jurnalistik.co.id – Kepolisian di berbagai wilayah kini memanfaatkan podcast untuk mendekatkan kasus yang belum terpecahkan kepada publik. Langkah itu diharapkan mampu memancing petunjuk baru dari orang-orang yang mungkin selama ini tidak mengikuti perkembangan kasus.
Di Colorado, misalnya, penyelidikan terhadap pembunuhan Chelsea Yasser memasuki babak baru setelah Aurora Police Department (APD) merilis podcast khusus musim panas ini. Yasser, 21 tahun, ditemukan tewas setelah mengalami tusukan fatal di sebuah area parkir pusat perbelanjaan pada 2016.
Kasus tersebut kerap disebut “White Whale” oleh tim pembuat podcast, mengacu pada sesuatu yang lama menghantui penyidik. Harapannya sederhana: semakin banyak pendengar, semakin besar peluang ada informasi yang selama ini luput dari jangkauan aparat.
Joe Moylan, pejabat informasi publik APD, mengatakan podcast dipilih karena minat publik terhadap konten true crime terus berkembang. Ia menyebut pendekatan ini juga dirancang untuk menyasar audiens yang lebih luas, bukan hanya mereka yang aktif mengikuti berita kriminal.
Dalam narasi penyelidikan yang dipublikasikan, pembunuhan Yasser digambarkan terjadi setelah korban masuk ke minivan yang berhenti di lokasi parkir. Beberapa saat setelah meninggalkan kendaraan itu, Yasser roboh dan kemudian meninggal.
Keterangan yang tersisa bagi penyidik pada awalnya juga tidak mudah. Rekaman pengawasan menunjukkan momen kekerasan, tetapi kualitas gambar terlalu buram untuk mengidentifikasi wajah pelaku, sementara DNA yang ditemukan di bawah kuku korban tidak cocok dengan siapa pun yang ada dalam basis data.
Podcast itu dirilis pada bulan Juni, dan pada fase yang sama penyidik menyatakan mereka sedang menguji ulang DNA menggunakan teknologi forensik berbasis genealogical yang lebih baru. Program ini juga memperbarui pendengar mengenai jalur pemeriksaan lain yang muncul setelah proses pengujian berlangsung.
APD sebelumnya sudah berkali-kali membuka permintaan informasi terkait kasus Yasser. Namun Moylan menilai podcast dapat memperluas jangkauan karena tidak semua orang menonton laporan berita pada malam kejadian atau membaca surat kabar yang memuat informasi kasus.
Menurut Moylan, jika dugaan pelaku masih hidup dan berada di luar sana, ia bisa saja berada di mana pun di negara tersebut. “Jika Anda tidak menonton berita saat kejadian atau tidak membaca koran, Anda mungkin tidak tahu apa pun tentang perkara ini,” ujarnya, sambil menekankan tujuan menarik petunjuk dari orang-orang yang sebelumnya tidak terpapar.
Hingga akhir Juli, APD melaporkan podcast telah diunduh sebanyak 7.184 kali. Dari unduhan itu, penyidik mengantongi sejumlah petunjuk, termasuk satu informasi yang masih terus dikejar dalam proses penyelidikan.
Pola serupa juga terlihat di kasus-kasus lain yang pernah dibawa ke telinga publik melalui podcast polisi. Di California, Newport Beach Police Department membuat podcast mengenai pelarian Peter Chadwick, yang dituduh membunuh istrinya.
Chadwick sempat berada dalam kondisi buron hampir empat tahun ketika polisi di California meluncurkan podcast tentang kejahatan tersebut. Ia akhirnya ditangkap di Meksiko 10 bulan dan 20 hari setelah podcast berjalan, sementara kasusnya sendiri sudah berjalan selama itu.
Pada saat yang hampir bersamaan, kepolisian di Illinois mendebutkan episode pertama podcast untuk perkara dingin Karen Schepers. Schepers telah hilang lebih dari empat dekade, dan tubuhnya baru ditemukan di dasar sungai dalam hitungan minggu setelah penemuan tersebut.
Dalam pembahasan tren ini, sejumlah pakar menilai manfaat podcast terletak pada kemampuan kepolisian mengarahkan informasi secara lebih terukur. Michael Alcazar, mantan detektif NYPD yang kini mengajar sebagai adjunct professor di John Jay College of Criminal Justice, menyebut konten true crime memang bisa memuat informasi yang keliru.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dengan model podcast dari pihak aparat, kontrol narasi dan pencarian petunjuk dapat berada di tangan polisi. Menurutnya, tujuan utamanya bukan sekadar menghibur, melainkan membuka kemungkinan masuknya informasi baru.
Di sisi lain, Alyce McGovern, dosen asosiasi bidang kriminologi di University of New South Wales, menggarisbawahi bahwa podcast yang diproduksi kantor polisi dan secara khusus menyorot perkara dingin masih relatif jarang. Ia membandingkan formatnya dengan podcast populer yang memikat publik, seperti Serial, namun menekankan bahwa pengemasan kasus dingin dan ajakan tip justru membuat pendekatan ini berbeda.
Berita Terkait
Kendati demikian, podcast polisi tidak selalu bebas kontroversi. Dalam kasus Chadwick, podcast yang memperkenalkan tersangka pada episode awal memicu kritik karena penggunaan kata-kata yang dianggap mengaburkan batas antara dugaan dan putusan pengadilan.
Dalam episode pertama, Chadwick disebut sebagai “pria yang membunuh istrinya” di komunitas pesisir Newport Beach pada Oktober 2012, tanpa menggunakan istilah “diduga.” Ia memang pernah didakwa dan mengaku tidak bersalah, tetapi belum pernah diadili ketika podcast tersebut tayang.
Pembuat dan pengisi suara podcast itu adalah pejabat informasi publik Jennifer Manzella. Ia kemudian menjelaskan kepada BBC News bahwa pilihannya bertujuan menyeimbangkan cara bercerita agar menarik tanpa mengganggu proses penyelidikan.
Setelah Chadwick ditangkap pada Agustus 2019, ia mengaku bersalah atas pembunuhan tingkat dua dan dijatuhi hukuman 15 tahun sampai seumur hidup. Ia hingga kini tetap berada di penjara untuk menjalani putusan tersebut.
Manzella menyatakan bahwa penangkapan Chadwick bukanlah hasil tip langsung dari podcast. Namun ia menilai podcast tetap membantu, karena memberi tekanan saat tersangka masih buron sehingga meningkatkan kemungkinan ia melakukan kesalahan.
Ia juga mengatakan kepolisian dapat mengurus surat perintah dan proses ekstradisi lebih cepat karena kesadaran publik yang meningkat. Podcast itu bahkan sempat menempati peringkat ke-24 dalam tangga lagu iTunes.
Di Illinois, Detektif Andrew Houghton—yang kemudian menjadi pengisi bersama podcast—awalnya tidak terlalu tertarik pada ide produksi podcast. Ia dan rekan kerja di Elgin Police Department mendapati bahwa tugas tambahan itu terasa berat, apalagi ketika mereka sedang memulai unit penanganan perkara dingin pada 2024.
Namun seiring proses berjalan, mereka menemukan bahwa merancang episode ternyata membantu mereka menyusun ulang struktur penyelidikan. Mereka membangun beberapa teori mengenai apa yang terjadi pada Schepers yang saat itu hilang berusia 23 tahun, dan setiap teori berkembang menjadi alur episode.
Podcast itu tidak hanya membuka pintu petunjuk, tetapi juga memberi cara lain untuk menelusuri informasi. Tim Houghton mengaku mereka meninjau unggahan media sosial terkait program mereka sendiri, termasuk keterangan dari warga seperti pengetahuan lingkungan sekitar atau jejak pekerjaan keluarga yang mungkin relevan.
Meski strategi komunikasi modern dipakai, penyelesaian perkara akhirnya tetap mengandalkan kerja kepolisian yang bersifat konvensional. Salah satu teori menyebut bahwa Schepers mengalami kecelakaan mobil dan berakhir di sungai, sehingga mereka perlu memastikan proses pencarian di lokasi air berjalan sesuai dugaan.
Tim juga menemukan kliping surat kabar lokal dari tahun 1999 yang menyebut kepolisian pernah melakukan pencarian dengan helikopter sekaligus menarik sungai dengan bantuan alat, termasuk menyeret di Fox River. Namun tidak ada bukti bahwa penelusuran yang melibatkan penyeretan benar-benar terjadi, sehingga mereka memutuskan untuk menempuh pendekatan baru.
Elgin membawa perusahaan pencarian dengan teknologi sonar terbaru serta melibatkan penyelam untuk mencari titik yang lebih tepat. Pada Maret 2025, mereka menemukan Schepers dan mobilnya di dasar sungai, dan setelah itu mereka memasuki musim ketiga podcast.
Format episode sempat diubah pada musim kedua dengan fokus pada pembunuhan, tetapi kemudian kembali ke kasus orang hilang. Houghton mengakui bahwa produksi podcast memerlukan kerja yang besar, waktu, dan upaya yang tidak sedikit.
Meski begitu, ada kesepakatan bahwa podcast sebagai alat investigasi kemungkinan akan semakin sering terlihat. Janice Iwama, dosen asosiasi dari American University pada departemen keadilan, hukum, dan kriminologi, menilai pendekatan ini bisa membantu rekrutmen dan mempertahankan personel ketika organisasi mampu menyediakan sumber daya untuk menjadikannya berkelanjutan.
Menurutnya, pendengar juga mendapat kesempatan memahami bagaimana penegakan hukum sebenarnya bekerja, langsung dari keterangan para petugas yang menjalani pekerjaan itu. Sementara itu, Alcazar menambahkan bahwa faktor generasi turut mendorong tren, karena petugas yang lebih muda biasanya lebih nyaman memanfaatkan podcast dan media sosial.
Di tengah berbagai keterbatasan staf dan anggaran yang dialami banyak kepolisian, podcast tetap menjadi opsi yang semakin menarik. Tantangannya tetap ada, terutama pada risiko kesalahpahaman publik dan kekhawatiran mengenai dampak hukum, tetapi harapan akan petunjuk baru membuat banyak pihak bersedia mencoba.
Bagi keluarga korban dan penyidik yang sudah bertahun-tahun mengejar jawaban, satu unduhan, satu panggilan telepon, atau satu kesaksian yang lebih tepat sasaran dapat menjadi perbedaan besar. Itulah yang dikejar APD melalui podcast Yasser, sambil menunggu kemungkinan petunjuk yang akhirnya mengarah pada identitas pelaku.






