Teknologi

Investasi AI besar-besaran, karyawan justru dipangkas

1
×

Investasi AI besar-besaran, karyawan justru dipangkas

Sebarkan artikel ini
Perusahaan Jor-joran Investasi AI, Karyawan Malah Dipangkas Tekno 7 Juni 2026
Ilustrasi: Perusahaan Jor-joran Investasi AI, Karyawan Malah Dipangkas

jurnalistik.co.id – Kecerdasan buatan terus berkembang pesat, tetapi laju kemajuan itu tidak selalu diikuti oleh nasib yang sejalan bagi pekerja. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah perusahaan teknologi memilih merumahkan karyawan sambil mengalihkan sumber daya ke investasi AI, baik untuk mengembangkan sistem kecerdasan buatan maupun membangun infrastruktur pendukung seperti pusat data.

Lonjakan belanja untuk AI juga tampak dari angka yang disebut melibatkan skala sangat besar. Amazon disebut menggelontorkan sekitar Rp 211 triliun untuk pusat data AI di Australia pada 2025, lalu kembali berkomitmen berinvestasi ke OpenAI senilai 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp 840 triliun pada awal 2026. Meta bahkan dikabarkan lebih agresif dengan komitmen investasi AI lebih dari 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.764 triliun tahun ini, dengan total belanja modal yang diperkirakan bisa menembus Rp 2.557 triliun.

Di tengah guyuran dana tersebut, perubahan struktur tenaga kerja justru terlihat menonjol. Gelombang pemangkasan muncul di berbagai perusahaan dengan narasi yang umumnya mengarah pada transformasi bisnis atau restrukturisasi, namun polanya dinilai serupa: karyawan dikorbankan untuk menutup biaya investasi AI atau peran mereka digantikan oleh mesin.

Salah satu contoh yang disebut adalah Meta. Perusahaan merumahkan 8.000 karyawan pada 20 Mei 2026, yang disebut setara 10 persen dari total tenaga kerjanya. Sebelumnya, 7.000 karyawan lebih dulu dipindahkan ke proyek AI baru, sebelum langkah pemangkasan kembali dilakukan.

Oracle juga disebut melakukan pemotongan tenaga kerja dalam skala besar. Perusahaan memecat 30.000 karyawan atau 18 persen dari total pegawai globalnya pada awal April 2026, dengan alasan efisiensi untuk memfokuskan sumber daya pada AI dan infrastruktur pusat data. Pada periode yang sama, Amazon juga disebut memangkas 16.000 karyawan pada awal 2026, menyusul pemecatan 14.000 karyawan pada Oktober 2025. CEO Amazon, Andy Jassy, menyebut AI akan membuat perusahaan membutuhkan lebih sedikit orang untuk jenis pekerjaan tertentu.

Di sisi lain, Cisco memotong 4.000 karyawan pada Mei 2026. CEO Cisco, Chuck Robbins, menegaskan langkah tersebut untuk memfokuskan investasi pada AI, dengan proyeksi pesanan infrastruktur AI yang dinaikkan menjadi 9 miliar dolar AS. Block juga disebut terdampak, ketika perusahaan memecat lebih dari 4.000 karyawan atau sekitar 40 persen dari total pegawainya pada Februari 2026, dan CEO Jack Dorsey menyatakan tim yang lebih kecil dengan alat AI dapat mengerjakan lebih banyak hal dengan lebih baik.

Restrukturisasi juga tercermin pada perusahaan lain. Coinbase disebut memberhentikan 700 karyawan pada awal Mei 2026, dengan alasan pasar kripto yang lesu serta kebutuhan struktur biaya yang lebih efisien melalui AI. Atlassian disebut memangkas 1.600 karyawan pada Maret 2026 untuk memperbaiki profil keuangan dan menyesuaikan strategi kerja di era AI. Sementara itu, Microsoft menawarkan pensiun dini kepada 8.750 karyawan AS pada akhir April 2026, pertama kali dalam 51 tahun sejarah perusahaan, sebagai strategi mengamankan arus kas di tengah lonjakan pengeluaran untuk pusat data.

AI sebagai kambing hitam atau bagian dari restrukturisasi

Meski perusahaan kerap menyampaikan alasan efisiensi dan penyesuaian strategi, terdapat penilaian berbeda dari pihak yang menilai situasinya tidak sesederhana yang terlihat. Chief AI Officer Cognizant, Babak Hodjat, menyebut AI kerap dijadikan kambing hitam dalam restrukturisasi perusahaan. Pernyataan tersebut menempatkan AI bukan semata penyebab tunggal, melainkan juga sebagai penjelasan yang digunakan dalam perubahan yang melibatkan tenaga kerja.

Dengan deretan langkah pemangkasan yang disebut meliputi Meta, Oracle, Amazon, Cisco, Block, Coinbase, Atlassian, hingga Microsoft, fokus pada investasi AI tetap bergulir. Namun, biaya implementasinya—berdasarkan contoh-contoh yang diuraikan—pada akhirnya terlihat dibayar melalui PHK massal dan pengurangan posisi, sementara perusahaan menyebut investasi pada AI serta infrastruktur pusat data menjadi bagian dari arah strategis mereka.