asal Singapura. Langkah tersebut menandai transisi berikutnya dalam fase perjalanan bisnis Otto.

Membangun kerajaan pusat data

Setelah penjualan Sigma Cipta Caraka, Otto sempat mempertimbangkan untuk pensiun. Namun, arah kebijakan pemerintah yang mendorong pemanfaatan pusat data di dalam negeri membuka peluang baru bagi dirinya.

Pada 2011, Otto bersama sejumlah rekan, termasuk Marina Budiman dan Han Arming Hanafia, mendirikan PT DCI Indonesia (DCII). Seiring waktu, DCII berkembang hingga menjadi salah satu operator pusat data terbesar di Indonesia.

Langkah strategis Otto berikutnya muncul pada 2014 ketika ia mengupayakan sertifikasi Tier IV untuk DCII. Upaya tersebut membawa DCII menjadi pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara.

Di bawah standar tersebut, pusat data DCII memiliki tiga lokasi utama, yakni di Cibitung, Karawang, dan Jakarta. Dengan demikian, perjalanan Otto tidak berhenti pada bisnis perangkat lunak, melainkan merambah infrastruktur inti yang mendukung ekosistem digital.

Rentang waktu panjang yang dijalaninya—mulai dari pengembangan perangkat lunak, pendirian layanan internet, hingga penguatan pusat data berkelas Tier IV—membentuk profil yang menjelaskan mengapa ia terus disebut “Bill Gates” Indonesia. Forbes pun menegaskan posisi itu lewat pencapaiannya pada daftar 10 orang terkaya versi mereka.